Hidup Menggereja seturut teladan Orang Kudus

Sebutan orang Kudus untuk pria Santo, sedangkan untuk wanita Santa. Sebagai orang yang Katolik yang sudah dibaptis, kita menggunakan nama orang kudus. Ketika akan dibaptis bayi, nama orang kudus itu akan dipilihkan oleh orang tua atau emban baptis atau juga kerabat dekat. Namun jika baptis dewasa, kita bisa memilih nama sendiri orang kudus tersebut, bukan karena nama itu keren. Nama orang kudus mempunyai arti bagi kita sebagai pribadi yang dewasa, atau bisa jadi, kita minta kepada saudara memilihkan nama baptis yang akan kita kenakan seumur hidup.

Seorang yang disebut Santa/ Santo mempunyai sejarah hidup yang bagus dan oleh Gereja menjadi kekayaan iman yang hidup dan sungguh menyemangati hidup iman kita sebagai orang Katolik. Mereka yang digelari orang kudus ternyata memperjuangkan iman kepada Tuhan yang diimaninya. Demikianlah hidup sebagai orang Katolik memperjuangkan iman dan menyemangatinya terus-menerus sampai akhir hayat.

Baik adanya bahwa kita ingat tanggal kita dibaptis dan mohon semangat doa (spirit) dari nama Santo/Santa yang dipilih. Refleksi diri sebagai orang Katolik adalah “Sudahkah saya memaknai sungguh-sungguh nama orang kudus yang melekat dalam diri sampai saat ini?” Atau refleksi yang sama sesuai dengan tema di atas ”Bagaimanakah hidup menggereja seturut teladan orang kudus?”

Hidup menggereja tidak hanya tinggal dan beraktivitas di seputar Gereja (paroki) saja, tapi juga berani keluar berkumpul dengan hidup dengan masyarakat yang majemuk. Hidup di dalam masyarakat adalah wujud nyata keberadaan kita. Disinilah iman kita diuji, dikuatkan dan ditantang manakala kita berbuat baik dalam perilaku.

Sebelum dinobatkan menjadi orang kudus, mereka hidup bermasyarakat seperti masyarakat pada umumnya. Bergaul dan beraktivitas seperti keluarga-keluarga lain pada umumnya. Misalnya (bisa baca Ensiklopedi Orang Kudus) Fransiskus Asisi yang berasal dari keluarga pedagang kain di kota Asisi, ia bergaul seperti pemuda lainnya. Demikian pula Bernadeth yang tinggal bersama bersama keluarganya mencari kayu di hutan. Dua contoh orang kudus (sebelum mereka dinobatkan menjadi orang kudus) tersebut juga mengalami pergulatan hidup dan iman untuk tetap teguh dalam iman kepada Tuhan.

Hidup menggereja seturut teladan orang kudus berarti berani berkorban untuk cita-cita mulia sebagai orang Katolik. Pengorbanan yang tidak hanya berupa uang/materi tetapi berwujud pengorbanan waktu/merelakan waktu kita untuk kemajuan masyarakat dan gereja )menjadi pengurus lingkungan/wilayah/RT/RW/Kelurahan/Kecamatan/organisasi lainnya, dll)

Bahkan bisa dikatakan ”gila” karena keberanian kita membawa sesuatu yang baru, berinovasi di dalam masyarakat dan Gereja. Bahkan rela ide-ide atau saran ditolak , saran tetapi tetap semangat dan gembira dalam hidup ini. Kita mempunyai prinsip bahwa selagi itu berguna dan membantu mengembangkan hidup bermasyarakat dan Gereja, maka kita melakukannya dengan gembira pula. Teladan orang kudus menjadi inspirasi bagi kita untuk terus-menerus mengembangkan iman, harapan, dan kasih serta wewujudkan iman Katolik di manapun berada.

Semoga hidup menggereja bahkan hidup memasyarakat kita menjadi inspirasi bagi sesama yang kita jumpai dan kita melayaninya dengan penuh semangat, seperti orang kudus yang sampai akhir hidupnya tetap setia kepada Tuhan.

Tuhan Memberkati
Suster Verena , SFS