Mengapa Kemuliaan dan Alleluia Tidak Dinyanyikan Selama Masa Prapaskah?

Masa Prapaskah Gereja Katolik ditandai perayaan Rabu Abu. Umat menerima abu di dahi mereka sebagai tanda pertobatan. Selama masa Prapaskah, umat diajak untuk mengenangkan pembaptisan dan melakukan pertobatan. Warna liturgi selama masa Prapaskah adalah ungu, melambangkan pertobatan. Namun, pada Tri Hari Suci atau perayaan wajib selama masa Prapaskah, warna liturgi yang digunakan bukan ungu. Liturgi masa Prapaskah sedikit berbeda dengan biasanya.

Selama masa prapaskah umat tidak menyanyikan Alleluia sampai Malam Paskah. Demikian juga Gloria, kecuali pada hari Kamis Putih Gloria dinyanyikan. Dalam masa Prapaskah, pesta atau resepsi pernikahan tidak dianjurkan. Biasanya penerimaan Sakramen Perkawinan dan Sakramen Imamat ditiadakan selama masa Prapaskah. Hiasan Altar selama masa Prapaskah juga sederhana, hanya seperlunya. Panti imam tidak boleh dihias secara meriah. Ikon kudus juga ditutup dengan kain. Alat musik yang dimainkan untuk mengiringi Misa dimainkan secara sederhana dan mendukung suasana tobat.

Kemuliaan/Gloria dan Alleluia merupakan nyanyian pujian untuk merayakan kedatangan Tuhan. Pada masa Prapaskah, Gereja mengenang masa ketika umat Allah berada di pengasingan, menanti kedatangan Mesias yang menyelamatkan. Gereja juga mengenang peristiwa Musa dan orang Israel ketika mereka di padang gurun selama 40 tahun. Ini adalah masa penderitaan dan penyucian.

“Alleluia” merupakan ungkapan bahasa Ibrani yang berarti “puji Tuhan” sehingga dalam masa Prapaskah “Alleluia” tidak dinyanyikan. Selama masa Prapaskah, umat diajak untuk merenungi dan menyesali dosa-dosa serta bertobat. Umat diajak untuk lebih memperdalam iman, melakukan laku tobat, melakukan pantang dan puasa, dan banyak melakukan karya amal kasih.

Alleluia, Gloria dan hiasan altar yang meriah merupakan ungkapan kegembiraan, suka cita dan meriah. Karena merupakan masa tobat, selama masa Prapaskah ungkapan kegembiraan dan kemeriahan harus dihindari. Lagu Kemuliaan atau Gloria tidak dinyanyikan selama masa Prapaskah, kecuali pada hari Kamis Putih. Sedangkan Alleluia tidak dinyanyikan sampai Malam Paskah.

Hal ini tidak berarti kita tidak boleh memuji dan memuliakan Tuhan. Kita tetap memuji Tuhan dalam masa prapaskah namun menghindari ungkapan pujian yang meriah, karena masa puasa ini.

Selama masa Prapaskah, fokus kita adalah pada Kerajaan yang akan datang, bukan pada Kerajaan yang sudah datang. Bacaan-bacaan dalam Misa selama masa Prapaskah dan dalam Ibadat Harian berfokus pada perjalanan rohani bangsa Israel dalam Perjanjian Lama menuju kepada kedatangan Kristus, dan keselamatan umat manusia karena kematian dan kebangkitan-Nya. Itu juga yang menjadi perjalanan rohani kita.

Kita juga sedang melakukan sebuah perjalanan rohani, sebuah retret agung menuju kepada Kedatangan Yesus yang kedua kalinya dan kehidupan masa depan di Surga. Selama masa prapaskah kita tidak menyanyikan lagu untuk memuliakan Tuhan seperti para malaikat tetapi kita justru mengakui dosa kita dan mempraktikkan pertobatan sehingga suatu hari nanti kita juga akan memiliki hak istimewa untuk menyembah Allah seperti para malaikat di surga.

Nanti pada perayaan Malam Paskah kita ungkapkan pujian kepada Tuhan secara megah dan meriah bersama Kristus yang bangkit mengalahkan dosa dan maut dengan menyanyikan Alleluia dan Gloria secara megah dan meriah. Kita merayakan kebangkitan Kristus mengalahkan dosa dan maut. Lagu Alleluia dan Kemuliaan/Gloria dinyanyikan secara megah dan meriah pada saat itu.

Pada malam Paskah haleluia akan dimadahkan sebanyak tiga kali oleh imam atau diakon dan diikuti serempak oleh seluruh umat dengan meriah. Ini menandakan Tuhan telah bangkit; Kerajaan telah datang; sukacita kita menjadi penuh dan bersama dengan paduan suara para malaikat dan orang kudus, kita juga menyapa Tuhan yang bangkit dengan seruan “Haleluya!”