Mewartakan Kabar Baik di tengah Krisis Lingkungan Hidup

Kelangsungan hidup manusia dan makhluk lainnya di planet kita sekarang sangat terancam. Perubahan iklim dan pemanasan bumi yang berlangsung sangat cepat sebagai akibat kegiatan manusia yang mencemarkan sarangnya sendiri. Ancaman dahsyat dari sumber kehidupan menjadi pembawa kematian, mengundang kita pada bulan Kitab Suci 2019 untuk membaca dan mendalami cerita air bah Nabi Nuh. Cerita yang dikenal luas itu bukan hanya tentang Allah dan nasib manusia, tetapi tentang pemusnahan dan penyelamatan seluruh alam ciptaan. Cerita Nuh sangat menarik membantu menggumuli krisis ekologi. Cerita ini mampu membangkitkan kesadaran ekologis karena serentak memberi peringatan keras akan kerusakan tetapi juga memberi harapan baru.

Paus Fransiskus menerbitkan Ensiklik Laudato Si’, “Terpujilah Engkau” (24 Mei 2015) tentang perawatan bumi, rumah kita bersama. Diilhami oleh Gita Sang Surya Santo Fransiskus dari Asisi, Paus mengingatkan kita bahwa bumi bagaikan seorang saudari yang berbagi hidup dengan kita, dan sebagai seorang ibu yang mengasuh kita. Paus berseru agar umat Katolik bersama seluruh masyarakat dunia bangun dari sikap acuh, membuka mata bagi kerusakan bumi, mencari serta mengusahakan suatu solusi sebelum terlambat. Kerusakan lingkungan hidup sekarang ini merupakan akibat kegiatan manusia dan bukanlah suatu proses alamiah yang memang juga sudah beberapa kali terjadi dalam sejarah panjang kehidupan di bumi.

Kabar Baik Tentang Dunia Ciptaan
Banyak orang berbuat seolah-olah tak ada apa-apa, mengharapkan segalanya dari ilmu dan teknologi yang diandaikan mempunyai solusi teknis bagi krisis bumi, tidak menyadari dan mengakui adanya masalah serius dan tidak termotivasi untuk berubah. Di sini tugas penting agama-. Agama memiliki suatu visi dunia dan pandangan hidup yang – bila dihayati secara benar – akan memberi dorongan dan arahan kepada masyarakat luas untuk mau bekerja sama menghadapi masalah-masalah yang sedang mengancam kehidupan di planet kita.

Bulan Kitab Suci Nasional tahun ini memilih tema: Memberitakan kabar baik di tengah krisis lingkungan hidup. Iman kristiani mampu memberi kita suatu visi yang lebih utuh tentang makna bumi, manusia dan semua makhluk hidup lainnya, dan memberi kita motivasi untuk melindungi alam ciptaan dan sesama manusia yang paling rentan, kata Paus Fransiskus. Dengan bantuan ensiklik Laudato Si’, kita akan menggali motivasi ekologis yang kita terima dari Alkitab dan tradisi iman kita.

Hikmat ekologis dalam cerita penciptaan
Dalam LS 65, Paus Fransiskus membahas Kej. 1-3 dengan bertolak dari penciptaan manusia, yang diberi tanggung jawab khusus terhadap karya ciptaan lainnya. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26). Manusia diundang untuk masuk dalam relasi dengan Allah. Dalam relasi antara manusia dan alam ciptaan, berkewajiban merawat dan menjamin keberlangsungan dan kesuburan bumi demi kepentingan makhluk lain dan generasi yang akan datang. Manusia diberi tanggung jawab untuk menjaga keserasian dan keutuhan bumi ciptaan Allah.

Kitab Kejadian menceritakan masih ada manusia yang berkenan kepada Allah, Nuh, yang dilibatkan Allah dalam menyelamatkan segala jenis makhluk hidup dalam sebuah bahtera terhadap air bah yang menenggelamkan bumi (Kej. 6:8-10, 14-7:24). Allah tak hanya menyelamatkan Nuh dan segala makhluk hidup dalam bahtera, tetapi juga mengingat mereka dan memulihkan kembali bumi bagi mereka (8:1-19). Allah tetap setia kepada bumi ciptaannya dengan memanggil Abraham untuk menjadi berkat bagi segala kaum di bumi (Kej. 12:1-3).

Segalanya diciptakan dan didamaikan dalam Kristus
Kita belajar dari Yesus untuk melihat dan merenungkan pesan yang ada dalam setiap makhluk. Ia melihat di situ tanda-tanda penyelenggaraan dan kasih Bapa untuk kita dan segala makhluk-Nya itu (Mat. 6:26-30). Mereka semua didandani, dibekali, dan diingat oleh-Nya, sampai yang terkecil pun (Luk. 12:6). Benih-benih yang ditaburkan dan jatuh di aneka macam tanah, atau pun biji paling kecil yang menjadi perdu sesawi yang besar, berbicara kepada Yesus tentang hal-ihwal Kerajaan Allah (Mat. 13). Yesus dapat menangkap pesannya sebab Ia hidup dalam keserasian dengan alam ciptaan. Alam, danau, angin pun taat kepadanya (Mrk. 4:39-41).

Perjanjian Baru mengajar kita bahwa Kristus berelasi dengan alam ciptaan. Relasi-Nya dengan dunia ciptaan mencakup seluruh perjalanan-Nya dari awal mula penciptaan sampai akhir zaman. Asal dan tujuan seluruh ciptaan ada dalam misteri Kristus. Alam ciptaan bukan hanya baju yang akhirnya kita tanggalkan dan tinggalkan, tetapi berziarah bersama manusia menuju Allah. Di akhir zaman, Anak akan menyerahkan segala sesuatu kepada Bapa, supaya “Allah menjadi segala di dalam segalanya” (1Kor 15:28). Tujuan akhir alam semesta pun ada dalam kepenuhan Allah, dan bukan dalam manfaatnya bagi kita (LS 100). Manusia yang diberkati dengan kecerdasan dan cinta, serta ditarik kepada kepenuhan Kristus, dipanggil untuk mengantar semua makhluk kembali kepada Asal dan Tujuan mereka (LS 83).

disari dari buku pegangan BKSN 2019 Keuskupan Agung Semarang