Pemberkatan Taman Doa Santa Perawan Maria di Fatima, Ngrawoh, Sragen

Pemberkatan 2

Ngrawoh (LENTERA) – Proses pembangunan Taman Doa Santa Perawan Maria di Fatima Ngrawoh, Paroki Sragen sudah mulai menampakkan hasilnya, sudah 45% dari keseluruhan bangunan yang sudah selesai, antara lain yaitu bangunan inti dari Taman Doa, seperti Kapel Adorasi St. Aloysius, Lingkaran tak berujung St. Perawan Maria di Fatima, dan Salib Milennium, serta beberapa stasi pemberhentian jalan salib.

Dan pada hari Sabtu (24/10) diadakan Ibadat Pemberkatan Taman Doa Ngrawoh oleh Vikjend Keuskupan Agung Semarang: Romo FX. Sukendar Wignyosumarto, Pr pada pukul 10.00 WIB. Ibadat pemberkatan dilaksanakan, setelah sebelumnya disampaikan informasi tentang sejarah dan proses pembangunan Taman Doa Santa Perawan Maria Di Fatima Ngrawoh serta makna simbolik di balik model bangunan.

Dalam Ibadat pemberkatan tersebut, Romo FX Sukendar, Vikaris Jendral KAS yang menggantikan tugas Bapak Uskup Mgr. J. Pujasumarta (yang saat itu sedang menjalani perawatan medis) untuk memberkati bangunan Kapel Adorasi St. Aloysius, Lingkaran tak berujung Bunda Maria, Salib Millennium, dan meletakkan batu pertama pembangunan Kapel didampingi oleh Romo Paroki Sragen, Romo Robertus Hardiyanta dan Romo FX. Suyamta Kirnasucitra,Pr

Ramah Tamah dengan Muspika
Sesudah Pemberkatan diadakan Acara Ramah Tamah Muspika dengan Romo Vikjen KAS, tamu undangan resmi hadir, Muspika (Camat, Kapolsek dan Koramil), perwakilan perangkat desa, warga sekitar, tukang bangunan, seniman pembuat patung dan ornamen. Dalam sambutannya, Romo Robertus Hardiyanta, Pr menyampaikan bahwa proses persiapan pembangunan selama 5 tahun dan proses pembangunan sendiri baru dilaksanakan 1 tahun setelah mendapatkan perizinan. Dalam penjelasan lebih lanjut, “Selain menjadi sarana peziarahan iman umat Katolik, Taman Doa, ini akan membawa berkah bagi warga masyarakat sekitar. Taman doa ini mengadaptasi kekhasan Fatima, Portugal, karenanya bentuknya bukan gua melainkan dalam bentuk taman. Semoga pada tahun 2017 yaitu 100 tahun penampakan Bunda Maria di Fatima taman doa ini sudah jadi, kebetulan bertepatan dengan HUT 60 tahun Paroki Sragen. Kita gunakan sisa waktu ini untuk menyelesaikan taman doa ini, dengan sebaik mungkin!”

Pada sambutannya, Romo FX. Sukendar menyampaikan bahwa keberadaan taman doa, bisa mendorong umat menyongsong Yubelium agung 2033, di mana umat diajak untuk mengenang dan merefleksikan perjalanan karya penyelamatan Allah, melalui diri Yesus Kristus, 2000 tahun lalu. Ada tiga fokus permenungannya, pertama meningkatkan mutu kehidupan seluruh umat manusia agar hidup sejahtera, kedua kehidupan yang bermartabat, dan ketiga, beriman dengan semangat martyria. Romo FX Sukendar menegaskan bahwa bangunan kapel St. Aloysius mengambil inspirasi seni dari zaman barok, yang ditandai dengan bentuk-bentuk bangunan berkubah.

Bapak Camat, Suharno, S.Sos, menyampaikan bahwa taman doa memberi warna nyata terwujudnya kerukunan hidup beragama di Kecamatan Gesi, karena tidak jauh dari taman doa terdapat bangunan baru prasarana diklat perkumpulan Nahdratul Ulama (NU) yang digunakan untuk pelatihan dan pengajian dan kegiatan doa-doa. “Manusia bisa masuk surga bukan karena lamanya hidup, melainkan karena perbuatan baik yang telah dilakukan. Kalau orang hidup dengan sesamanya saling bantu, rukun, saling menghormati maka jaminan masuk sorga!” Kata Bapak Suharno menegaskan. (Srie)