Emansipasi Bukan Hanya Masalah Peran

 

Setiap bulan April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini. Kartini adalah tokoh pergerakan emansipasi kaum perempuan di Indonesia, khususnya di Jawa yang kemudian diikuti oleh beberapa perempuan lain di Indonesia seperti Tjut Nya Dien, Dewi Sartika, dll.

Dalam Kitab Suci peran para kaum perempuan cukup menonjol, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Secara khusus dalam Perjanjian Baru peran perempuan bahkan boleh dikatakan istimewa. Sejarah keselamatan umat manusia tidak lepas dari peran Maria yang menanggapi panggilan Allah untuk menjadi Ibunda Penebus: Yesus Kristus. Orang pertama yang ditampaki Yesus setelah peristiwa kebangkitan adalah Maria Magdalena. Dialah perempuan berkaliber rasul yang namanya dicemarkan karena diidentikkan dengan seorang pekerja wanita tuna susila, walaupun secara eksplisit tidak pernah jelas apakah dia benar-benar seorang wanita tuna susila. Dalam Gereja Perdana dan dalam perkembangan Gereja selanjutnya peran para kaum perempuan yang menopang para rasul dalam pewartaan Injil tidak bisa dibilang remeh. Sederetan nama perempuan tertulis di dalam Kisah Para Rasul, seperti Salome, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Lydia, Priskila dan masih banyak lainnya.

Berbicara tentang emansipasi terkadang pengertian cukup banyak orang tidaklah sama. Ada yang berpendapat bahwa emansipasi berarti bahwa segala hal yang dikerjakan laki-laki juga hendaknya dapat dikerjakan oleh perempuan. Maka dalam rangka Hari Kartini terkadang diekspose perempuan-perempuan “perkasa” sebagai sopir bus, operator alat berat, pemadam kebakaran, dll. Dalam hal profesi demikian juga, baik dalam soal bisnis, medis, jabatan pemerintahan maupun dalam dalam banyak profesi lainnya, sampai-sampai dalam peran hidup sehari-hari dan dalam peran kehidupan rohani.

Secara hakiki, emansipasi terlebih adalah perjuangan untuk menghargai martabat manusia: hak-haknya secara azasi dan hak-haknya di hadapan hukum; sedangkan dalam hal-hal tertentu tentu ada peran kaum laki-laki maupun perempuan yang memang tak tergantikan. Maka soal emansipasi sebenarnya bukan hanya masalah peran, tetapi masalah martabat hidup yang sama dengan kaum laki-laki di hadapan Allah, dalam hal hak azasi serta hak-hak kaum perempuan di hadapan hukum.

Soal peran adalah soal yang berkaitan dengan historisitas dan budaya tertentu. Sebagai contoh, dalam Gereja Katolik sendiri peran Paus, Uskup maupun Imam selalu diperankan oleh kaum laki-laki. Itu berkaitan dengan historisitas, dan tidak bisa dikatakan begitu saja bahwa Gereja Katolik tidak menghargai perempuan. Jadi tidak bisa semena-mena demi emansipasi harus ada imam perempuan dalam Gereja Katolik.

Akhir-akhir ini dalam rangka perayaan Tri Hari Suci Paskah cukup ramai dibicarakan tentang peran “rasul” yang dibasuh kakinya dalam liturgi Kamis Putih. Paus Fransiskus pada tahun 2015 yang lalu cukup menghebohkan dengan membasuh kaki seorang tahanan perempuan yang beragama Islam. Tahun 2016 ini pun begitu juga. Namun hal itu dilakukan oleh Paus “di luar konteks liturgi resmi” dan dalam rangka menunjukkan penghargaan terhadap perempuan yang martabatnya sama sebagai ciptaan Allah, apapun agamanya. Jadi tidak bisa disimpulkan bahwa: ‘Oh….. kalau begitu sekarang peran “rasul” dalam liturgi Kamis Putih bisa serta-merta digantikan kaum perempuan’.

Perlu diingat bahwa dalam kehidupan, terutama dalam kehidupan beriman, tentang hak seseorang pun terkadang dilepaskan demi sesuatu yang diyakini sebagai hal yang lebih bernilai. Istilah Injilnya: “Demi Kerajaan Surga”. Misalnya hak untuk menikah, hak untuk mendapatkan warisan dan hak untuk mendapatkan jaminan kehidupan yang layak. Walaupun setiap orang termasuk kaum perempuan berhak atas kehidupan yang layak, namun ‘demi Kerajaan Surga’ orang justru rela hidup miskin atau menjadi miskin.

Demikian pula dalam soal peran. Dalam Gereja pemimpin tertinggi justru adalah hamba dari setiap orang. Maka sudah sepantasnya kalau Paus menunjukkan peran itu dalam sikapnya yang melayani, tidak memandang apapun agamanya, sebagaimana Yesus sendiri yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani (Mat 20:28). Maka peran ‘hamba’ atau ‘pelayan’ tidak menurunkan martabatnya sebagai citra Allah, justru sebaliknya.

Maka ketika kita berbicara soal emansipasi, kita harus selalu berpangkal pada hakekat martabat manusia ketimbang soal peran. Kalau peran itu memang tak tergantikan dan bergantung pada gender tertentu, secara hakiki memang tidak bisa digantikan. Imamat khusus dalam Gereja itu berpangkal dari imamat Yesus Kristus yang secara gender terlahir sebagai laki-laki. Maka memang tidak serta merta bila bicara masalah emansipasi lalu menyimpulkan bahwa Gereja tidak melaksanakan emansipasi. Jadi soal emansipasi tidak hanya dipandang dari ‘kulit luarnya’ saja, tetapi harus sampai pada hakekatnya. Selamat menyongsong Hari Kartini.

Robertus Hardiyanta, Pr

Pastor Paroki Sragen