Hidup untuk Berbagi Berkat

“Berbagi” merupakan kata-kata yang mudah diucapkan, namun sulit untuk dilaksanakan. Apalagi berbagi berkat itu bukanlah sesuatu yang serta-merta terjadi. Perlu waktu panjang untuk mengolah hati, pikiran dan mengolah rasa yang pasti banyak pertimbangan untuk melakukannya. Namun, ketika ada seseorang yang memberikan dirinya untuk berbagi dengan orang lain, kita sadari bersama bahwa orang itu mempunyai sifat yang “lebih”. Hal tersebut hanya dapat terjadi ketika semangat berbagi telah mendarah daging di dalam orang itu. Namun, terkadang kata sifat lebih ini – lebih hebat, lebih kaya, lebih pandai dan lebih dalam segalanya – hanya untuk dirinya sendiri tidak dibagikan kepada orang lain.

Semangat seperti inilah yang bisa menyebabkan orang tidak mudah untuk mempunyai sikap murah hati. Apalagi ketika masih kecil orang tua tidak mengajari pada anaknya untuk berbagi, atau memberi waktu walau hanya sedikit. Misalnya: kalau adiknya mempunyai makanan, apakah dia diajak untuk berbgai dengan kakaknya? Demikian juga, kalau kakaknya mempunyai mainan yang baik dan menarik, apakah sang kakak mau meminjamkan atau bermain bersama adiknya? Tampaknya hal tersebut adalah hal yang sederhana, akan tetapi membawa dampak yang luar biasa bila si anak sudah dewasa.

Sebagai orang beriman hendaknya kita semua mempunyai hati yang terbuka untuk mau meneladan sikap hidup seperti Yesus, di mana dengan ketulusan hati dan penuh kasih mau memberi pertolongan kepada siapa saja yang membutuhkan. Banyak hal yang sudah dilakukan oleh Yesus dalam karya-Nya. Hal-hal baik inilah yang selayaknya kita teladani dalam hidup kita setiap hari.

Berkat Tuhan yang diberikan kepada kita semua bisa kita dapatkan dengan pelbagai macam.
Ada dua tipe pribadi. Pribadi pertama merasa telah bekerja keras hingga merasa bahwa dengan kerja keras tersebtu layak mendapatkan segala sesuatu dan berkecukupan. Sementara itu, pribadi yang lain memiliki prinsip bahwa bahwa berkat Tuhan melimpah manakala dia bisa berbuat baik kepada orang lain. Bahkan ada keyakinan: siapa menabur banyak, akan menuai banyak (2 Kor 9:6-9). Silakah direnungkan di dalam hati, apakah Saudara-saudari termasuk pribadi yang pertama atau pribadi yang kedua?

Tantangan untuk dapat berbagi terasa berat ketika seseorang punya pengalaman yang serba buram dalam menikmati rencana Tuhan. Orang tersebut tidak dalam situasi yang “lebih”. Dalam pikirannya tercetus pemikiran bahwa rasanya Tuhan tidak adil. “Saya sudah berjuang dengan susah payah, namun tidak pernah mendapatkan apa yang kami harapkan!” Mungkin pengalaman ini lekat dengan hidup kita. Namun, kita harus cermat dalam pengalaman-pengalaman seperti itu. Mungkin Tuhan memberikan suatu rencana yang lebih indah lewat pengalam yang buram tersebut. Tuhan ingin mengajarkan kita sesuatu yang berguna bagi hidup kita. Tantangannya adalah bagaimana kita dapat murah hati ketika menghadapi situasi yang serba “kekurangan”.

Kita diberi kesempatan untuk belajar bermurah hati dan berbagi kepada saudara kita yang membutuhkan dengan tulus dan ikhlas. Pelajaran hidup yang sangat mahal untuk jaman ini, menjadi sesuatu yang sulit. Namun dari situlah awal dari kemurahan hati dan kebaikan.

Ada sebuah syair lagu yang berguna untuk permenungan kita:
Hidup adalah kesempatan
Hidup ini untuk melayani Tuhan
Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan beri
Hidup ini harus jadi berkat
Oh Tuhan pakailah hidupku
Selagi aku masih kuat
Bila saatnya nanti ku tak berdaya lagi
Hidup ini sudah jadi berkat

Anastasia Tri Widayati