Kongres Ekaristi III Keuskupan Agung Semarang

Kongres Ekaristi III Keuskupan Agung Semarang dilaksanakan pada bulan Mei dan Juni 2016, di empat kevikepan yang akan dipusatkan di kevikevan Surakarta.

Mengapa menggunakan istilah kongres? Kongres, berasal dari bahasa Latin “congredior-congressus sum”. Istilah tersebut merupakan gabungan dari kata “cum” – “gradior” (gradior-gressus sum) : artinya melangkah, berjalan, pergi, maju bergerak; dengan demikian “congredior” artinya: maju bergerak bersama untuk berhimpun. Dalam kata itu, terkandung adanya gerakan bersama untuk berhimpun. Ekaristi: berasal dari bahasa Yunani ?????????, artinya bersyukur dan berterima kasih. Dengan pengertian tersebut Kongres Ekaristi kita artikan sebagai peristiwa umat bergerak bersama untuk berhimpun dengan tujuan bersyukur dan berterimakasih atas Allah yang telah mengasihi manusia dan seluruh dunia, yang ditandakan dalam pemberikan diri Putera-Nya Yesus Kristus agar manusia dan seluruh dunia diselamatkan.

Kongres Ekaristi di Keuskupan Agung Semarang dilatarbelakangi dua Faktor. Pertama faktor internal: dinamika hidup rohani umat Katolik Keuskupan Agung Semarang yang semakin menampakkan kasihnya kepada Tuhan Yesus yang selalu memberikan diri-Nya dalam perayaan Ekaristi, yang selalu hadir dalam Sakramen Mahakudus. Pada tahun 2007, devosi Adorasi Ekaristi Abadi yang dilakukan selama 24 jam dalam tujuh hari, dimulai. Faktor eksternal: diselenggarakannya Kongres Ekaristi Internasional ke-49 di Quebeq Canada pada tanggal 15-22 Juni 2008. Kongres Ekaristi Internasional ini dilakukan empat tahun sekali. Dua hal ini yang memberi inspirasi untuk Keuskupan Agung Semarang untuk melaksanakan Kongres Ekaristi.

Kongres Ekaristi Keuskupan III Keuskupan Agung Semarang akan mengolah tema EKARISTI: SAKRAMEN CINTA KASIH “Kamu harus memberi mereka makan” (Luk 9:13). Tema tersebut sangat cocok dengan upaya bersama mewujudkan Gereja KAS sebagai Gereja Papa Miskin, yang berupaya meningkatkan mutu kehidupan umat.

Gambar utama logo ini adalah lingkaran besar yang dipecah menjadi 4 warna, yaitu hijau, merah, ungu, dan putih. Pemecah lingkaran itu adalah sebuah salib sekaligus menjadi pusat lingkaran. Yesus adalah pusat: “Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan”(Kol 1:27) yang merupakan tema Kongres Ekaristi Internasional ke 51di Cebu, Filipina tanggal 25 – 31 Januari 2016. Kesadaran inilah yang senantiasa dihidupi oleh Gereja melalui Liturgi Suci, khususnya Ekaristi. Ekaristi menjadi perayaan iman seluruh Gereja atas peristiwa keselamatan Allah yang terlaksana melalui Yesus Kristus dalam Roh

Terdapat gambar garis-garis dinamis yang membentuk sosok dua orang. Sosok yang satu berwarna putih. Sosok ini demikian menyatu dengan lingkaran utama, bahkan terkesan sedang memeluk lingkaran itu. Di sini hendak digambarkan kecintaan umat akan Ekaristi. Sementara tangan lainnya tampak mengangkat sosok lain yang berukuran lebih kecil. Sosok kecil ini terlilit oleh lingkaran-lingkaran.Sosok kecil ini adalah penggambaran mereka yang lemah, miskin, tersingkir, dan difabel. Sebuah lingkaran yang seolah takpernah putus dan terus melilit.

Dengan memeluk dan mencintai Ekaristi, umat justru diajak untuk bergerak keluar dari dirinya sendiri. Dengan mencintai Ekaristi, muncul sebuah kesadaran bahwa Kristus sendirilah yang mengumpulkan Gereja-Nya sedemikian rupa, sehingga bersama dengan-Nya, Gereja menjadi satu tubuh dan satu roh. Dengan mencintai Ekaristi yang diterangi iman dan kasih, kita akan dipersatukan dengan Kristus dan satu sama lain. Dengan demikian, terpupuklah rasa cinta yang dalam akan mereka yang miskin dan tersingkir (bdk. RS art. 5). Ekaristi memberi daya dorong untuk terlibat dalam kehidupan yang konkret, terutama mengangkat KLMTD.

Tulisan “EKARISTI: SAKRAMEN CINTAKASIH’ mengungkapkan makna Ekaristi sebagai “karunia pemberian diri Yesus Kristus, yang mengungkapkan kepada kita kasih Allah yang tak terbatas kepada setiap orang” (SCar 1), siapapun itu. Istilah “Sakramen Cintakasih” merupakan terjemahan dari kata Sacramentum Caritatis yang berasal dari tulisan Santo Thomas Aquinas, dan digunakan sebagai nama Anjuran Apostolik Paus Benediktus XVI, tentang Ekaristi sebagai Sumber dan Puncak Kehidupan serta Perutusan Gereja, tanggal 22 Februari 2007. Dokumen ini akan menjadi sumber dan bahan pokok bagi inspirasi dan pembelajaran dalam pra-KEK III, selama, dan pasca- KEK III.

Adapun tulisan “Kamu harus memberi mereka makan” merupakan kutipan dari teks Lukas 9:13 yang menjadi bagian dari Injil yang dibacakan pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, tanggal 28-29 Mei 2016, saat KEK III KAS dibuka secara resmi. Perintah Tuhan Yesus kepada para murid untuk memberi makan kepada orang-orang merupakan ajakan untuk mewujudkan karunia Ekaristi yang telah kita terima dalam kehidupan konkret sehari-hari. Kehidupan sehari-hari ini mencakup segala suka dan duka hidup bersama, terutama bagi sesama kita yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel.

Team Redaksi LENTERA

Dari berbagai sumber