Bertobat hingga memberi buah

Memasuki masa prapaskah, perhatian Gereja ditujukan pada adanya pertobatan dan perubahan hidup. Dalam hal ini guna memompa atau membesarkan motivasi diri demi perkara ini, mari kita menimba inspirasi hidup dari tokoh Perjanjian Lama. Dia itu adalah Nabi Yesaya.

Seruan sang Nabi
Salah satu seruan tobat yang lugas dan tegas pernah diserukannya adalah dalam Yesaya 58. Dikatakan demikian.
Ayat 2 – 7. Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah, tanyanya:”Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?” Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.
Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menun-dukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN?
Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk.
Yang Kuinginkan, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!

Tata batin dan tata lahir mesti nyambung
Kesadaran hidup beriman yang serius, bagi sang nabi, bukan saja itu merupakan wilayah batin (baca: tatarohani) dan pribadi namun juga harus menyangkut ungkapan lahir (baca: tata jasmani) dan hidup sosial. Silakan memperhatikan kutipan ini, “ . . .mereka suka mendekat menghadap Allah, tanyanya:”Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Sembah bhakti atau doa yang dilakukan oleh umat, dalam titik tertentu dalam hidup dianggap kosong dan kering. Sebab Allah tidak memberikan perhatian sebagaimana diharapkan. Yang demikian ini tentu bukan barang asing; artinya sangat mungkin terjadi dalam hidup umat dahulu maupun sekarang. Apakah sebabnya?

Sang nabi memberi keterangan, berpuasa sebagai bagian dari proses tobat tidak hanya urusan tata batin semata; tetapi menyangkut tata lahir pula. Kalaupun seseorang mempunyai tata batin yang sepertinya indah-penuh – pesona: “. . . . mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar. Di hadapan Allah bisa saja umat atau seseorang sudah bersikap batin dengan amat bagus, yakni hendak tahu hukum atau kehendak Allah. Berpuasa, yang diakui sebagai tindakan ibadah, ternyata bagi bangsa terpilih BISA dilakukan tanpa menggubris pola kelakuan kasar terhadap sesama: . . . mendesak-desak semua buruhmu. . . . berpuasa sambil berkelahi serta memukul dengan tinju pada sesama. Jadi agaknya orang beribadah dan iapuas pada ungkapan ibadah yang bagus, sampai di situ saja; tidak lebih. Maka sang nabi dengan tegas menyatakan, “ . . .Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, . . . “Maka yang dikehendaki sang nabi, tobat semestinya disertai dengan puasa atau laku matiraga, seseorang masih diminta melakukan kebaikan terhadap sesama. Berpuasa yang dengannya seseorang ingin berbenah, diharuskan menghayatinya sampai pada perbuatan moral. Ungkapan yang diberikan sang nabi: membuka belenggu kelaliman, dan membagi roti; dst..
Berpuasa yang berbuah
Perbuatan moral atau berbuat baik bagi sesama bagi kita kali inipun dikehendaki oleh Bapak Uskup. Dalam surat gembalanya (surat Gembala Prapaskah 2020) ditegaskan bahwa kita diminta membina semangat pertobatan yang diwujudnyatakan dalam perubahan-perubahan hidup yang nyata (lihat SC 109). Lebih lanjut dikatakannya,. . . . Karena itu, saya mengajak Anda semua untuk memanfaatkan masa prapaskah ini dengan sebaik mungkin, terutama dengan mengupayakan pertobatan yang sejati, yakni dengan lebih sungguh menyadari kedosaan dan kelemahan, mensyukuri kerahiman dan belas kasih Allah, serta membangun kesucian melalui keutamaan-keutamaan hidup kristiani.

Pertobatan yang dasar-dan- benar adalah adanya wujud nyata dari hasrat itu dalam kehidupan bersama dengan orang lain. Pertobatan yang sejati pastilah membuat orang untuk tergerak dan bergerak (obah) guna bersama-sama dengan orang lain mewujudkan kebaikan dan keutamaan hidup, termasuk lewat hal-hal yang kecil dan sederhana sekalipun. Dengan demikian kita dapat menemukan kaitan antara urusan internal diri dan urusan eksteranal dari pertobatan itu. Pertobatan bagi kita merupakan upaya perbaikan pribadi di hadirat Allah yang harus terus diproses hingga menjadi nyata dalam kasih kita kepada sesama.

Akhirnya, marilah demi mengupayakan cita-cita ini kita memohon rahmat Roh Kudus. Roh ini akan memberi pemahaman yang benar mengenai puasa dan pertobatan; dan selanjutnya menyemangati kita untuk semakin trampil berbuat baik bagi sesama.

Sragen, 24 Februari 2020
Medardus Sapta Margana, Pr