Pribadi yang Transformatif

Menjadi pribadi yang transformatif berarti bahwa kita mampu berubah, berbenah dan berbuah dalam kebaikan. Perubahan itu tentulah kita mulai dari diri kita terlebih dahulu. Tidak mungkin ada perubahan kalau kita hanya mengandalkan orang lain yang melakukan perubahan terlebih dahulu. Bila kita yang memulai perubahan terlebih dahulu maka orang lain akan ikut melakukannya.

Misalnya kita meminta anak-anak kita untuk menghabiskan makanan yang sudah diambil di piring, hal itu tidak akan bisa terwujud kalau kita sebagai orang tua tidak memberi teladan untuk menghabiskan makanan yang sudah diambil di piring.

Perubahan akan terjadi apabila kita memiliki waktu untuk diam sejenak, merefleksikan hidup kita. Merefleksikan hidup berarti memberi ruang dan waktu bagi Tuhan untuk selalu menyapa hidup kita. Pertanyaan bagi kita: ÔÇťApakah setiap hari kita memiliki waktu untuk merefleksikan hidup ini? Mungkin jawabannya pernah, atau kadang-kadang atau sering. Baiklah kalau kita setiap hari sebelum memulai suatu kegiatan melakukan penyadaran, misalnya dengan mengetahui situasi, perasaan yang dominan dalam satu hari. Kesadaran ini akan membuat kita semakin bijaksana dan mampu membina hidup yang lebih baik.

Mari kita belajar dari pengalaman Zakheus dalam Lukas 19:1-10. Saya menyebut Zakheus sebagai pribadi yang transformatif yang sudah merefleksikan hidupnya. Sebagai pegawai pajak kita tahu bagaimana hidupnya, tidak banyak orang yang suka dengan profesinya sebagai pegawai pajak, tidak ada orang menyapa, tidak ada orang yang mau datang ke rumahnya apalagi makan bersamanya.

Namun apa yang terjadi saat Zakheus disapa oleh Yesus. Semuanya berubah, Zakheus menjadi pribadi yang murah hati. Siapakah Zakheus sehingga Yesus mau datang ke rumahnya? Kita semua ini adalah umat Allah. Apakah hanya Zakheus yang dapat berubah menjadi lebih baik? Tentu saja tidak hanya Zakheus, kita juga bisa menjadi pribadi yang transformatif dengan mau melakukan segala sesuatu mulai dari diri kita, misalnya: Sebagai orang Katolik yang transformatif kita tidak hanya memenuhi lima perintah Gereja, namun juga menghayatinya dengan baik:
1. Rayakanlah hari Raya yang disamakan dengan hari Minggu
2. Ikutlah Perayaan Ekaristi pada Minggu dan hari Raya yang diwajibkan dan jangan melakukan pekerjaan yang dilarang pada hari itu.
3. Berpuasa dan berpantang pada hari yang ditentukan.
4. Mengaku dosa sekurang-kurangnya sekali setahun
5. Sambutlah Tubuh Tuhan pada masa Paskah

Mari kita melaksanakan 5 Perintah Gereja ini dengan hati yang penuh syukur. Hidup kita adalah berkat dari Tuhan, tidak ada sesuatu apapun berasal dari diri kita sendiri. Kesehatan, kebahagiaan, kesejahteraan adalah berkat Tuhan. Semoga Tuhan selalu membimbing langkah kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik yang selalu mendengarkan suara Tuhan dan hidup dalam jalan Tuhan.

Suster Kamila, SFS