Belajar Cinta Kasih Dalam Ekaristi

Kalau kita membaca artikel tentang ‘cinta kasih’, maka kita menemukan bahwa ada dua kata yakni cinta dan kasih yang memiliki makna yang hampir sama. Maka ketika keduanya dipadukan, akan memberikan makna yang lebih dalam. Satu sama lain saling menyempurnakan.

Cinta adalah perasaan yang lahir dari hati seseorang, sebagai anugerah yang timbul dengan sendirinya, tidak mengenal waktu dan usia. Sehingga setiap ungkapan cinta tersebut sangat dipengaruhi oleh motivasi atau dorongan yang timbul untuk mewujudkan suatu keindahan. Ungkapan cinta kepada orang tua akan berbeda dengan ungkapan cinta yang ditujukan pada seorang pacar atau kekasih, sahabat, saudara dll.

Demikian juga dengan kasih. Kasih memiliki makna yang beragam. Ada yang mengatakan bahwa kasih adalah cinta itu sendiri. Sedangkan menurut Kitab Suci, kalau boleh disimpulkan, kasih adalah suatu tindakan yang muncul karena adanya hati yang suci. Demikian dikatakan bahwa Kasih itu sabar, murah hati, mau mengerti, pemaaf, tidak sombong, dan lain-lain yang intinya membentuk tindakan nyata seseorang menyayangi, mencintai, dan membahagiakan dia yang dikasihinya. Bahkan dikatakan dalam 1 Yohanes 4 ayat 8 dan ayat 16 bahwa kasih itu adalah Allah sendiri.

Memahami makna kata cinta dan kasih yang hampir sama tersebut, yang keduanya berasal dari Allah, maka ketika dipadukan akan menjadi suatu bentuk tindakan kebaikan sebagaimana Allah melakukannya. Kebaikan Allah selalu terjadi tanpa kita harus meminta dan dari tindakanNya Allah sendiri tidak pernah mengharapkan imbalan. Semua diberikan secara cuma-cuma.

Jadi, dalam kehidupan sehari-hari dapat dikatakan, bahwa cinta kasih terjadi apabila perasaan simpati antara dua subjek saling mengisi dan melengkapi sehingga terjadi suatu dinamika yang mewujudkan keindahan yang membahagiakan. Jadi cinta kasih adalah suatu perasaan ingin memberikan kasih sayang, perlindungan, kenyamanan, kebahagiaan, dan ketentraman kepada seseorang secara tulus dan ikhlas tanpa ada paksaan atau tuntutan serta tanpa berharap imbalan apapun.

Lalu bagaimana memaknai Ekaristi sebagai Sakramen Cinta kasih? Sudah sangat jelas, ekaristi adalah wujud yang paling nyata dan agung karena merupakan ungkapan cinta kasih yang tak ada bandingannya. Cinta kasih Yesus kepada manusia yang berdosa supaya selamat. Demi cinta-Nya kepada manusia dan kesetiaan-Nya kepada Allah Bapa-Nya, Yesus rela mengurbankan Tubuh dan Darah-Nya. Suatu tindakan cinta kasih yang sehabis-habisnya. Di atas meja Altar dalam Perayaan Ekaristi, peristiwa penyelamatan manusia dari dosa itu selalu diperbarui.

Dua ribu tahun yang lalu Yesus menyerahkan diri-Nya, menderita di salib sampai wafat-Nya. Ia membiarkan tubuh-Nya hancur dan darah-Nya tercurah. Semuanya itu, demi menunjukkan kepada manusia bahwa Allah menghendaki agar manusia menyadari bahwa Yesus sungguh diutus Bapa sebagai penyelamat, tetapi kenyataannya manusia tidak menyadarinya. Mata dan hati manusia baru mulai terbuka dan mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan ketika Ia wafat di salib dan bangkit lagi pada hari ketiga. Sejak itulah semua peristiwa bersama Yesus mulai dirasakan kembali sebagai suatu peringatan bagi mereka, terlebih melalui peristiwa terakhir kebersamaan mereka yang disimbolkan dalam perjamuan terakhir pada hari Kamis Putih. Di situlah secara jelas ajaran cinta kasih diwujudkan oleh Yesus. Yesus memberikan tubuh dan darah-Nya, dipecah dan dibagi-bagikan kepada para murid-Nya. Dengan harapan bahwa mereka yang mengikutiNya akan berani juga memberikan diri mereka untuk saudara-saudaranya, terlebih bagi mereka yang menderita.

Saat itu Yesus telah melakukannya sampai sehabis-habisnya. Namun manusia yang mengenal-Nya hingga sekarang masih sering jatuh dalam dosa sehingga Yesus harus tetap melakukannya. Dengan demikian, Yesus hampir tak pernah berhenti mengulangi pengurbananNya untuk menyelamatkan umat manusia dari zaman ke zaman. Melalui Ekaristi, kita umat yang percaya kepada-Nya diundang untuk mengalami kembali penyelamatan-Nya. Pada saat itulah, Yesus memperbarui kembali tindakan cinta kasih-Nya kepada manusia. Di atas altar, dalam tangan imam kurban Yesus terjadi setiap saat. Maka benarlah, bahwa Ekaristi adalah sakramen cinta kasih karena di sana juga terjadi pemberian diri secara total dari Yesus Kristus melulu sebagai wujud nyata kesetiaan-Nya kepada Allah Bapa dan cinta kasih-Nya kepada manusia.

Maka marilah, dengan iman, kitapun sungguh-sungguh mampu memaknai Ekaristi sebagai Sakramen Cinta kasih yang mampu menghantar kita memberikan diri kita bagi sesama. Mulai dari hal yang sangat sederhana dan mulai kepada orang-orang yang sangat dekat dengan kita. Kita melakukannya dengan penuh ketulusan dan totalitas sebagaimana Yesus sudah mengajarkanNya kepada kita.

Berkah Dalem,
Sr. M. Benedicta, SFS