Temu Prodiakon Se-Kevikepan Surakarta

Surakarta (LENTERA) – Temu Prodiakon se-Kevikepan Surakarta dilaksanakan di Aula SMA Regina Pacis Surakarta, Minggu (17/11). Prodiakon se-Kevikepan Surakarta belajar tentang Komunitas, Ekaristi, dan Spiritualitas. Paroki Sragen mengirim 17 orang perwakilan prodiakon. Romo Yohanes Subali Pr, dosen Liturgi Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Yogyakarta, menjadi narasumber kegiatan tersebut.

Romo Subali mendasari materinya Surat pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus (I Korintus bab 10-11). Dalam penjelasannya, Romo mengatakan bahwaSanto Paulus mengkritik kelompok umat di Korintus yang datang memikirkan kepentingan kelompoknya saja, bebas makan dan minum tanpa memperhatikan saudara-saudara yang miskin, karenanya terpecah-belah, yang kaya menyingkirkan yang miskin. Hal tersebut bukanlah semangat Ekaristi yang mendukung kebersamaan dan saling mengasihi. Kesehatan spiritual suatu komunitas ketika kelompok kaya dan miskin tidak terbelah.

Romo Subali mengajak peserta yang hadir untuk melihat persoalan Ekaristi pada masa kini yaitu komunitas yang semangat dalam mengikuti Ekaristi. Gereja yang hidup adalah adanya keterlibatan umat dalam liturgi.

Romo mengajak peserta untuk memperbarui semangat Ekaristi. Romo memaparkan pandangan Kenan Osborne yaitu: Injil yang menjadi pokok mendasar suatu komunitas serta menjadi ladasan tak tergantikan dalam liturgi. Devosi ekaristi tidak memberi pengaruh yang bertahan lama kecuali jika komunitas tersebut berorientasi pada injil (saling mengasihi).Pembaruan komunitas kristiani tak akan terjadi apabila Injil tidak menjadi pusat pembaruan.Tidak ada komunitas Kristiani yang dapat disamakan dengan komunitas lain.Tidak ada komunitas kristiani ideal yang menjadi model sempurna bagi komunitas kristiani lainnya.Yang ada sejak awal adalah komunitas-komunitas kristiani dengan berbagai macam kekhasan dan berjuang untuk mewujudkan Injil.

Pada bagian akhir Rm Subali menyatakan: gerak ekaristi adalah dari komunitas dan kemudian ke pelayanan yang lebih luas dan hakekat ekaristi: membuat lingkaran cinta dalam komunitas yang berkembang.(Atmadi)