Mulut Kamu Harimau Kamu, Merekah Batu Kepalamu

Peribahasa di atas mempunyai arti bahwa kita harus berhati-hatilah jika hendak berkata, karena bisa menjadi senjata makan tuan. Terkadang suatu persoalan dimulai hanya karena perkataan yang mungkin menyinggung perasaan orang lain. Mulut dan lidah yang hanya satu mungkin punya kekuatan yang lebih tajam dari sebuah pisau. Hanya dengan perkataan dari mulut seorang raja istana yang indah dapat dibuat. Kata-kata dari seorang jendral dapat memerintahkan prajurit untuk berjuang sampai titik darah penghabisan. Kata-kata yang keluar dari mulut mempunyai kekuatan.

Sabda Tuhan disampaikan lewat kata-kata, lewat mulut. Firman itu terus diwartakan dengan kata-kata dan terus-menerus di sebarkan melalui kata-kata. Nabi mewartakan nubuat dengan kata-kata. Kabar gembira tentang keselamatan dikarbarkan dengan kata-kata.

Selain kabar gembira, mulut juga mengeluarkan kabar buruk dan kebusukan. Mulut juga mengeluarkan makian, cercaan yang lebih mematikan daripada pedang. Membunuh dengan kata-kata lebih kejam dan lebih mematikan dari pada menggunakan senjata modern dan canggih sekalipun.

Kita akhir-akhir ini merasakan bahwa situasi di negara kita agak sedikit memanas karena adanya ajang pemilihan kepala daerah di sejumlah daerah. Perang kata-kata yang memekakkan telinga yang hanya bertujuan untuk mengalahkan pihak lain membuat kehidupan kita menjadi tidak diliputi kedamaian karena banyaknya kata-kata yang menimbulkan perpecahan dan penuh kebencian.

Ketika reformasi digulirkan kira-kira 19 tahun yang lalu, kita rakyat Indonesia merasakan kebebasan dalam menyampaikan pendapat, menyampaikan ide secara pribadi maupun secara kelompok – walaupun sebenarnya pada Undang-undang Dasar 1945, hal tersebut telah diatur yaitu pada pasal 28 UUD 1945. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum mengatur bagaimana menyampaikan pendapat di muka umum dengan mempertimbangkan keseimbangan antara hak dan kewajiban. Intinya dari undang-undang tersebut adalah kita bebas untuk menyampaikan pendapat asalkan tidak melanggar aturan dan norma yang berlaku di masyarakat.

Aksi Puasa Pembangunan tahun 2017 Keuskupan Agung Semarang, mengangkat tema ‘Aku Pelopor Peradaban Kasih’ mengajak kita untuk membangun suatu peradaban yang diliputi dengan kasih. Peradaban kasih akan menggantikan peradaban yang kebencian yang sekarang ini kita rasakan. Tujuannya adalah membuat bumi sebagai suatu tempat yang damai seperti di surga.

Bagaimana mewujudkan peradaban itu?
Mulai dari kata-kata, dari mulut kita. Dalam masa prapaskah ini, mulut lebih digunakan untuk wartakan hal yang baik, mewartakan sukacita dari pada mewartakan kebencian. Lebih banyak berdoa daripada bergosip ria. Telinga yang berjumlah dua mengajak kita untuk dapat mendengarkan, memasukan infomasi, dan mengolahnya, daripada lebih banyak berkata-kata. Mata yang berjumlah dua mengajak kita melihat lebih tajam dari pada berkata-kata yang tajam. Mulut yang menyebarkan keharuman kasih, yang mendatangkan kesejukan. Itulah mungkin hal sederhana yang dapat kita lakukan.

Tim Redaksi LENTERA