Transformasi Menuju Peradaban Kasih

Berdasarkan Kisah Para Rasul 9: 1 – 22
Pengalaman bertobatnya Saulus menjadi peristiwa yang patut kita renungkan. Saulus adalah orang yang Yahudi yang mumpuni dalam pengetahuan hukum dan kekudusan berdasarkan Taurat Musa. Ia belajar dalam bimbingan Gamaliel. (Gamaliel adalah orang Farisi terkenal. Ia pengajar ulung di Yerusalem. Ia terkenal paling toleran dan liberal dalam keputusan mengenai hukum keagamaan). Oleh karena itu Saulus menjadi tokoh terpandang dalam keagamaan. Ia hidup dalam keteraturan rohani yang matang. Ia menepati hukum dan peraturan dengan keras.

Munculnya gerakan atas ajaran baru yang diprakarsai orang yang bernama Yesus dan dilanjutkan oleh murid-murid Yesus membuat kegoncangan bagi kerapaian kehidupan keagamaan yang sudah ada. Bahkan semakin banyak orang yang percaya dan menjadi pengikut gerakan keagamaan yang baru ini. Isi ajaran yang baru juga bertentangan dengan apa yang sudah ada. Misalnya, tentang kebangkitan badan. Mereka menentang itu semua. (bdk. Luk 20: 17-40 ). Juga tentang sabat (Luk 6: 6-11. Dan, masih banyak hal lain yang diperdebatkan. Keadaan menjadi berubah. Kehidupan keagamaan yang selama ini tertata dengan baik menjadi bacau. Banyak yang menjadi gelisah dan bimbang.

Tampillah Saulus untuk memberantas gerakan keagamaan yang baru berkembang ini. Saulus tidak segan-segan untuk membunuh orang-orang yang tidak mau meninggalkan ajaran yang baru. Saulus menyaksikan Stefanus yang bunuh setelah diadili Mahkamah Agama. Saulus menyetujuinya. (Kis 7: 54 – 8:1a). Semangat Saulus semakin membara. Ia terus bergerak untuk menghabisi semua pengikut Yesus. Ia pun minta surat kuasa kepada Imam Besar untuk dibawa ke Damsyik, untuk menghabisi semua murid-murid Yesus.

Dalam perjalanan ke Damsyik terjadilah peristiwa yang paling menentukan bagi kehidupan Saulus di kemudian hari. Ada seberkas sinar dari langit yang mengelilingi Saulus. Ia jatuh ke tanah dan menjadi buta. Rombongan Saulus pun menjadi kebingungan, apalagi setelah ada suara yang berseru: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” (Kis 9: 4). Dari situ Saulus kemudian dibawa masuk kota Damsyik. Selama tiga hari Saulus mengalami kebutaan dan selama itu pula ia tidak makan dan minum. Ia berdoa. Setelah ditolong Ananias (murid Yesus) dengan menumpangkan tangan dan berdoa, Saulus pun sembuh dari kebutaannya. Saulus kemudian minta dibaptis. Dan, selanjutnya Saulus berubah nama menjadi Paulus. Ia menjadi percaya akan Yesus Kristus. Ia menjadi pewarta atas karya Yesus bagi keselamatan sekalian bangsa. Bahkan, ia rela mati demi suatu kesaksian yang mulia atas Injil, kabar suka cita.

Paulus mengalami transformasi yang amat mendalam. Transformasi itu terjadi karena ia mengalami perjumpaan dengan Yesus sendiri. Seluruh hidupnya mengalami perubahan. Ia pun berbenah diri dan memutuskan untuk mengalami pembaptisan. Ia percaya. Ia memperoleh hidup baru.
Saulus yang semula mengancam keselamatan hidup pengikut Kristus, kini ia menjadi pembawa kedamaian dan sukacita. Ia membangun peradaban kasih sebagi wujud berkah yang ia terima.
Apakah kita juga mengalami pencerahan iman? Apakah kita juga menyadari perjumpaan dengan Yesus dalam hidup kita? Apakah kita juga berani bersaksi dalam hidup ini sebagai murid-murid Kristus?

Yohanes Ngatmo, Pr