Antara Mencari Pokémon atau Mencari Tuhan

Di tengah malam yang sepi, seorang pastor dikagetkan dengan seorang umat yang berteriak kencang tanda berhasil: “Gotcha!”. Kejadian ini adalah kejadian nyata yang terjadi pastoran di kawasan Lincoln, Nebraska, AS. Di mana Pastor Ryan Kaup dikagetkan oleh umat paroki, bernama Cristo Ray, yang mencari pokemon di sekitar pastoran. Berita yang diambil dari laman online sesawi (sesawi.net) tersebut ingin menggambarkan bagaimana demam permainan Pokemon Go begitu membuat orang menjadi tidak mengindahkan batas keamanan suatu wilayah, batas kesakralan suatu tempat seperti altar, tabernakel, karena bisa jadi binatang vitual pokemon itu masuk ke tempat-tempat sakral tersebut.

Apakah anda juga memainkan permainan permainan handphone Pokemon Go? Memang tidak ada salahnya memainkan permainan tersebut. Tidak ada larangan baik secara hukum positif, hukum agama (syariat), ataupun hukum moral, dengan syarat tidak melanggar hak orang lain, tidak melanggar batas-batas kesakralan suatu tempat, tidak melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat, dan yang paling penting adalah tetap menjaga keamanan baik pemainnya atau orang di sekelilingnya. Jadi kalau anda, menemukan ‘binatang buruan’ di sekitar altar (atau di sekitar tabernakel), tentunya saudara-saudari sudah tahu harus bertidak dan bersikap bagaimana.

Manusia Meninggalkan Zona Nyaman
Demam Pokemon Go, di dunia mungkin menjadi sebuah refleksi bahwa manusia ingin merasakan petualangan mencari sesuatu. Biasanya permaian di sebuah telepon selular hanya menuntut orang untuk berdiam di suatu tempat, akan tetapi berbeda dengan permainan Pokemon Go, seseorang dituntut untuk pergi ke suatu tempat, entah dengan berjalan dengan kaki, entah dengan menggunakan kendaraan, mencari pokemon. Keuntungannya, dengan mengalami petualangan itu, manusia bisa melihat, merasakan keadaan sekitarnya. Secara psikis orang merasakan rasa gembira, puas, bangga ketika menemukan hasil. Hanya sayang segala yang dilakukan itu bukanlah hal yang nyata.

Secara rohani, mungkin kita juga ingin mengalami hal yang demikian. Keluar dari zona nyaman diri, melihat kebesaran Tuhan, lalu menemukan Tuhan.

Santo Ignatius dari Loyola mengajarkan kepada kita bahwa menemukan Tuhan itu di dalam segala hal (Finding God in all things). Suatu tawaran kepada saudara-saudara, yaitu semangat (hasrat) sama seperti mencari pokemon tersebut dialihkan (digunakan) untuk mencari Tuhan di dalam segala sesuatu. Tentunya, kebahagiaan rohani ketika menemukan Tuhan pun mungkin lebih dari hanya mendapatkan pokemon.

.
Mencari makna di dalam segala sesuatu, mungkin lebih susah daripada mencari binatang virtual pokemon. Kita butuh pikiran yang terbuka terhadap karsa Tuhan, butuh hati yang tajam untuk melihat bahwa segala sesuatu itu merupakan rencana Allah, butuh tangan dan kaki yang kuat untuk berbuat, bertindak. Namun, ketika kita bisa menemukan rencana Tuhan di dalam kehidupan kita, mungkin kita akan terbebas dari rasa gegana (gelisah, galau, merana) yang akut. Kalau kita menemukan sesuatu pengalaman yang buruk sekalipun, kita dapat move on dengan cepat, karena menyerahkan segala sesuatu tersebut pada rencana Tuhan.

Kalau segala perbuatan, kita sesuaikan dengan rencana Allah, sesuai dengan sifat-sifat Kristus – Imitatio Christi (mengikuti jejak Kristus) – tentunya kehidupan rohani kita akan sesuai dengan kehendak Allah. Kesatuan dengan rencana Allah itu mendorong kita ke arah kesucian, semakin tidak terikat dengan dunia, semakin melayani dengan tulus hati, semakin mengasihi sesama. Kalau hal itu terjadi alangkah damainya dunia ini.

Namun, yang terjadi tidaklah demikian. Dalam masyarakat kita, yang kuat menjajah yang lemah. Peperangan karena ambisi kekuasaan semata masih terjadi. Perusakan tempat ibadah hanya karena salah paham masih terjadi di bumi Indonesia ini, padahal kita menyakini bahwa hak asasi – hak untuk memeluk agama dan kepercayaan – dilindungi secara hukum. Apakah kita menutup mata dengan hal itu.

.
Panggilan kita orang Katolik

Perlu disadarkan kembali bahwa kita adalah garam dan terang, bukan menjadi garam dan terang dunia! Tugasnya sudah jelas, memberikan rasa, memberikan makna di tengah dunia. Menjadi cahaya di dalam kegelapan dunia, menuntun kepada jalan yang benar. Tugas yang sangat berat tetapi harus dijalani dan dilakukan, sesuai dengan peran dan tugas saudara-saudari di lingkungan, wilayah, dan di masyarakat. Pekerjaan rumah kita sebagai suatu bangsa masihlah sangat banyak, dengan bertanggungjawab pada tugas kita itu baru standar minimal, harus ada sesuatu yang lebih yang harus ditunjukan sebagai seorang Katolik. Silakan direnungkan apa yang dapat kita lakukan secara lebih di dalam kehidupan kita! Akhir kata, semoga kita berani memberikan diri kita, jiwa raga kita untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini!

 

Tim Redaksi LENTERA