Bodoh versus Bijaksana

Dalam kehidupan selalu saja ada hal yang bertolak belakang: gelap bertolak belakang dengan terang, siang dengan malam, keras dengan lunak, padat dengan cair, cantik dengan jelek. Lalu apa lawan kata ‘bodoh’? Ternyata lawan kata bodoh bukan pintar atau cerdas melainkan bijaksana. Lawan kata tersebut disampaikan Yesus dalam perumpamaan tentang lima gadis bodoh dan gadis bijaksana di dalam Injil Matius (Mat 25:1-13).

Antonim tersebut sangat berbeda dengan kebiasaan yang kita jumpai di masyarakat. Mengapa orang bodoh dibandingkan orang bijaksana? Dalam penjelasan yang disampaikan oleh Romo Albertus Hermanto, OCarm, yang menjabat sebagai Rektor Universitas Katolik Widyakarya Malang, Romo mengatakan bahwa orang orang pintar itu bisa saja jatuh bodoh ketika si orang pintar ini tidak menggunakan kepintarannya untuk sesuatu yang bermakna dan untuk kebaikan masyarakat luas. Misalnya, banyak orang pintar justru melakukan tindakan korupsi. Saat itulah si orang pintar itu jatuh dalam kebodohan.

Berbeda dengan orang bijaksana. Orang bijaksana adalah orang yang mempunyai ciri-ciri yaitu waspada, sadar diri, cermat, proaktif, sigap dan siap dalam menghadapi perubahan. Orang bijaksana melihat segala sesuatu jauh ke depan hal itu tampak dalam Injil Matius yang menggambarkan bahwa gadis bijaksana yang membawa minyak cadangan ketika menunggu mempelai pria datang. Dari kesigapannya tersebut, hanya kelima gadis yang bijaksanalah yang boleh masuk dalam pesta sedangkan gadis yang bodoh tidak diperbolehkan. Penjelasan tersebut yang disampaikan oleh Romo Albertus Hermanto dalam Perayaan Ekaristi Novena di Taman Doa Ngrawoh.

Perumpaan tentang gadis bodoh dan gadis bijaksana mau mengingatkan kita agar menentukan pilihan kita. Apakah mau menjadi si gadis bodoh atau mau menjadi gadis yang pintar. Semua itu tergantung dari pilihan kita.

Apa kaitannya dengan kehidupan di masyarakat. Kita melihat, membaca, mendengar dari media massa yang kita jumpai setiap hari, baik media dalam jaringan (online), media massa cetak, bahwa banyak kalangan yang secara reaktif menolak kebangkitan Partai Komunis Indonesia. Masih ingatkan saudara tentang kasus tentang penyerangan di salah satu lembaga hukum karena menonton film tentang G30/SPKI. Apakah tindakan reaktif tersebut merupakan tidakkan yang bijaksana atau justru sebaliknya? Menurut penulis, tidakan ini adalah tidakkan tidak berdasar karena pemerintah dengan tegas melarang partai dan ideologi komunis di dalam TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI). Lantas, apa reaksi kita? Apakah kita juga reaktif atau malah justru apatis? Itulah gunanya kita belajar sejarah, karena dengan belajar sejarah kita dapat belajar pada kisah hidup seseorang, kisah hidup suatu bangsa, kisah suatu negara. Dengan proses belajar itu kita dapat mengambil apa yang baik dan berusaha untuk tidak melakukan apa yang buruk.

Sejarah suatu bangsa harus dipelajari dan harus diluruskan jika memang ada sesuatu yang ternyata tidak sesuai dengan fakta sejarah masa lalu. Sejarah itu menjadi suatu pembelajaran bagi generasi-generasi selanjutnya karena dalam peristiwa sejarah tersebut kita akan belajar bagaimana harus bertindak dan bersikap. Sejarah itu menjelaskan dari mana asal usul kita. Jangan lupa, dalam kehidupan kita, kita membuat sejarah terutama dalam sejarah hidup diri kita. Pilihan kita akan menentukan sesuatu yang akan terjadi di masa depan jadi bijaksanalah dalam memilih!

Widyanarko Yustinus