Mencintai Yang Difabel

Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang (RIKAS) Tahun 2016-2035 – meliputi juga Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang (ARDAS KAS 2016-2020, 2021-2025, 2026-2030, dan 2031-2035) – dalam visi utamanya adalah mewujudkan peradaban kasih dalam masyarakat Indonesia Sejahtera, bermartabat, dan beriman. Dari enam misi yang dirumuskan, pada misi yang ketiga yaitu “meningkatkan mutu kehidupan beriman Kecil Lemah Miskin Tersingkir dan Difabel.” Difabel menjadi perhatian khusus bagi gereja dan masyarakat luas.

Ada satu kisah yang bisa menjadi inspirasi kita bersama. Bapak Bestiawan, guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Donorojo, Magelang, bekerja sama dengan kepala desanya Bapak Syukur Mardi Ismoyo, memberikan perhatian kepada anak-anak difabel. Data anak difabel ada 20 orang di desanya. Yang menjadi perhatian baginya adalah yang berumur kurang dari 17 tahun. Mereka diasuh oleh Bapak Bestiawan setiap hari. Dengan rasa iklhas, sabar, tekun, dan gembira bapak Bestiawan mengajarkan banyak hal bagi mereka. Ada yang tuna rungu, ada yang tuna wicara.

Anak-anak yang semula tidak dapat tenang, selalu berteriak, sulit berinteraksi, dan tidak bisa fokus, setelah dibimbing oleh Pak Bestiawan selama satu tahun mereka mulai mampu menghubungkan titik dan garis secara perlahan. Ketika salah mengerjakan perintah, mereka langsung memperbaikinya sambil mencolek tangan Bapak Bestiawan. Saya percaya bapak Bestiawan dan bapak Syukur penuh dengan berkat Tuhan.
Sekarang kita lihat apa yang terjadi di Paroki Sragen? Apakah Gereja sudah mempunyai perhatian khusus kepada Difabel seperti yang dianjurkan oleh RIKAS?

Ada aksi nyata dari kelompok doa Padre Pio, sebagaimana yang saya ikuti, bekerja sama dengan Orang Muda Katolik (OMK) Sragen, Eks Putra Altar, Dewan Paroki, dan komunitas lain untuk memberikan perhatian kepada kaum difabel. Kegiatan nyata adalah berkunjung ke Panti Raharjo yang menampung sekitar 60 anak difabel yang terlantar. Di lain kesempatan kami juga mengajak beberapa anak difabel berwisata dan bergembira bersama. Di Paroki Sragen sendiri juga terdapat data anak-anak difabel.

Setiap tahun ketika memperingati Hari Orang Sakit Sedunia, pada tanggal 11 Februari, kami ikut menyapa mereka melalui kunjungan orang sakit. Mereka tak dapat bicara, juga tak terlalu paham apa yang kami lakukan, namun yakin bahwa ketika memberikan pelayanan kepada orang lain, berkat Tuhan bekerja ke 2 arah, kepada yang memberikan pelayanan dan kepada yang menerima pelayanan. Hal ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua, setelah kita mendapat anugerah yang berlimpah dari Allah, sudah waktunya kita untuk memikirkan kaum KLMTD. Kalau tidak dimulai dari diri sendiri siapa lagi?

Akhirnya mari membuka Kitab Suci bersama saya:
1. Yesus juga menyembuhkan orang buta di Betsaida dengan cara memegang, meludahi matanya, meletakkan tanganNya, dan bertanya : “Sudahkah kau lihat sesuatu?” Aku melihat orang tapi tampak seperti pohon-pohon. Yesus meletakkan lagi pada mata orang itu dan sembuhlah dia (Markus 8:22-26)
2. Yesus menyembuhkan orang bisu tuli dengan cara memasukkan jariNya ke telinga orang itu, meludahi, dan meraba lidahnya sambil berkata :”EFATA” terbukalah! Saat itu terlepaslah pengikat lidahnya dan dia dapat berkata-kata.

Marilah kita mewujudkan Misi RIKAS tersebut dengan tanggung jawab sosial yang tinggi, bekerja sama dengan siapapun tanpa perbedaan suku, agama, ras, dan bertindak yang bermanfaat bagi banyak orang.

 

dr. FX Kusunartuti