Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah Dalam Hatimu

Gegap gempita Perayaan Natal yang dirayakan oleh semua umat Kristiani dalam berbagai tempat diseluruh dunia, mengingatkan kita akan sukacita lahirnya Sang Juruselamat, Raja Damai. Kelahiran Sang Juruselamat menyadarkan kita akan kasih Allah Bapa kepada kita manusia yang sering terlalu asyik bergelimang atas kesenangan duniawi. Seperti pesan Santo Paulus kepada Jemaat di Kolose “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan yang sama dengan penyembahan berhala” (Kol 3: 5).

Dalam proses membuat renungan ini, saya membaca komentar di Facebook, yaitu tentang bencana Gunung Agung. Dalam komentar yang disampaikan ada beberapa komentar yang berbau SARA dengan mengatakan bahwa meletusnya gunung agung merupakan azab Allah kepada masyarakat Bali. Namun, ada seorang seorang dokter di Bali yang begitu bijak menanggapi komentar miring tersebut dengan berbagai argument yang positif dan memberi contoh-contoh nyata tentang bencana alam. Kalau Saya pribadi, saya geram ketika membacanya. Dalam pikiran saya, mengapa orang berkomentar miring tersebut bukannya berempati atau berbelarasa kepada korban bencana tetapi justru memancing masalah dengan membuat komentar-komentar memecah belah persatuan.

Namun, saya tersadar akan nasehat Santo Paulus dalam Kolose 3 ayat 12: “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas-kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran”. Walaupun untuk melakoni pesan Santo Paulus ini bukan perkara mudah untuk kita wujudnyatakan, tetapi hal ini baik untuk menjadi bahan refleksi kita untuk mempersiapkan diri dalam 4 minggu masa Adven menyambut Sang Emmanuel, Raja Damai, dengan selalu membaca Injil. Kita mempersiapkan diri dengan tema Perayaan Ekaristi di masa Adven, pertama: “Berjaga-jagalah, bertekun dalam doa dan membaca Kitab Suci”. Kedua, Siapkan “Jalan Tuhan : Berusahalah hidup tak bercela”, ketiga “Siap Menyambut Tuhan: Hidup Berbagi”, keempat, “Rahmat dan Ketaatan Menjadi Dasar dalam Menanggapi Panggilan Tuhan”.
Masa penantian datangnya Sang Juruselamat, Sang Raja Damai menjadi momentum menata diri, memantas-mantas diri, sekaligus mempersiapkan diri agar layak menjalankan perutusan: “Hendaklah damai sejahatera kristus memerintah dalam hatimu”. Hal tersebut merupakan bagi kita untuk ikut berperan aktif dalam menjaga nilai-nilai Pancasila yang tertuang di dalam bahan sarasehan dalam empat kali pertemuan masa Adven. Kita juga mempunyai tugas untuk menjaga keutuhan ciptaan-Nya serta dalam ikut menjaga tata perdamaian dunia.

Di tengah keprihatinan dengan peristiwa pengeboman di sebuah masjid di Mesir yang menewaskan lebih 300 orang, dan peristiwa menyedihkan lain di beberapa negara di Timur-Tengah, bencana alam meletusnya gunung Agung di Karangasem Bali, bencana tanah longsor, banjir akibat cuaca ekstrem yang diakhibatkan oleh Siklon Tropis Cempaka, kita tentu mendambakan adanya rasa aman, damai dan sejahtera: damai di hati, damai di bumi, di keluarga, masyarakat sekitar, tempat kerja, negara, seluruh dunia. Karena itu, menjadi tugas kita untuk mewujudkan damai sejahtera Kristus dengan tindakan nyata yang kita lakukan.

 

Yohanes Trianta