Bertindak Jujur dan Semakin Menjadi Indonesia

Korupsi tampaknya menjadi hal yang sangat tidak mudah diberantas di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Hal ini tampaknya seperti penyakit kanker yang menggerogoti tubuh Indonesia. Timbul pertanyaan apakah sulit mendapatkan orang jujur di Indonesia. Ini menjadi permenungan kita sebagai orang Kristiani: apakah kita sudah menjadi pribadi yang memang jujur dan bebas dari korupsi? Dalam Pastoralia dan Renungan kita telah membaca bahwa Kristus hadir untuk menebus umat manusia terutama manusia yang korupsi (mungkin seperti kita). Kalau kita sudah mendengar sapaan Kristus di dalam hati kita untuk bertobat, hal tersebut harus ditanggapi dengan tindakan nyata dengan meninggalkan kebiasaan korupsi kita

Selain perilaku korupsi, kita sebagai warga Negara Indonesia sempat merasakan bahwa semangat Kebhinekaan Indonesia di rong-rong oleh orang-orang yang tidak bertanggunggjawab. Kalau kita orang yang tidak bertanggungjawab kita akan mengangap hal itu adalah hal biasa yang penting, selama itu tidak mengganggu kepentingan diri saya. Sikap acuh tak acuh dan hedonisme inilah yang harus segera dipertobatkan.

Indonesia adalah negara kesatuan yang di dalamnya terdapat 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia atau tepatnya 1.340 suku bangsa menurut sensus BPS tahun 2010. Negara Kesatuan Indonesia dapat bersatu karena adanya sikap kerelaan untuk menerima yang berbeda menjadi suatu kekuatan. Indonesia tidak bersatu karena adanya tekanan dari penguasa melainkan karena adanya rasa yang sama sebagai bangsa. Kalau rasa ini semakin lama terkikis, kemungkinan bahwa moto “Bhineka Tunggal Ika” ini akan luntur dan hilang!

 

Redaksi LENTERA