Rahmat Indulgensi: Buah Pertobatan

Indulgensi (Inggris: indulgence, Latin: indulgentia) berarti penghapusan hukuman. Pada praktiknya berhubungan erat dengan daya guna pengampunan dosa dari Sakramen Tobat. Hanya umat beriman yang benar-benar siap menerima dan sesuai dengan persyaratan yang ada yang boleh menerimannya. Indulgensi bukanlah penghapusan atau pengampunan dosa, melainkan penghapusan hukuman (siksa dosa) dari dosa yang sudah diampuni. Indulgensi berhubungan dengan pertobatan dan pengampunan dosa, sebab pertobatan merupakan sikap menanggapi kasih dan kerahiman Allah yang senantiasa dikaruniakan kepada setiap orang yang membuka hati.

Lukas 15: 11-32

Ada ungkapan bahwa Tuhan ada di mana-mana, tetapi juga setan pun ada di mana-mana, bahkan jumlah pasukan setan jauh lebih banyak. Tak heran bahwa dosa dalam berbagai bentuk, ukuran dan jenisnya ada di mana-mana pula dan berpotensi dilakukan oleh semua kalangan tanpa kecuali. Terkadang, kebaikan terdesak oleh dosa karena tawaran setan yang lebih menarik, lebih indah, lebih menggiurkan, dan lebih mengundang selera. Seandainya perkataan Yesus dilakukan: ‘apabila salah satu anggota tubuhmu berbuat dosa, penggallah atau cungkillah’ dijalankan secara hurufiah, maka saya yakin sebagian besar dari kita tentu cacat permanen.

Kita ingin hidup dengan kesadaran untuk selalu berbuat kebaikan dan kebenaran. Namun, seringkali kita tidak sadar dan membiarkan diri, hati dan budi kita dikuasai oleh dosa (hawa nafsu). Untuk menghindari kuasa dosa, pertama-tama kita mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar sebab Allah yang mengerjakan dalam diri kita menurut kerelaan-Nya (bdk. Filipi 2:12-13). Untuk sampai pada keselamatan itu, pertobatan terus-menerus haru dilakukan. Pertobatan bukan sekedar perkataan melainkan perbuatan nyata, dengan cara berani menyangkal diri. Namun, terkadang kita menjadi pelupa dengan komitmen pertobatan kita, misalnya, kita berjanji pada diri sendiri untuk tidak marah, tetapi situasi membuat rasa jengkel muncul, dan marah.

Kata pertobatan dalam bahasa Yunani adalah metanoia. Kata metanoia dalam Alkitab berarti mengarahkan pikiran kita dengan cara berpikir Allah. Ketika seseorang bertobat, dia melihat  segala sesuatu dalam hidupnya dari sudut pandang Allah. Pertobatan sejati hanya dialami setelah kita mengalami jamahan Roh Kudus.

Orang-orang Farisi  dalam kitab suci memiliki prinsip hanya memandang pertobatan sebagai perubahan tingkah laku saja bukan perubahan cara berpikiran. Mereka hanya berhenti melakukan tindakan-tindakan ‘dosa’ dan melakukan tindakan-tindakan ‘suci’, hanya berhenti untuk tidak melanggar perintah-perintah Allah.

Momen pertobatan Anak Yang Hilang dalam injil Lukas (bdk Luk15: 11-32) mengajarkan bahwa pertobatan bukan hanya berhenti  pada kesadaran akan kedosaannya. Saat sang bapa yang menyongsong anaknya, dan menyambut si anak dengan pesta, Si Anak Hilang menjadi terdiam – tidak ada pemikiran tentang apa yang ingin dia lakukan, ia hanya menerima bahwa dia bahagia diterima oleh sang ayah.  Anak yang hilang bukan saja mengalami perubahan tingkah laku, tetapi mengalami perubahan cara berpikir. Ia menerima kasih ayahnya dan dipulihkan, karena dia dikasihi dalam jati dirinya yang sebenarnya.

Pertobatan Si anak hilang dimulai ketika melepas semua ego pribadinya dan menerima kasih bapa yang tidak pernah lelah menanti dirinya. Pertobatan yang sejati adalah ketika  kita menyadari keadaan diri kita, lalu mengijinkan kasih Allah merengkuh dan memeluk kita. Walaupun kita mengingkari Allah, tetapi satu-satu-Nya pribadi yang benar-benar menyayangi kita adalah Allah. Tak seorangpun yang menyayangi kita lebih dari Allah.

Melalui pertobatan yang terus-menerus, kita akan dibentuk untuk menjadi sama seperti pribadi Kristus. Menjadi orang yang baik tidaklah cukup, karena kitab suci, tidak hanya sesuai dengan standar moral. Moralitas tidak bisa menggantikan pertobatan, namun pertobatan pasti diikuti oleh sikap moral yang baik. Tujuan dari penebusan Kristus di kayu salib bukan hanya membuat kita menjadi “orang baik” namun agar kita menjadi serupa dan segambar dengan Kristus.

 

Lukas 3:3-14

Pertobatan jangan hanya sampai pada pemahaman dan penyesalan saja. Kesadaran dan rasa duka karena dosa itu penting, namun Yohanes Pembaptis dengan tegas mengatakan bahwa diperlukan tindakan nyata sebagai kesungguhan dari wujud dari pertobatan. Dalam pesan petobatannya, Yohanes Pembaptis tidak pandang bulu, baik kepada para pemuka agama, kepada orang kaya, maupun kepada pemungut cukai dan prajurit. Yohanes menyampaikan pesan yang sama yaitu bahwa mereka harus bertobat dan menunjukkan pertobatan tersebut dengan menghasilkan buah-buah kehidupan yang selaras dengan pertobatan itu.

Kepada pemuka agama Yahudi, Yohanes berkata bahwa status sebagai keturunan Abraham tidak sendirinya membuat mereka terlepas dari murka Tuhan. Mereka harus meninggalkan kemunafikan dan menunjukkan buah pertobatan. Pesan ini adalah peringatan untuk kita, yaitu bahwa sebagai orang Kristiani bukanlah jaminan akan bebas dari hukuman Tuhan kecuali bila kita melakukan pertobatan terus-menerus untuk memulihkan hubungan kita dengan Tuhan, sesama, serta alam ciptaan. Kepada orang kaya, Yohanes menegaskan bahwa mereka harus hidup dengan tidak hanya memikirkan kenikmatan diri sendiri. Terhadap pemungut cukai yang telah menghisap keuntungan di atas penderitaan rakyat, Yohanes mengatakan bahwa mereka harus meninggalkan praktik penipuan dan pemerasan yang selama ini dikerjakan. Buah pertobatan itu haruslah menyangkut keseluruhan diri untuk meninggalkan dosa, baik secara intelektual: kesadaran dan pemahaman akan dosa, secara emosional: penyesalan dan duka karena dosa; dan secara tindakan untuk kehendak meninggalkan dosa.

Sr. M. Dominica SFS