Membangun Keluarga Allah Yang Nyata

keluargaaPelangi-pelangi, Alangkah indahmu, Merah kuning hijau, Di langit yang biru

Pelukismu agung, Siapa gerangan. Pelangi-pelangi ciptaan Tuhan

Sekilas, lagu ini tidak asing dan tampak sederhana. Jika kita mencoba mendalami hakekat yang ada dibalik lagu sederhana itu, kita akan mendapatkan nilai-nilai keagungan kasih Allah yang dicurahkan kepada manusia. Terlebih kalau kita kaitkan dengan renungan kita menyambut natal maka kita akan menemukan punctum-punctum kasih Allah yang nyata kepada manusia. Dalam permenungan kali ini, selain pelangi dipandang sebagai sebuah keindahan, pelangi juga merupakan simbol pengharapan Allah yang senantiasa dicurahkan kepada manusia.

PIJAKAN REFLEKSI
Tema Natal 2015 yang disusun Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) “Hidup Bersama sebagai Keluarga Allah”, melalui pesan Natal ini kita diajak untuk bersyukur atas kehadiran Sang Juruselamat dan merenungkan secara mendalam hakekat komunitas kasih yang sudah sejak awal dibangun oleh Allah. Hidup bersama sebagai Keluarga Allah mengandung pesan bahwa semua manusia adalah keluarga. Dalam konteks ini, pemahaman mengenai keluarga tidak hanya terbatas pada ayah, ibu dan anak, namun juga kebersamaan hidup dengan yang lain.

Kitab Kejadian menggambarkan bagimana Nuh menghayati panggilan untuk terlibat dalam membangun peradaban keluarga kasih Allah. Kisah diawali dengan situasi kerusakan peradaban hidup manusia karena perilaku mereka meninggalkan kasih Allah yang cenderung berbuat dosa dan merusak bumi. Allah berkehendak untuk memusnahkan bumi yang jauh dari peradaban kasihNya dan membangun tata kehidupan baru. Nuh dipanggil Allah untuk terlibat dalam membangun peradaban yang baru. Namun, jika direnungkan, ternyata panggilan keterlibatan ini tidak bersifat eksklusif. Nuh justru diperintahkan untuk menyertakan yang lain. Panggilan Nuh itu adalah panggilan atas nama keluarga dalam Allah. Bagaimana panggilan itu bisa disebut panggilan atas nama keluarga dalam Allah? Dalam perjanjianNya, Allah menyampaikan bahwa yang diminta untuk naik perahu adalah keluarga Nuh (Nuh-isteri dan anaknya), anak-anak Nuh dan isterinya. Tidak hanya itu, Nuh juga diminta untuk membawa segala makhluk yang hidup ke dalam perahu termasuk juga tumbuhan dan hewan. Yang lebih menarik lagi adalah bahwa semua hewan yang mesti dibawa pun tidak sendiri, tetapi sepasang (jantan dan betina), tujuannya agar semua menjadi lestari dan hidup bersama.

Pada akhir kisah panggilan keluarga Nuh, Allah menyuguhkan pralambang perjanjian yang menarik untuk direnungkan. “BusurKu Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi” (Kej 9 : 13). Busur ini kita kenal dengan sebutan pelangi. Bila dirotasikan 7 warna pelangi menghasilkan spectrum berwarna putih. Pelangi melambangkan keindahan. Dalam arti tertentu 7 warna pelangi menggambarkan keberagaman di dalam hidup. Di mata Allah, keberagaman bukan merupakan merupakan sumber permasalahan dan perilaku membeda-bedakan. Namun demikian, keberagaman adalah lambang dari keindahan, berbeda dengan keberagaman dianggap menjadi sumber permasalahan untuk bisa membangun keselarasan dan keindahan dalam hidup bersama. Melihat yang berbeda dari pandangannya sering dipandang sebagai sumber persoalan, masalah dan bahkan hingga sumber permusuhan. Sejak awal, Allah menciptakan keberagaman sebagai hal yang indah, saling melengkapi dan memberi warna. Dengan demikian semesta alam yang beragam dan indah ini merupakan kesatuan kasih dalam keluarga Allah.
PANGGILAN KETERLIBATAN KELUARGA KRISTIANI UNTUK MEMBANGUN KELUARGA ALLAH YANG NYATA
Kehadiran Yesus ke dunia terjadi karena kasih Allah. Karena kasihNya telah mengutus AnakNya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh kasihNya. Kasih Allah tersebut juga hadir dalam kebersamaan hidup di tengah dunia. Tidak hanya itu, kehadiran Yesus juga menjadi tanda bagaimana Allah mempersatukan seluruh semesta dalam keluarga Allah. Pertama, Yesus hadir di tengah-tengah kebersamaan keluarga Yusuf dan Maria. Kedua, warta kehadiranNya juga menyapa keluarga Elizabeth. Ketiga, kelahiran Yesus menyapa kawanan gembala yang tinggal di padang (sebuah kelompok orang yang tidak diperhitungkan dalam strata masyarakat). Keempat, kelahiran Yesus juga menghadirkan bala tentara surga yang memuji keagungan Allah. Kelima, tanda kelahiran Yesus dilambangkan dengan tanda-tanda alam (bintang). Seluruh alam semesta di surga dan bumi bersatu untuk menyambut Yesus ke dunia. Keluarga-keluarga kristiani, yang sebentar lagi merayakan natal, kiranya dalam hal ini diundang pula untuk dapat hadir dalam kesatuan keluarga Allah tersebut. Undangan ini menyiratkan bahwa kebersamaan hidup dalam keluarga kristiani ditandai dengan kehidupan kasih yang semakin mantap dalam semua relasi keluarga, baik kasih kepada Allah, kasih kepada anggota keluarga dan kasih kepada lingkungan keluarga besar dan juga masyarakat serta kepada alam sekitar. Lebih jauh lagi, keluarga-keluarga kristiani secara lebih nyata diajak untuk membangun komitmen dan berkehendaknyata untuk menciptakan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan.