Pesan Uskup di Taman Doa Ngrawoh

Dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan dua hal yang penting untuk menjadi bahan renungan Bapak, Ibu, Saudara-saudari, dan Anak-anak yang terkasih. Yang pertama yaitu pesan Bapa Uskup di Taman Doa Ngrawoh.

Dalam kunjungan Bapa Uskup Mgr. Robertus Rubiyatmoko (07/09) di Taman Doa Ngrawoh memberi pencerahan bagi umat. Pesan tersebut bukan hanya untuk umat yang hadir pada saat audiensi dengan Bapa Uskup Robertus Rubiyatmoko di Taman Doa semata, tetapi juga untuk seluruh umat Paroki Sragen. Pengajaran yang beliau sampaikan sangat visioner. Pengajaran tersebut disampaikan dengan sangat sederhana dan mudah dimengerti semua umat.

Konsep visioner yang beliau sampaikan dilatarbelakangi dengan hadirnya Taman Doa Ngrawoh. Ada 4 pokok nilai yang disampaikan untuk menyikapi dan mengembangkan Taman Doa Ngrawoh, terutama semangat pertobatan yang menjadi spiritualitas umat yang berlindung pada Santa Maria Fatima. Hal tersebut itu pula dibingkai dengan sabda Tuhan dalam Kisah Para Rasul 2:41-47.

1. “Guyub lan kempéling Pasamuwan Suci.”Iman mendasari ke-guyub-an bersama sebagai kesatuan jemaat Allah. Oleh karena itu, kita diajak untuk semakin beriman dengan membangun persaudaraan, membaca Kitab Suci, doa, dan pelayanan kasih, serta mendengarkan pengajaran yang disampaikan hierarki gereja, sehingga yang diputuskan oleh Uskup yang dijabarkan Paroki wajib didengarkan umat.

2. Taman Doa Ngrawoh hendaklah menjadi ziarah seluruh umat. Perjumpaan kita dari berbagai kalangan atau daerah bisa membuat kita saling berbagi pengalaman iman. Dengan kata lain kita saling diteguh dalam iman.

3. Berbagi berkat dengan masyarakat. Kehadiran Taman DoaNgrawoh juga diharapkan menghadirkan berkat nyata bagi fakta sosial yang ada; Memperhatikan keadaan masyarakat sekitar dan berbagi berkat bagi mereka

4. Kehadiran Taman Doa Ngrawoh bukanlah ekslusif untuk umat Katolik, mari kita gerakkan srawung dengan masyarakat umum, dengan pemerintah dan dengan lembaga lain. Dengan demikian Taman Doa Ngrawoh bersifat inklusif; Terbuka dan membangun kerjasama dengan siapa saja termasuk dengan agama lain.

Dari keeempat hal ini diharapkan kita sungguh membangun Kerajaan Allah sebagaimana dihidupi oleh jemaat awal Gereja, serta menghidupi semangat pertobatan yang menjadi spiritualitas penampakan Santa Perawan Maria di Fatima.

Hal yang kedua, adalah pesan untuk kaum muda, khususnya berhubungan dengan karya misi mewartakan kabar gembira (Injil) di dalam dunia. Pertanyaan yang muncul dalam benak saya yaitu “Karya Misi: Mana peran kaum muda?”

Karya misi adalah tindakan atau gerakan mewartakan karya Allah bagi orang/masyarakat yang belum mengenal Kristus. Kalimat ini terkadang membuat orang berpikir dan bertanya “Apakah saya harus pergi dari rumah dan mencari orang-orang kampung yang belum beragama Kristiani?” Pemikiran tidak seutuhnya benar. Bolehlah kita merubah sedikit makna misi di jaman sekarang. Karya Misi kita mengerti sebagai gerak menumbuhkembangkan benih-benih sabda Allah hingga berbuah. Kita tidak mencari mencari orang yang belum mengenal Kristus.

Dalam arti ini sangatlah terbuka peluang OMK untuk bergerak. Misalnya :
1. OMK bisa menggerakkan dirinya sebagai kelompok seusianya untuk berdiskusi tentang berbagai hal. Misalnya tentang pengetahuan iman Katolik, tentang masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat sekitar, mungkin juga tentang tentang isu-isu politik. 2. OMK bisa memberi warna dalam kegiatan lingkungan atau wilayah dengan keterlibatannya di dalam kegiatan lingkungan atau wilayah, bisa juga dengan ide-ide segarnya.
3. OMK bisa memberi warna dalam liturgi gereja.
4. OMK bisa menjalin kerjasama dengan kaum muda pada umumnya untuk berkegiatan bersama dalam memperhatikan keadaan masyarakat sekarang.

Karya misi bisa kita lakukan di sekitar kita, ke mana orang muda sekarang? OMK kita ada, tidak kemana-mana dan diam tenang saja. Oleh karena itu, marilah OMK kita berpartipasi dalam misi Gereja kita.

.

Yohanes Ngatmo, Pr