Nyala Api Paskah

Di Papua, menjelang dimulainya perayaan Paskah, ada kebiasaan anak-anak sibuk mengumpukan kayu-kayu kering. Kayu-kayu itu disusun sedemikian rapi. Satu jam sebelum dimulai upacara cahaya, tumpukan kayu itu dibakar. Umat berteriak gembira, sambil bergandengan tangan mereka mengekspresikannya; bahkan dengan melompat-lompat sambil memandangi kilatan api yang semakin membara itu. Lama-lama berubah. Ada yang mulai menangis, ada yang menepuk-nepuk dadda seakan-akan mereka melemparkan masa lalunya yang penuh dosa dan ingin memperbaharui hidup bersama Yesus yang bangkit mulia.

Di paroki kita, perayaan Paskah tahun ini diselenggarakan secara sederhana. Tidak banyak ekspresi. Tidak banyak kreasi atau inovasi. Semua serba sederhana. Kesederhanaan itu tampak dalam liturgi maupun suasana pada umumnya. Hal ini terjadi bersamaan dengan situasi dan kondisi hidup kita bersama yang dibayang-bayangi oeh penyebaran Virus Corona. Kita musti menaati keputusan pemerintah dan juga “Dhawuh Bapa Uskup”.

Kondisi riil saat ini digambarkan dalam pengalaman para murid. Mereka dalam ketakutan. Ada rasa kecewa, cemas, khawatir dan bahkan putus asa. Mereka mengurung diri, bahkan pulang kampung. Seakan-akana tidak ada harapan. Kedua murid Emaus itu mengalami kepedihan yang mendalam.

Kesederhanaan perayaan Paskah diharapkan tidak mengurangi makna Paskah itu sendiri. Dalam kondisi riil ini justru diharapkan makna Paskah semakin mendalam. Yesus hadir dan membimbing kita. Yesus tidak membiarkan kedua murid Emaus itu larut dalam kekecewaannya. Mereka disertai Yesus dalam perjalanan. Pembicaraan mereka semakin mendalam tentang peristiwa Yesus. Yesus membuka hati mereka dan mereka semakin tenang. Bahkan, mereka semakin berkobar hatinya. Apalagi setelah mereka mengenali kembali “bahwa itu adalah Yesus”, mereka berlari, kembali kepada teman-temannya. Mereka mengabarkan bahwa Yesus telah bangkit dan memperlihatkan diri kepada mereka. Ada secercah harapan dan suka cita ketika Yesus hadir dan mereka kenali-Nya dengan cermat. Ada kelegaan walaupun masih ada juga keraguan.

Kehadiran Yesus mengubah semuanya. Mereka yang semula kecewa, kini tegar kembali. Mereka bersuka-cita. Mereka yang putus asa kini berkobar semangatnya. Mereka menemukan daya hidup. Mereka yang pulang kampung Emaun dengan hati murung, kini mereka bangkit untuk mewartakan kabar suka-cita kepada teman-temannya.

Kita memupuk harapan itu dengan mencoba menggali dan menemukan sisi positif peristiwa yang kita alami. Saat ini kita seakan-akan dikurung. Tinggal di rumah, mengerjakan banyak hal di rumah. Misa online. Barang-barang menjadi langka dan mahal harganya. (semoga kita bersama masyarakat Indonesia segera terbebas dari penderitaan ini).

Rumah kini sungguh menjadi pusat segala aktivitas. Bapak, ibu, anak-anak dan anggota keluarga yang lain semakin dipersatukan secara intens. Ada kesempatan mengembangkan relasi keluarga secara lebih mendalam. Bahkan tersedia waktu seluas-luasnya untuk berdoa bersama dalam keluarga masing-masing. Keluarga sungguh menjadi Gereja Mini yang nyata. Ada kesempatan luas untuk saling mengenal lebih mendalam; saling mengembangkan dan mengasihi. Kehadiran Yesus membuat keluarga menjadi kesatuan yang damai dan tenang dan damai sebagaimana diidolakan dalam Kelaurga Kudus Nazareth.

Banyak diberitakan. Dalam keluarga menyiapkan altar untuk mengikuti misa online. Semuna anggota keluarga berkumpul dan berdoa bersama. Saya yakin, hal ini suatu peristiwa yang membanggakan. Ada kesempatan berkumpul dalam kesatuan keluarga; saling mendoakan. Keluarga menjadi komunitas doa.

Dari pengenalan satu dengan yang lain dalam keluarga dibarengi dengan doa itu ada harapan, kita saling mendoakan; bahkan mempersembahkan keluarga kepada Yesus. Di sinilah ada suka-cita mendalam. Hanya dalam hati yang bersuka-cita itulah kita bisa bersyukur dengan tulus.

Perjumpaan secara pribadi dan dalam keluarga dengan Yesus membuat kita mengalami pencerahan iman yang menggerakkan jiwa untuk berubah dan berdaya ubah. Mampu memperbaharui diri dan keluarga untuk menikmati kebangkitan Kristus yang mengarahkan hati ke masa depan.
Semoga semakin berkobarlah semangat kita. Ada keindahan yang tulus dalam keluarga. Kesejukan keluargamu menjadi kesaksian kebangkitan iman kita akan Yesus Kristus bagi siapapun. Cahaya kebangkitan Kristus bersinat dalam keluarga dan mercahaya menggerakkan keluarga atau pribadi yang lain untuk menggapai Berkat Paskah. Kristus cahaya dunia. Syukur kepada Allah.

Suatu ajakan
Mari kita tetap mengupayakan dan menjaga hidup sehat; baik secara fisik maupun mental-spiritual.
Tetap berbahagia di tengah-tengah perjuangan hidup. Bersemangat menjalani tugas harian kita. Rajin berdoa dan beribadah agar selalu bisa menikmati berkat Tuhan.

Yohanes Ngatmo, Pr