Kedatangan Kristus : Inspirasi Melawan Korupsi

Hari Raya Natal sebagai peringatan kedatangan atau kelahiran Tuhan Yesus identik dengan kandang dan palungan Palungan memang adanya hanya saat peristiwa peringatan kelahiran Yesus. Yesus lahir bukan di rumah penginapan apalagi di hotel yang tempat tidurnya nyaman dan bersih. Ibu Maria dan Santo Yusuf saat itu tidak berupaya membayar (atau bahkan menyuap) pemilik rumah untuk bisa dapat penginapan, tetapi menerima kehadiran Kristus di sebuah kandang yang sederhana

Peristiwa kelahiran Yesus yang lahir dikandang dengan palungan (wadah pakan wedhus, bahasa jawanya) sebagai alasnya menunjukkan kesederhaan dan apa adanya. Dengan hal itu, Yesus yang mau merendahkan diri setara dengan manusia. Semangat untuk tampil dan dilahirkan dalam situasi yang sederhana yang apa adanya, menginspirasi kita untuk meneladan Tuhan Yesus.

Tempaan Disiplin Yang Menjadikan Pribadi Yang Setia
Waktu pelajaran magang baptis ketika kelas 1 SMP Negeri 1 Karanganyar, lebih banyak di bimbing oleh Rama Wolfgang Bock Kastawa SJ yang benar-benar ketat dan disiplin. Bagaimana tidak, ketika saya terlambat tidak sampai 5 menit untuk mengikuti pelajaran magang Baptis tentu akan dimarahi dan tidak boleh masuk. Ketika masa katekumenat yang saya rasa cukup untuk menerima Sakramen Baptis, saya mengutarakan apakah saya bisa Baptis tahun ini, Rama Kastawa mengatakan: “Belum bisa, pelajaran magang baptismu masih bolong 2 kali, kamu belum serius mengikuti Kristus!” Tahun berikutnya saya rutin mengikuti pelajaran magang baptis, gantian Rama yang menawarkan saya untuk ikut Baptis, justru saya mengatakan : “ Tidak Rama saya belum merasa mantap menjadi Katolik!”

Setelah pelajaran magang baptis memasuki tahun ketiga baru saya benar-benar siap untuk menerima Sakramen Baptis, tepatnya pada Malam Natal tanggal 24 Desember 1978. Sungguh perjalanan untuk menjadi murid Yesus yang tidak mudahdengan tempaan disiplin ala barat, karena Rama Kastawa asli Jerman.

Untuk menjadi murid Yesus yang baik, harus belajar dari kebiasaan disiplin yang ditanamkan. Dengan disiplin membuat diri lebih setia. Setia terhadap waktu, setia terhadap komitmen. Kesetiaan terhadap waktu dan komitmen akan melahirkan pribadi yang tidak mudah goyah akan godaan dan terpaan sekuat apapun. Komitmen murid Yesus yaitu untuk selalu mene-ladan kesetiaan Sang Guru yang lahir dalam kesederhanaan dan apa adanya.

Pemaknaan Memperingati Kelahiran Yesus Yang Kurang Pas
Setiap memasuki masa Adven, memori saya akan terbawa saat awal mulai serius menjadi katekumen ketika kelas 1 SMP dan masa-masa tinggal di Provinsi Timor-Timur saat masih men-jadi Provinsi ke 27 Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebelum referendum.
Sudah menjadi tradisi bagi Juventude – kaum muda (OMK) di Timor Timur (Timor Leste sekarang) setiap masa Adven, yaitu membuat kandang/goa di sudut-sudut kota Dili. Di setiap Aldea/Suco (kampung/desa/ RT). Kemeriahan dan kemegahan nam-pak kandang atau gua dihias dengan pernak-pernik hiasan, gambar. Bayi Yesus dibalut kain dalam palungan yang penuh kerlap-kerlip lampu, dan terka-dang terkesan menjadi saling bersaing dan jor-joran dengan detuman musik iringan dansa, bahkan dangdut, dll. Pemaknaan peringatan Natal sebagai perwujudan Kelahiran Tuhan Yesus justru terkesan lebih wah dan megah, hingar-bingar musik yang kadang tidak pas dengan peristiwa kesederhaan dan apa adanya saat terjadi peristiwa kelahiran Yesus.

Belajar untuk Tetap Sederhana Dan Apa Adanya
Dengan dua peristiwa pengalaman di atas saya mau mengatakan bahwa peristiwa Kelahiran Tuhan Yesus yang tampil dalam kesederhanaan, mengajarkan kepada kita untuk mau dan mampu tampil apa adanya sesuai talenta dan karunia yang kita terima. Di tengah arus gaya hidup yang konsumeris dan hedonis, kalau tidak kita bentengi dengan displin diri dengan selalu setia kepada Sang Juru Selamat (iman yang kuat), kita akan mudah terseret arus di dalamnya.

Iming-iming dan godaan untuk hidup konsumeris dan hedonis, terpampang nyata dihadapan kita. Kemudahan memperoleh segala sesuatu dengan cara instan, kemajuan teknologi digital yang cukup menggoda, gemerlap dan gaya hidup yang wah. Kalau kita tidak punya benteng iman yang kuat akan menyeret kita untuk masuk dalam pusaran itu. Ketika sudah terseret dalam gaya hidup yang konsumeris dan hedonis yang dicapai di luar kemampuan kita akan membawa kita pada perilaku korup, dengan segala cara dilakukan. Itulah kira-kira yang terjadi dengan maraknya korupsi di negeri kita.

Upaya untuk membentengi diri, dengan sikap tekun, sabar, tabah, disiplin akan melahirkan kesetiaan seperti teladan Bunda Maria lewat peristiwa kelahiran Tuhan Yesus, akan membawa kita mampu melawan sikap dan tindak korupsi.

Yohanes Trianto
Prodiakon Stasi Jenawi, Paroki Sragen