Akulah Garam dan Terang Dunia

 

Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Tanggal 10 Februari 2016 kita sudah memasuki masa Prapaskah dengan merayakan Rabu Abu. Tema Aksi Puasa Pembangunan tahun 2016: “Akulah Garam dan Terang Dunia”. Tema ini diinspirasi tema rekoleksi para imam menjelang Misa Krisma dan Pembaruan Janji Imamat tahun 2015. Sebagai bahan renungan saat itu diungkapkan oleh narasumber sinyalemen bahwa kehadiran Gereja tidak begitu dirasakan menggarami dan menerangi kehidupan luas. Gereja justru ikut dalam arus kehidupan dunia yang konsumeris, sehingga kehadiran Gereja di tengah dunia dirasakan tidak signifikan dan tidak relevan.

Sebagai tindak lanjut dari tema APP tahun 2015: “Iman Disertai Perbuatan Kasih Semakin Hidup”, melalui tema APP tahun 2016 ini kita diajak untuk semakin mewujudkan iman dengan menjadi garam dan terang dunia. Menjadi garam dan terang dunia berarti hidup kita sebagai orang beriman kristen diharapkan menghadirkan nilai-nilai hidup beriman kristen, yakni: cinta kasih, kesetiaan, kejujuran, kedisiplinan, persaudaraan sejati, kerendahan hati, kesabaran, kerelaan berbagi, gotong-royong, dll. serta memelihara keutuhan ciptaan dan merawat bumi sebagai rahim pangan dan sumber kehidupan bersama.

Dalam gagasan dasar APP 2016 dirujuk kehidupan Gereja perdana: Kis 2:41-17 dan Kis 4:32-37 sebagai acuan kehidupan Gereja yang menjadi garam dan terang: bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan, hidup dalam semangat solidaritas dan saling berbagi. Menjadi garam dan terang berarti hidup Gereja diharapkan menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk mengambil inisiatif, melakukan yang baik demi kebaikan bersama dan tidak tinggal diam menghadapi realitas hidup yang memprihatinkan.

Menjadi garam dan terang secara konkret berarti dengan tulus menolong sesama dan menjadi pelopor dalam mewujudkan kasih, sebagaimana diteladankan orang Samaria yang baik hati. Menjadi garam dan terang juga berarti menjadi pelopor dalam merawat dan memelihara bumi sebagai sumber kehidupan bersama; dan akhirnya menjadi garam dan terang berarti berani melawan tindak korupsi sebagai hal yang paling memprihatinkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Dalam Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang (RIKAS) 2016-2035 dinyatakan Visi KAS selama 20 tahun: “Terwujudnya peradaban kasih dalam masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman”. Kiranya tema APP tahun 2016 menjadi langkah awal untuk mewujudkan Visi tersebut. Kesadaran bahwa Gereja dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia harus senantiasa disuarakan kepada seluruh anggotanya dan senantiasa berusaha diwujudkan mulai dari lingkup hidup dalam keluarga, lingkungan dan masyarakat dalam skala kecil dan makin meluas.

Ketakutan akan adanya resistensi terhadap simbol-simbol dan ungkapan atau istilah-istilah kristiani dalam hidup bermasyarakat dapat dijembatani dengan menggunakan ungkapan-ungkapan yang inklusif, sebagaimana menjadi salah satu hal yang ingin dicapai dalam Arah Dasar KAS 2016-2020.

Sebagai contoh, penggunaan istilah “peradaban kasih” dirasa lebih inklusif daripada istilah “Kerajaan Allah”, istilah “damai sejahtera” dirasa lebih inklusif daripada “syaloom” yang sering dipakai oleh saudara-saudara Kristen Protestan. Istilah “persaudaraan sejati” lebih inklusif daripada istilah “communio”. Kita perlu menggunakan simbol-simbol yang lebih universal yang lebih bisa diterima dalam mengungkapkan visi dan misi kita, terutama dalam masyarakat yang plural. Gereja perdana memakai simbol “ikan” (Yunani: “ICHTUS”: Iesous Christos Theou Uios Soter – “Yesus Kristus Anak Allah Penyelamat”) yang lebih netral, sebelum Gereja akhirnya menggunakan simbol “salib” yang kelihatan lebih ekslusif. Dalam rangka Hari Pangan Sedunia kita bisa menciptakan simbol-simbol universal untuk melestarikan keutuhan ciptaan dan merawat bumi.

Akhirnya, menjadi garam dan terang harus menjadi sebuah gerakan atau aksi yang melibatkan atau merangkul semua pihak, terutama dalam gerakan-gerakan atas dasar kemanusiaan, perjuangan Hak-hak Azasi Manusia, perjuangan melawan ketidakadilan terhadap kaum tertindas, perjuangan melawan penyalah gunaan narkoba dan perjuangan melawan korupsi. Ketika ada “musuh bersama” terbukalah peluang untuk membangun kerjasama dengan pihak lain. Inilah kesempatan mewujudkan Gereja yang inklusif.

Semoga APP tahun 2016 menjadi awal terwujudnya cita-cita RIKAS: membangun peradaban kasih dan dimulainya gerakan mewujudkan ARDAS 2016-2020 dengan menjadi Gereja yang inklusif. Dengan begitu kita melaksanakan panggilan kita menjadi garam dan terang dunia. Berkah Dalem

Oleh: Romo Robertus Hardiyanta, Pr