Pertobatan Yang Terus Menerus Diperbarui

Terinspirasi dari kata tobat yaitu bahwa tobat itu sendiri sudah mengandung arti penyesalan – mohon ampun – tidak akan mengulangi yang salah. Tobat bisa ditunjukkan dalam bentuk sikap, perilaku, kata-kata yang terkandung dalam hati dan budi yang tidak nampak. Seseorang yang bertobat berarti seluruh hati dan budi serta perilakunya disucikan atau hidupnya menjadi suci. Oleh karena itu, memperbarui pertobatan berarti terus menerus ‘menjadi baru seluruh hidup perilaku, sikap, hati, budi dan pikiran.’

Sering kali, jika kita sudah bertobat , melalui penerimaan sakramen tobat, kita mencukupkan diri: sudah menjadi suci dan bersih. Padahal, tidak demikian! Kita harus terus menerus tiada henti ‘bertobat’, menyadari hidup yang kita jalani ini apakah sudah seturut kehendak Tuhan.

Lalu, apa hubungannya memperbarui pertobatan melalui pertolongan Bunda Maria?
Sebutan bunda maria yang kita ketahui antara lain Bunda Allah, Bunda Gereja, Bunda Yesus Kristus, Bunda Pengantara segala rahmat, Bunda yang dikandung tanpa noda dan lain-lain. Karena kesucian dan kerendahan hatinya maka Gereja memahkotai rahmat istimewa dalam hidupnya sebagai Bunda Yesus.

Mari Kita merenungkan sejenak pengalaman-pengalaman rohani Orang Kudus Gereja Katolik yang berdevosi kepada Maria yang dikandung tanpa noda, pertama Santo Maximilianus Kolbe. Ia berkarya banyak sebagai imam dari ordo Fransiskan yang bersemangat besar dalam penghormatan bagi Bunda Maria. Santa Bernadet dari Lourdes yang menerima penampakan Bunda Maria sampai sebanyak 18 kali. Dalam salah satu pesan Bunda Maria yang ditulis oleh Santa Bernadet , Bunda Maria berpesan untuk tetap bertekun setia dalam doa dan terutama bersemangat ‘tobat’ dan mempersembahkan hidup kita kepada kehendak Allah Bapa, bukan kehendak diri sendiri. Ini pula yang menjadi salah satu tanda pertobatan kita kepada Allah Bapa.

Banyak pengalaman iman Maria bersama Yesus yang tidak sanggup ia pikirkan. Maria menjalani proses hati sederhana yang menyelami kehendak Allah Bapa. Ketika Puteranya tampil di depan umum melalui mukjizat pertama di Kana (bdk. Yoh 2 : 1-12), Maria menyelami hati Puteranya. Pada pengalaman lain dalam Injil Lukas (Luk 8 :21): “IbuKu dan saudara-saudaraKu ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” Maria mengalami peristiwa bahwa betapa ia harus belajar dari Puteranya yang sekaligus mendidiknya menjadi ibu yang sejati.

Refleksi bagi kita sebagai orang beriman Katolik yaitu bahwa sebagai pribadi yang percaya kepada Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus serta menerima dan menghayati hidup dalam teladan Bunda Maria, apakah pertobatan kita adalah pertobatan dalam hidup seperti Bunda Maria yaitu hidup dengan rendah hati, mendengarkan kehendak Allah, dan mempersembahkan hidup kita kepada-Nya.

Marilah kita bertekun. Setia dalam doa dan mendoakan. Yang secara sederhana namun indah untuk dilaksanakan yaitu dengan mendoakan Rosario untuk setiap ujub pribadi atau bersama yang dapat kita lakukan setiap hari. Tuhan memberkati.

Sr. M. Verena SFS