Hidup Bersama Sebagai keluarga Allah

20140617-112613

Tema Natal PGI dan KWI tahun 2015 “Hidup Bersama Sebagai Keluarga Allah”. Tema tersebut mengambil inspirasi dari Kitab Kejadian bab 9 ayat 16: “Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi.” Sekilas sepertinya tidak nyambung antara rumusan tema dan teks Kitab Suci yang diambil sebagai dasarnya. Namun konteks ayat tersebut adalah adanya harmoni alam semesta sebagai ciptaan Allah. Busur di awan adalah “pelangi” yang akan mengingatkan Allah akan penjanjian-Nya yang kekal antara Allah dan segala makhluk ciptaan-Nya. Apa isi perjanjian itu? Yakni bahwa Allah akan menyelamatkan umat-Nya dan segala makluk yang ada di bumi; tetapi manusia dan segala ciptaan-Nya juga harus menaati perintah Allah dan hidup sebagai “Keluarga Allah”.

Siapa yang dimaksud dengan “Keluarga Allah” itu tidaklah lain adalah semua ciptaan-Nya, terutama manusia. Tema tersebut diambil mengingat bahwa manusia tidak lagi menyadari jati dirinya sebagai ciptaan Allah dan menjadi keluarga Allah. Kehidupan umat manusia terkoyak oleh pertengkaran dan perselisihan, bahkan agama yang seharusnya menyadarkan manusia akan dirinya sebagai keluarga Allah dan mempersatukan umat manusia justru menjadi institusi yang memecah-belah umat manusia sebagai keluarga Allah. Permusuhan antar sesama manusia dengan mengatasnamakan agama adalah realitas yang kita alami hampir setiap hari. Matinya orang-orang tak bersalah akibat terorisme yang dilakukan atas nama agama dari waktu ke waktu bukannya surut melainkan justru makin meluas. Ada sekelompok manusia yang mengatasnamakan Allah dan bertindak membinasakan sesamanya. Seolah manusia tidak ingat bahwa dirinya diciptakan sebagai sesama, sebagai saudara dan sebagai keluarga.

Menyadari panggilan hidup sebagai keluarga Allah dalam kehidupan bersama orang lain adalah hal yang paling hakiki kalau kita ingin hidup damai dengan semua orang. Kesadaran itu harus dimulai dari orang-orang yang mengimani Allah, dan diperjuangkan oleh orang-orang yang mengalami kehadiran Allah dalam hidupnya. Natal adalah pengalaman iman akan kehadiran Allah dalam hidup umat manusia, dalam keluarga. Maka merayakan Natal berarti berdamai dengan semua orang, karena kita menyadari bahwa kita ini adalah keluarga Allah.

Dalam realitas hidup ini kita mengalami bahwa banyak orang tidak lagi peduli terhadap sesamanya dan lingkungan hidup sekitarnya sebagai tempat tinggal milik bersama. Peristwa pengrusakan taman bunga milik perorangan di Kabupaten Gunungkidul dengan menginjak-injak bunga yang hanya tumbuh dan muncul setahun sekali demi supaya orang dapat berfoto atau ber-“selfie”, sungguh menunjukkan bahwa orang tidak punya peradaban dan kecintaan terhadap lingkungan hidup. Hal yang lebih luas lagi adalah kebakaran hutan yang menjadi keprihatinan nasional sebelum datangnya musim penghujan beberapa waktu yang lalu, menunjukkan bahwa manusia seolah “bunuh diri” dengan merusak alam yang seharusnya dipelihara dan dilestarikan.

Kenyataannya memang tidak mudah menyadari diri, apalagi menyadarkan orang lain bahwa kita ini adalah satu keluarga Allah. Hidup kita sudah telanjur terkotak-kotakkan dengan adanya doktrin-doktrin yang fanatik dan merasa paling benar. Menganggap orang yang tidak seagama “kafir” sudah menjadi hal biasa yang dengar dalam kehidupan sehari-hari dan dalam media sosial di dunia internet.

Suatu hal yang masih dapat menyatukan umat manusia sebagai keluarga Allah adalah “kemanusiaan”. Tetapi apakah kita harus menunggu ada bencana besar sehingga orang tergerak memperhatikan sesamanya atas dasar kemanusiaan? Saya terkesan dengan ungkapan puitis seorang yang menamakan diri “wong samar” ketika Bapak Uskup Keuskupan Agung Semarang: Mgr. Johannes Maria Pujasumarta wafat. “Wong samar” itu menulis: “Tuhan datang ketika seorang uskup pergi” Pernyataan itu ditulisnya ketika melihat realitas bahwa orang datang berduyun-duyun untuk melayat, orang dari pelbagai agama dan lapisan masyarakat yang tidak melihat sekat agama. Orang tidak canggung lagi masuk gereja Katedral walaupun dia bukan orang katolik, demi menengok jenasah Bapak Uskup dan berdoa untuk beliau.

Kita teringat ketika gunung Merapi “nduwe gawe” tahun 2010 yang lalu. Begitu banyak korban erupsi Merapi itu, begitu banyak orang yang harus mengungsi. Tak ayal gereja-gereja pun menjadi tempat penampungan para pengungsi. Orang tidak lagi memandang agama untuk menolong sesamanya. Bantuan mengalir dari berbagai pihak atas nama kemanusiaan. Betapa indahnya “Keluarga Allah” itu terbangun ketika itu, tetapi haruskah terbangunnya “Keluarga Allah” itu menunggu adanya korban dan bencana?

Selain itu kiranya budaya masih bisa mempersatukan kita. Maka ketika budaya dirusak dengan diberi label tertentu lalu menjadi sesuatu yang ekslusif. Maka harus ada gerakan melawan. Misalnya kebiasaan memakai pakaian adat yang akhir-akhir ini dikalahkan dengan pakaian ala agama tertentu. Tari Bali yang akhir-akhir ini dibicarakan orang karena penarinya memakai atribut agama tertentu.

Apa yang bisa kita lakukan untuk “Hidup Bersama Sebagai Keluarga Allah” dalam hidup kita dengan orang lain? Kiranya tradisi-tradisi baik dalam hidup bermasyarakat kita masih cukup banyak. Bagaimanapun juga kalau ada kematian, bahkan sampai peringatan-peringatan kematian dari 40 hari hingga 1000 hari, selalu menjadi peristiwa kemanusiaan yang mempersatukan umat manusia dari berbagai lapisan masyarakat. Itu adalah kesempatan baik menyatakan kebersamaan sebagai keluarga Allah. Bagi kita, pastoral untuk keluarga yang sedang berduka perlu kita perhatikan. Pada waktu orang “dalam keadaan kosong” kita berkesempatan untuk mengisi dengan sesuatu yang dapat diterima oleh semua lapisan umat manusia, yakni ketika kita memposisikan diri sebagai ciptaan-Nya, yang mau tak mau tunduk pada keniscayaan yakni kematian. Begitu pula tradisi baik ketika orang melahirkan, syukur atas kelahiran menjadi peristiwa yang dapat mempersatukan orang. Di sinilah relevansi Natal bagi kita.

Semoga dengan merayakan Natal kita diingatkan kembali untuk hidup sebagai keluarga Allah dan kita dapat menangkap adanya peluang-peluang dalam kehidupan untuk dapat membangun keluarga Allah. Selamat menyongsong Hari Raya Natal. Berkah Dalem.

 

Rm. Robertus Hardiyanta, Pr

Pastor Paroki Sragen