Sikap Batin Dalam Menapaki Tahun Kerahiman Ilahi

Kerahiman Ilahi (The Way of Life) :
MisericodiaTahun kerahiman telah dibuka oleh Bapa Paus Fransiskus pada hari raya Bunda Maria dikandung tanpa noda, 8 Desember 2015, dan akan berakhir pada tanggal 20 November 2016, pada Hari Raya Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam, yang menghadirkan wajah kerahiman Allah. Peristiwa iman ini ditandai dengan pembukaan pintu suci Basilika St. Petrus. Paus Emeritus Benediktus XVI,menyerukan agar kita menggunakan kesempatan ini untuk memperoleh rahmat Allah yang dicurahkan lewat kerahiman Ilahi. Sungguh tepat jika pada kesempatan awal tahun ini kita bersama-sama merenungkan kerahiman Allah yang tiada batas itu, dan memohon rahmatNya untuk membangun sikap batin agar kerahiman Ilahi itu nyata dalam hidup harian kita. Hal ini sejalan dengan Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang dimana kita diajak untuk mewujudkan peradaban kasih ditengah-tengah masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman.

Bagaimana kita menyiapkan batin dalam menapaki tahun kerahiman? Pada kesempatan ini saya menawarkan beberapa hal yang bisa membantu permenungan kita.

1. BERSUKACITA
Dimulailah saat pengampunan yang besar. Itulah Yubileum Kerahiman. Itulah saat menemukan kembali kehadiran Allah dan kelembutan kebapakanNya.” Itulah alasan mengapa bersukacita. Seperti pada logo Tahun Suci kerahiman, yang menampilkan Yesus – Sang Gembala yang Baik memikul “pada bahunya jiwa yang hilang, menunjukkan bahwa itu adalah kasih Kristus yang membawa kepada pemenuhan misteri penjelmaan-Nya yang berpuncak dalam penebusan”. Dengan demikian sukacita ini membawa konsekuensi bagi kita yang akan melewati pintu suci untuk menjadi “peralatan kerahiman.” Kita telah menerima anugerah pengampunan yang tak berkesudahan, oleh Bapa yang penuh kelembutan, inilah kasih Allah yang nyata dalam diri kita sehingga tidak ada alasan untuk tidak bersyukur dan membagikan sukacita itu. Sebagai anak-anak Allah sekarang kita turut serta dalam hidup ilahi-Nya. Ini adalah sumber “kasih sempurna”. Inilah yang akan memampukan kita untuk mengasihi musuh-musuh kita. Yesus mengetahui bahwa tidak mungkinlah bagi kita untuk mengasihi musuh kita berdasarkan sumber daya manusiawi yang terpisah dari Allah. Kita hanya dapat dapat mengasihi seperti Yesus sendiri mengasihi, kalau kita menanggapi rahmat yang mengalir dari kematian dan kebangkitan-Nya. Semakin besar kita bertumbuh dalam kesatuan dengan Kristus, semakin besar pula kita akan mencerminkan “kasih sempurna”-Nya kepada setiap orang dalam kehidupan kita – baik musuh-musuh maupun kawan-kawan. Kasih Yesus yang “lebar” akan mengatasi kasih kita yang “sempit”. Hati-Nya yang lemah lembut akan mengalahkan hati kita yang keras. Sebagai akibatnya, kita akan mengalami sukacita besar ketika kita menyadari bahwa kita mengasihi orang-orang lain dengan cara yang melebihi kemampuan alami kita sendiri.

“Bermurah Hati Seperti Bapa”,“ sebagai undangan untuk mengikuti teladan Bapa yang murah hati yang meminta kita tidak menghakimi atau menghukum tetapi mengampuni serta memberi kasih dan pengampunan tanpa batas”.
2. TERBUKA
Meminjam istilah ARDAS KAS yang ke tujuh 2016-2020, inklusif, kita sebagai umat Allah diajak untuk terbuka, terbuka terhadap siapa saja yang berkehendak baik lintas batas, tanpa membedakan agama, suku, golongan, latarbelakang, terlebih terbuka terhadap rahmat Allah. Orang yang terbuka, menerima dan menghargai perbedaan, menghormati martabat pribadi sebagai citra Allah, menyadari dirinya belum sempurna, mau diisi dan dilengkapi oleh orang lain, terlebih oleh rahmat Allah sendiri yang menakjubkan. Rahmat Allah menggerakkan untuk mudah mengampuni, tidak menyimpan kesalahan orang lain, menyadari bahwa manusia bisa saja berbuat salah. Pengalaman dikasihi, diampuni oleh Allah menjadi dasar untuk mengasihi dan memaafkan sesama. Seperti halnya membuka pintu, membiarkan dimasuki dan di lalui oleh siapa saja yang lewat, ke tempat tujuan yang hendak dituju, yang akhirnya membawa keselamatan dan kebahagiaan.
3. DOA dan AMAL KASIH
Sebagai pengikut Kristus, kita meyakini untuk menjadi kudus tak ada cara lain kecuali mendekati yang Terkudus yaitu Yesus Kristus Sang Juru selamat. Caranya? Sangat mudah dan murah, tak perlu biaya. Dua hal diatas yakni sukacita dan terbuka sudah mendasari, tinggal kemauan dan kesetiaan. Misal: refleksi atau periksa batin, kunjungan Sakramen Mahakudus atau adorasi, rekoleksi, Ekaristi, mencintai sakramen tobat minimal setahun 4 kali tiap 3 bulan sekali. “Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan” (Kisah Para Rasul 3:19). Sedangkan amal kasih memerlukan ketulusan dan kemurahatian untuk berbagi, bukan karena berlebih melainkan peduli, belarasa, compation.

Kiranya tiga sikap batin tersebut di atas jika dipahami, diterima dan dilaksanakan dalam terang rahmat Allah, kerahiman Allah menjadi nyata dalam diri dan hidup harian kita. Amin. Semoga ya semoga. Tuhan memberkati.

 

Sr. Leoni SFS

Sragen, HR Kelahiran Sang Penebus