Ekaristi: Sakramen Cinta Kasih

Pada Minggu kedua sesudah Hari Raya Pentakosta, Gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Misteri Tubuh dan Darah Kristus merupakan pernyataan kasih Allah yang mengagumkan karena tiada persatuan yang sebegitu erat dinyatakan seperti halnya persatuan Allah dan manusia yang diwujudkan dalam santapan. Allah dalam Yesus memberikan diri kepada manusia sebagai santapan, sehingga dengan menyantap Tubuh dan Darah-Nya kita mengalami persatuan yang sedemikian erat. Yesus menjadi darah dan daging kita. Yesus benar-benar hidup dalam diri kita yang menyantap-Nya.

Pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus biasanya juga diadakan Komuni Pertama bagi anak-anak yang dibaptis pada waktu masih bayi. Setelah dipersiapkan selama kurang-lebih 1 tahun, diakhiri dengan triduum dan pengakuan dosa, para calon komuni pertama untuk pertama kalinya menerima Tubuh dan Darah Kristus dalam ekaristi. Momentum ini juga merupakan kesempatan bagi mereka untuk mengalami kepenuhan inisiasi, yang masih akan dilengkapi dengan penerimaan Sakramen Penguatan pada waktunya.

Pada tahun 2016 ini, bertepatan dengan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dibuka pula Kongres Ekaristi Keuskupan Ke- 3 (KEK III) Keuskupan Agung Semarang. KEK III KAS bertema: “Kamu Harus Memberi Mereka Makan” (Luk 9:13). Melalui tema ini kita diajak untuk tidak saja menerima Yesus sebagai santapan, tetapi kita dipanggil pula untuk memberi makan kepada sesama, terlebih mereka yang menderita dan berkekurangan.

Ekaristi sebagai salah satu sakramen dari tujuh sakramen yang ada sebenarnya boleh dikatakan merupakan puncak dan sekaligus induk dari sakramen-sakramen lainnya. Sakramen Baptis dan Penguatan selayaknya diterimakan dalam Ekaristi. Begitu pula Sakramen Perkawinan dan Tahbisan juga diterimakan dalam Ekaristi. Sakramen Tobat dan Pengurapan Orang Sakit pun akan sangat baik bila dirayakan menjelang dan dalam rangka Ekaristi. Inti dari semua Sakramen adalah bahwa orang beriman mengalami dipersatukan dengan Allah, mengalami kehadiran Allah. Maka akan selalu baik bila dipuncaki dengan menerima Tubuh Kristus dalam Ekaristi.

Dalam sejarah Gereja Ekaristi sudah dirayakan oleh jemaat sejak Gereja Perdana, sebagaimana dikisahkan dalam Kisah Para Rasul: “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kis 2:42). Ekaristi disebut dengan istilah “memecahkan roti”. Apa yang dilakukan oleh Gereja Perdana melaksanakan amanat Yesus dalam Perjamuan Malam Terakhir sebagaimana ditulis oleh rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus: “… perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” (1 Kor 11:24). Ekaristi adalah warisan paling agung yang diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya, kepada Gereja. Maka gereja-gereja yang memisahkan diri dari Gereja Katolik dengan meniadakan Ekaristi sesungguhnya kehilangan hal yang paling hakiki untuk mengenang dan menghadirkan Yesus sebagaimana dikehendaki-Nya: memakan Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya.

Berkenaan dengan Gereja merayakan Ekaristi, maka diperlukan imam. Itulah sebabnya mengapa dalam Gereja katolik ada panggilan untuk menjadi imam. Imamat di dalam Gereja katolik selain berfungsi untuk ambil bagian dalam tugas Kristus sebagai imam untuk menguduskan: merayakan Ekaristi dan pelayanan sakramen-sakramen, juga mengambil bagian dalam tugas Kristus sebagai pastor (gembala/pemimpin) dan tugas Kristus sebagai nabi (mewartakan Kerajaan Allah).

Sehubungan dengan tema KEK III KAS, kita diharapkan untuk semakin mencintai Ekaristi karena di dalam Ekaristi kita mengalami persatuan dengan Kristus yang hadir secara sakramental. Kristus hadir dalam tanda roti (hosti) dan anggur yang dikonsekrasikan dan sekaligus hosti dan anggur yang dikonsekrasikan itu menjadi sarana bagi kita menerima Tubuh dan Darah Kristus. Itulah artinya kehadiran Kristus disebut sakramental. Kurban salib dihadirkan kembali bukan secara fisik sebagaimana terjadi pada waktu Yesus disalibkan, tetapi secara sakramen, yakni dalam tanda yang sekaligus menjadi sarana kehadiran-Nya.

Kristus hadir dalam rupa hosti dan anggur yang dikonsekrasikan baik ketika kita menyambut-Nya maupun ketika tidak disambut. Jadi hosti yang telah dikonsekrasikan adalah benar-benar Tubuh Kristus. Itulah sebabnya Gereja katolik selain menyambut Kristus dalam komuni juga menyambut Kristus dalam sembah bakti kepada-Nya, yakni dalam Adorasi Ekaristi. Adorasi Ekaristi yang dalam beberapa tahun terakhir ini digemakan lagi, khususnya oleh mendiang Bapak Uskup Pujasumarta merupakan ajakan agar kita mengalami perjumpaan dengan Kristus yang lebih lama. Adorasi Ekaristi adalah perpanjangan Ekaristi. Dengan mengalami kehadiran Yesus lebih lama, kita mengalami kasih Kristus yang semakin penuh. Hanya dengan mengalami kehadiran Kristus yang semakin penuh kita dapat melaksanakan tugas perutusan untuk menghadirkan Kristus dan menjadi saksi-saksi-Nya.

Salah satu tanda bahwa kita mengalami kehadiran Kristus dan menghadirkan-Nya dalam kehidupan, yakni ketika kita melaksanakan apa yang dilaksanakan Kristus sendiri dengan memberi makan (menggandakan roti), bahkan menjadikan diri-Nya makanan. Berbagi hidup atau menjadikan hidup kita bagian dari hidup sesama kita, itulah salah satu bukti bahwa kita menghadirkan Kristus yang kita terima dan kita hidupi. Berbagi hidup dapat kita lakukan dengan menjadi orang yang solider dengan sesama, terutama mereka yang menderita dan berkekurangan. Apa yang kita terima dari Tuhan, baik itu berupa rezeki, bakat, kemampuan, kekayaan dan apa saja yang ada pada kita hanya akan berarti apabila membantu kita atau mengantar kita untuk menjadi dekat dengan Tuhan. Karena Tuhan hadir dalam diri sesama, terlebih yang menderita dan berkekurangan, berbagi dengan memberi makan atau memberikan apa saja yang kita punyai menjadikan hidup kita berarti dan menjadi pernyataan kasih Tuhan sendiri.

Maka Ekaristi yang kita rayakan harus menggerakkan kita untuk rela berbagi hidup kepada sesama. Dengan mengalami kehadiran Yesus yang mengasihi dalam rupa hosti dan anggur dalam Ekaristi kita dipanggil agar hidup kita juga menjadi saluran kasih, menjadi berkat bagi sesama. Marilah kita mohon agar kita semakin mencintai Ekaristi sebagai Sakramen Cinta Kasih agar hidup kita pun dijadikan sakramen cinta kasih bagi sesama dan dengan demikian kita memaknai dan memberi arti pada hidup kita. Dengan demikian kita akan mengalami suka-cita, sebab dengan berbagi hidup kita justru tidak kehilangan hidup kita, tetapi memeliharanya dan memiliki kehidupan yang sejati. Berkah Dalem.

Rm. Robertus Hardiyanta, Pr
Pastor Paroki Sragen