LITURGI: Perayaan Kerahiman Allah

 

Saat menghayati rutinitas kehidupan dan acara harian ini, kita sering dikagetkan oleh berita-berita tidak enak yang terjadi di masyarakat kita: kasus-kasus pembunuhan, terorisme, penganiayaan, kematian karena minum oplosan, tertangkapnya bandar-bandar narkoba, korupsi, serta macam-macam kejahatan lainnya. Kita mungkin mengelus dada dan merasa prihatin, mengapa orang begitu mudah mencabut nyawa sesamanya, mengapa orang suka mencari jalan pintas untuk memperkaya diri. Orang dapat ikut-ikutan mengutuk para pelaku kejahatan itu, entah melalui obrolan dengan teman atau lewat komentar media-sosial yang begitu banyak tersedia. Tetapi, apakah kita orang-orang katolik akan ikut-ikutan mengutuk seperti itu? Jawabnya: Jangan! Marilah kita mengikuti teladan dan ajaran Paus Fransiskus yang telah menetapkan Tahun Yubelium Kerahiman Allah yang dimulai pada Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Noda (8 Desember 2015) dan berakhir pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam (20 November 2016) nanti. Artinya, marilah kita merenungkan dan menghidupi anugerah kerahiman Allah yang di nyatakan melalui Kristus, dan kita pun di utus menjadi orang-orang yang penuh belas kasih dan kerahiman pula kepada sesama.

Karena konteks tahun kerahiman Allah inilah, Bulan Katekese Liturgi (BKL) tahun 2016 ini diberi tema: LITURGI – Perayaan Kerahiman Allah. Sepintas tema ini seolah sekedar menyesuaikan dengan Tahun Yubelium Kerahiman Allah, tetapi sesungguhnya tema ini juga merangkum sekaligus gema Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang (ARDAS KAS) tahun 2016-2020, dan hajatan Kongres Ekaristi Keuskupan (KEK) III KAS yang diadakan pada akhir Mei hingga minggu ke-3 bulan Juni 2016 ini. ARDAS KAS yang baru mengajak kita semua membangun peradaban kasih yang inklusif, inovatif, dan transformative, dan peradaban kasih tersebut tidak lain adalah kasih yang berpuncak pada kerahiman Allah sendiri. Sementara, tema KEK III KAS, yang berbunyi EKARISTI – SAKRAMEN CINTA KASIH. “Kamu harus memberi mereka makan!” (Luk. 9:13), akhirnya juga berfokus pada makna Ekaristi sebagai perayaan puncak kerahiman Allah sendiri.Selain tema-tema ARDAS KAS dan KEK III KAS yang dibalut dalam kerangka Tahun Kerahiman Allah ini, BKL 2016 juga melanjutkan pembahasan

Konstitusi Liturgi atau Sacrosanctum Concilium (SC) dari hasil Konsili Vatikan II, untuk artikel 102 hingga 130 tentang Tahun Liturgi, Musik Liturgi, Kesenian Religius, dan Perlengkapan Ibadat. Dengan pembahasan hingga artikel terakhir dari Konstitusi Liturgi ini, selesailah sudah rangkaian ulasan dokumen Sacrosanctum Conciliumpada BKL sejak tahun 2013 lalu.

Kita pantas bersyukur sebab BKL di KAS sekarang ini sudah memasuki tahun ke-17, setelah BKL ditetapkan pada setiap bulan Mei sejak tahun 1999. Namun kita juga tahu bahwa Gereja Katolik di seluruh Indonesia mengadakan Bulan Liturgi Nasional pada bulan Mei pula, tentu dengan tema tersendiri. Umat beriman di KAS tentu saja boleh menggunakan bahan dari Komisi Liturgi KWI. Hanya saja, tetap diharapkan bahwa umat beriman di KAS bisa secara teratur dan setiap hari merenungkan tema BKL 2016 LITURGI – Perayaan Kerahiman Allah seperti di tawarkan di buku ini. Renungan BKL ini juga boleh diperdalam lagi pada bulan Oktober atau bulan rosario.

Renungan harian yang ditawarkan merupakan bahan renungan yang dapat dibaca secara pribadi atau dibacakan dalam acara doa bersama, khususnya doa rosario keluarga atau lingkungan. Diharapkan pula, seluruh keluarga berkumpul bersama setiap malam untuk berdoa rosario dan merenungkan bahan BKL ini, agar hidup seluruh anggota keluarga sungguh dikuatkan oleh perayaan liturgi, khususnya Ekaristi – pusat seluruh perayaan liturgi!– pusat seluruh perayaan liturgi!

*** Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang ***