Surat Edaran Gugus Tugas Covid-19 KAS Tentang Panduan Perayaan Liturgi & Peribadatan serta kegiatan pastoral lainnya dalam masa “New Normal”

SURAT EDARAN GUGUS TUGAS PENANGANAN DAMPAK COVID-19 KAS
Nomor: 0536/A/X/20-29

KETENTUAN-KETENTUAN BARU DAN TAMBAHAN
Atas Surat Edaran Nomor: 0490/A/X/2020-27 tanggal 10 Juni 2020
TENTANG PANDUAN PERAYAAN LITURGI DAN PERIBADATAN
SERTA KEGIATAN PASTORAL LAINNYA DALAM MASA “NEW NORMAL”

Rapat Koordinasi Kuria KAS dan para Vikaris Episkopalis pada Selasa, 23 Juni 2020, setelah mendengarkan paparan para Vikep tentang persiapan dan kesiapan paroki-paroki untuk pembukaan peribadatan bersama umat, memutuskan: Sabtu-Minggu, 18-19 Juli 2020 ditetapkan sebagai saat dimulainya kegiatan peribadatan yang melibatkan umat, dengan tetap mengikuti ketentuan peribadatan di masa pandemi Covid-19 sebagaimana ditetapkan dalam Surat Edaran Nomor 0490/A/X/2020-27, tanggal 10 Juni 2020.

Ketetapan penyerta lainnya yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:

Point 1
(a) Peribadatan yang dibuka untuk Umat hanya peribadatan (perayaan Ekaristi) yang dilaksanakan di gereja atau kapel Paroki.

(b) Perayaan Ekaristi di lingkungan atau wilayah dan di kelompok-kelompok kategorial belum diijinkan.

(c) Biara-biara dapat menyelenggarakan perayaan Ekaristi di kapel biara tanpa melibatkan atau kehadiran umat dan harus sepengetahuan Romo Paroki.

Point 2
(a) Demi pelayanan kepada umat dan untuk mengurangi penumpukan agenda perayaan Ekaristi pada Sabtu sore hingga Minggu sore, maka paroki-paroki dapat melaksanakan kegiatan perayaan Liturgi Hari Minggu mulai hari Jumat sore sampai dengan hari Senin sore, bahkan dapat merayakannya sepanjang pekan.

(b) Misa harian dapat dilaksanakan dengan tetap mengindahkan protokol kesehatan seperti seharusnya pada Ekaristi mingguan.

Point 3
Karena tuntutan kebutuhan pastoral sebagaimana dinormakan dalam kanon 905, seorang imam diperkenankan memimpin perayaan Ekaristi dua kali sehari dan bahkan tiga kali pada hari Minggu dan hari-hari pesta wajib (hari raya), dengan tetap memperhatikan persiapan rohani dan disposisi batin yang cukup, serta kondisi fisik yang sehat untuk dapat melayani umat.

Point 4
(a) Mengingat batasan usia yang diperkenankan mengikuti perayaan Ekaristi di gereja/kapel maksimal 65 tahun, maka prodiakon yang sudah berusia lebih dari 65 tahun atau memiliki sakit bawaan yang menjadikannya rentan terhadap Covid-19 tidak diperkenankan bertugas.

(b) Guna memenuhi kebutuhan untuk membagi komuni dalam perayaan Ekaristi di gereja/kapel dan untuk melayani komuni bagi umat yang sakit serta para lansia yang mengikuti perayaan Ekaristi online melalui live-streaming di rumah masing-masing atau di panti wredha, maka para Pastor Paroki dapat mengangkat asisten pelayan-pelayan luar biasa pembagi komuni (bdk. Kan. 910 §2, bdk. Kan. 230 §3) untuk jangka waktu tertentu. Para asisten ini hanya bertugas menerimakan komuni.

Point 5
(a) Mengingat yang diperkenankan mengikuti perayaan Ekaristi di gereja/kapel adalah mereka yang berumur sekurang-kurangnya 10 tahun (atau sudah menerima komuni) dan maksimal 65 tahun, maka anak-anak di bawah 10 tahun (atau belum menerima komuni) dan para lansia berumur 65 tahun ke atas mengikuti misa secara online melalui live-streaming.

(b) Penerimaan komuni untuk yang sakit dan untuk para lansia akan dilayani di tempat tinggal masing-masing oleh prodiakon atau asisten luar biasa yang membantu menerimakan komuni.

Point 6.
Pada masa “new normal” ini, umat diwajibkan mengikuti perayaan Ekaristi di paroki masing-masing. Tidak diperkenankan mengikuti Ekaristi di paroki lain. Hal ini dimaksudkan demi kesehatan dan kebaikan bersama, serta demi memudahkan pengecekan dan pengaturan umat sesuai dengan protokol kesehatan yang dituntut oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemerintah Republik Indonesia.

Dengan ditetapkannya waktu pembukaan ibadat bersama umat ini, maka Paroki-paroki harus benar-benar mempersiapkan diri dalam segala hal yang dituntut. Paroki-paroki harus sungguh-sungguh mempersiapkan hal-hal berikut:

1. Sumber Daya Manusia: Imam, Satuan Tugas / Satgas dan Petugas Tatalaksana Ekaristi, serta seluruh Umat harus memiliki pengetahuan yang cukup, ketrampilan yang cukup, dan kebijaksanaan yang memadai. Dengan kata lain, Sumber Daya Manusia harus dipastikan memiliki kecakapan yang memadai untuk menjalankan tugas dalam kegiatan umat ini.

2. Sarana-prasarana: harus disiapkan secara memadai baik untuk di dalam gedung gereja/kapel, di lingkungan luar gedung gereja/kapel, maupun di gedung/ruang-ruang pendukung kegiatan pastoral.

3. Keperluan administratif: paroki harus membuat surat pernyataan kesiapan untuk ibadat bersama umat dan surat permohonan izin kepada Gugus Covid-19 di Kabupaten/Kota/Kecamatan; dan paroki harus memastikan bahwa mendapatkan surat persetujuan atau surat izin dari pihak berwenang tersebut berupa Surat Keterangan Rumah Ibadah Aman Covid dari Ketua Gugus Tugas Provinsi/ Kabupaten/ Kota/ Kecamatan untuk melaksanakan peribadatan bersama umat. Paroki yang belum mendapatkan surat keterangan dimaksud dari otoritas sipil yang berwenang (Gugus Covid-19 Kabupaten/Kota/Kecamatan) tidak/belum diperkenankan melaksanakan peribadatan untuk umat.

Keputusan ini dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan situasi dan kondisi terbaru perkembangan pandemi Covid-19.

Ketetapan-ketetapan lain selengkapnya sudah disampaikan dalam edaran terdahulu yaitu Surat Edaran Nomor: 0490/A/X/2020-27, tanggal 10 Juni 2020. Paroki-paroki dan seluruh umat harus benar-benar menaati semua ketentuan tersebut dan disiplin menjalankan segala ketetapan, baik dari Pemerintah maupun dari Gereja.

Semarang, 28 Juni 2020
Gugus Tugas Penanganan Dampak COVID-19 KAS
YR. Edy Purwanto Pr
(Koordinator)


PENJELASAN TERHADAP BEBERAPA BAGIAN/POINT DARI:

Masa peribadatan “New Normal” (kenormalan baru) di tahun 2020 ini akan kita jalani dalam tiga tahap:

Tahap I : TAHAP PERSIAPAN – tanggal 28 Juni s/d 18 Juli (peribadatan bersama umat dimulai) – secara berbeda dari wilayah ke wilayah sebab tergantung pada kesiapan dan juga surat keterangan dari gugus covid kecamatan/Kabupaten-Kota/Propinsi.

Tahap II : TAHAP PELAKSANAAN I – 18 Juli (saat dimulainya peribadatan dengan umat) sampai 30 September 2020 (berakhirnya masa tugas Gugus Covid KAS dan akan dilaksanakannya evaluasi menyeluruh atas praktek/pelaksanaan peribadatan bersama umat selama 2,5 bulan).

Tahap III : TAHAP PELAKSANAAN II – 1 Oktober s/d 31 Desember 2020 (pelaksanaan peribadatan umat dengan perubahan, penyesuaian, dan penyempurnaan berdasarkan hasil evaluasi menyeluruh atas perjalanan  TAHAP PELAKSANAAN I).

Ketetapan penyerta lainnya yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:

 

Point 1

(a) Peribadatan yang dibuka untuk Umat hanya peribadatan (perayaan Ekaristi) yang dilaksanakan di gereja atau kapel Paroki.

(b) Perayaan Ekaristi di lingkungan atau wilayah dan di kelompok-kelompok kategorial belum diijinkan.

è Ijin untuk pelaksanaan perayaan Ekaristi di lingkungan/wilayah, baik dalam rangka kunjungan terprogram dari pastor paroki maupun dalam rangka ujud khusus akan dinyatakan melalui Surat Edaran khusus. Juga untuk perayaan Ekaristi kelompok kategorial berlaku ketentuan yang sama.

(c) Biara-biara dapat menyelenggarakan perayaan Ekaristi di kapel biara tanpa meli-batkan atau kehadiran umat dan harus sepengetahuan Romo Paroki.

Tentang tempat ziarah:

  • Tempat-tempat ziarah belum dibuka untuk peziarah sampai keadaan memungkinkan dan pembukaan akan dinyatakan melalui Surat Edaran khusus ttg pembukaan tempat ziarah dari Gugus Tugas Penanganan Dampak Covid-19 KAS.
  • Panitia Pengelola / Pengurus tempat ziarah dimohon mempersiapkan protokol kesehatan yang harus dipenuhi nantinya ketika seseorang atau suatu kelompok melakukan ziarah.

 

Point 2

(a). Demi pelayanan kepada umat dan untuk mengurangi penumpukan agenda perayaan Ekaristi pada Sabtu sore hingga Minggu sore, maka paroki-paroki dapat melaksanakan kegiatan perayaan Liturgi Hari Minggu mulai hari Jumat sore sampai dengan hari Senin sore, bahkan dapat merayakannya sepanjang pekan.

– Bisa juga tetap menggunakan liturgi rumus harian untuk misa dari Selasa sampai Jumat pagi.

(b) Misa harian dapat dilaksanakan dengan tetap mengindahkan protokol kesehatan seperti seharusnya pada Ekaristi mingguan.

– Penerapan protokol kesehatan untuk misa harian sama dengan protokol kesehatan pada perayaan Ekaristi hari Minggu.

 

Point 3

Karena tuntutan kebutuhan pastoral sebagaimana dinormakan dalam kanon 905, seorang imam diperkenankan memimpin perayaan Ekaristi dua kali sehari dan bahkan tiga kali pada hari Minggu dan hari-hari pesta wajib (hari raya), dengan tetap memperhatikan persiapan rohani dan disposisi batin yang cukup, serta kondisi fisik yang sehat untuk dapat melayani umat.

 

Point 4

(a). Mengingat batasan usia yang diperkenankan mengikuti perayaan Ekaristi di gereja/kapel maksimal 65 tahun, maka prodiakon yang sudah berusia lebih dari 65 tahun atau memiliki sakit bawaan yang menjadikannya rentan terhadap Covid-19 tidak diperkenankan bertugas.

Batasan usia juga berlaku untuk petugas tata laksana dan satuan tugas lain, kecuali imam (alasan: karena mengingat imam adalah pemimpin ibadah dan lebih bisa mengambil jarak dari umat kebanyakan serta disebabkan oleh jumlah imam yang terbatas. Namun demikian tetap memberikan kesempatan bagi imam yang bersangkutan melakukan discernment atau discretio guna mengambil sikap/keputusan yang tepat seraya melihat kondisi kesehatannya).

(b) Guna memenuhi kebutuhan untuk membagi komuni dalam perayaan Ekaristi di gereja/kapel dan untuk melayani komuni bagi umat yang sakit serta para lansia yang mengikuti perayaan Ekaristi online melalui live-streaming di rumah masing-masing atau di panti wredha, maka para Pastor Paroki dapat mengangkat asisten pelayan-pelayan luar biasa pembagi komuni (bdk. Kan. 910 §2, bdk. Kan. 230 §3) untuk jangka waktu tertentu. Para asisten ini hanya bertugas menerimakan komuni.

Beberapa ketentuan yang harus diperhatikan:

  • Calon diajukan oleh lingkungan kepada Pastor Paroki untuk diangkat dan diberi surat tugas oleh pastor paroki untuk jangka waktu tertentu (misal: 18 Juli 2020 sampai 31 Desember 2020 dan bisa ditugaskan kembali apabila melihat situasi dan kondisi menuntut perpanjangan masa penugasan).
  • Calon dibekali untuk hal-hal teknis pelaksanaan tugas dan juga untuk membangun atau mempersiapkan sikap rohani yang dituntut oleh tugas tersebut.
  • Asisten pelayan luar biasa boleh memimpin ibadat singkat dalam pelaksanaan tugas membagi komuni itu untuk atau bersama yang akan menerima komuni selama umat yang mau menerima komuni tersebut belum mengikuti misa online atau menjalankan ibadat pribadi sebagai persiapan batin sebelum sambut komuni. Yang boleh dilakukan hanya memimpin ibadat singkat dalam rangka penerimaan komuni ini, bukan untuk tugas lainnya.
  • Terhadap ketentuan ini, Uskup memberikan kelonggaran bagi para lansia atau yang sedang sakit terkait persiapan diri untuk sambut komuni sebagai berikut:
    1. Sedapat mungkin para lansia dan yang sakit mengikuti misa live-streaming;
    2. Bila tidak memungkinkan untuk mengikuti misa live-streaming karena alasan yang bisa dipertanggungjawabkan maka para lansia dan yang sakit diminta untuk melaksanakan ibadat singkat (teks panduan ibadat singkat disediakan);
    3. Bila yang bersangkutan tidak bisa menjalankan ibadat singkat karena pelbagai alasan yang berat (misalnya tidak bisa membaca, sakit berat, dll) maka dapat menyiapkan hati dengan mendoakan “Bapa Kami” secara sungguh-sungguh dan bisa ditambah dengan doa hafalan lainnya untuk persiapan sambut komuni.

 

Point 5

(a). Mengingat yang diperkenankan mengikuti perayaan Ekaristi di gereja/kapel adalah mereka yang berumur sekurang-kurangnya 10 tahun (atau sudah menerima komuni) dan maksimal 65 tahun, maka anak-anak di bawah 10 tahun (atau belum menerima komuni) dan para lansia berumur 65 tahun ke atas mengikuti misa secara online melalui live-streaming.

  • Lihat ketentuan nomor di atasnya.
  • Landasan pembatasan usia adalah Surat Edaran Menteri Agama RI No. 15 Tahun 2020 tentang Panduan Penyelenggaraan Kegiatan Keagamaan di Rumah Ibadah Dalam mewujudkan Masyarakat Produktif dan Aman Covid di Masa Pandemi. Pada No. 5 huruf h dikatakan: “Melarang beribadah di rumah ibadah bagi anak-anak dan warga lanjut usia yang rentan tertular penyakit serta orang dengan sakit bawaan yang berisiko tinggi terhadap Covid-19”.
  • Penting dipahami oleh para lansia: pembatasan ini dimaksudkan untuk menjaga kesehatan para lansia sendiri dan juga menjaga kesehatan umum. Dan pembatasan ini tidak akan berlaku selamanya, tetapi berlaku dalam tahapan pelaksanaan ibadah bersama umat. Jadi tidak ada istilah “habis manis sepah dibuang” atau “kenapa kami dilarang pada kami-kami inilah yang dalam kondisi normal mengisi gereja dan kegiatan peribadatan Gereja”, dll.
  • Apa dasar penetapan angka usia 10 s/d 65 tahun?
  • Menurut peraturan perundangan di Indonesia, yang dimaksud dengan lansia adalah yang berumur 60 tahun atau lebih (Batasan usia lansia 60 tahun diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia).
  • Dan yang dimaksud dengan usia anak-anak adalah usia di bawah 17 tahun dalam UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Pasal 1 angka 1 memberikan batasan usia anak yakni seorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun. Isi pasal itu menyatakan; “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.”
  • Gereja KAS memperlebar rentang batas usia menjadi minimal 10 tahun atau sudah menerima Komuni Pertama dan maksimal 65 tahun (didasarkan pada Ketetapan WHO untuk lansia dan KHK untuk anak).
    • Menurut World Health Organization (WHO), usia lanjut dibagi menjadi empat kriteria yaitu : usia pertengahan (middle age) ialah 45-59 tahun, lanjut usia (elderly) ialah 60-74 tahun, lanjut usia tua (old) ialah 75-90 tahun, usia sangat tua (very old) ialah di atas 90 tahun.
    • Sedangkan menurut WHO, batasan usia anak adalah sejak anak dalam kandungan sampai usia 19 tahun.

 

(b) Penerimaan komuni untuk yang sakit dan untuk para lansia akan dilayani di tempat tinggal masing-masing oleh prodiakon atau asisten luar biasa yang membantu menerimakan komuni.

  • Pelayanan penerimaan komuni untuk lansia dan orang sakit (ditambah umat yang sehat tetapi masih memilih untuk ikut misa live-streaming karena masih adanya ketakutan/ kekhawatiran atau belum siap ikut misa di gereja/kapel) dilayani oleh petugas yang disebut di atas ini. Maka mereka harus mendaftar atau didaftar oleh Ketua Lingkungan supaya diketahui secara persis jumlah dan alamat atau tempat tinggalnya. Juga bila di waktu tertentu merasa tidak sehat disilakan lapor ke pamong lingkungan.
  • Praksis dari pelayanan penerimaan komuni ini diserahkan kepada para Romo Paroki untuk menentukan cara pelayanannya sesuai dengan situasi dan kondisi di parokinya. Paroki diberi kemerdekaan atau keleluasaan untuk melakukan assesment/penilaian dan memutuskan hal yang praktis; memastikan apakah tidak akan terjadi penularan penyakit dalam praktek seperti itu, dll. Pertimbangan konteks setempat sangat penting.

 

Point 6

Pada masa “new normal” ini, umat diwajibkan mengikuti perayaan Ekaristi di paroki masing-masing. Tidak diperkenankan mengikuti Ekaristi di paroki lain. Hal ini dimaksudkan demi kesehatan dan kebaikan bersama, serta demi memudahkan pengecekan dan pengaturan umat sesuai dengan protokol kesehatan yang dituntut oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemerintah Republik Indonesia.

  • Pewajiban ini tidak dimaksudkan untuk mengekang atau tidak menghargai kebebasan, tetapi demi kepentingan kesehatan pribadi yang bersangkutan dan demi kepentingan banyak orang.
  • Pewajiban ini berlaku di masa atau era “new normal” (tidak untuk selamanya); bila suatu saat kondisi nasional dinyatakan normal oleh Pemerintah maka praktek peribadatan juga akan kembali kepada tata aturan normal.

Dengan ditetapkannya waktu pembukaan ibadat bersama umat ini, maka Paroki-paroki harus benar-benar mempersiapkan diri dalam segala hal yang dituntut. Paroki-paroki harus sungguh-sungguh mempersiapkan hal-hal berikut:

1. Sumber Daya Manusia: Imam, Satuan Tugas / Satgas dan Petugas Tatalaksana Ekaristi, serta seluruh Umat harus memiliki pengetahuan yang cukup, ketrampilan yang cukup, dan kebijaksanaan yang memadai. Dengan kata lain, Sumber Daya Manusia harus dipastikan memiliki kecakapan yang memadai untuk menjalankan tugas dalam kegiatan umat ini.

  • Perlu dilakukan pembekalan dan simulasi guna memastikan bahwa semua memahami dan trampil menjalankan tugasnya.
  • Perlu dilakukan sosialisasi dan edukasi bagi umat semua agar mereka benar-benar memahami latar-belakang, maksud dan tujuan, serta pelbagai konsekuensi yang harus diterima atau dilakukan.

2. Sarana-prasarana: harus disiapkan secara memadai baik untuk di dalam gedung gereja/kapel, di lingkungan luar gedung gereja/kapel, maupun di gedung/ruang-ruang pendukung kegiatan pastoral.

3. Keperluan administratif:  paroki harus membuat surat pernyataan kesiapan untuk ibadat bersama umat dan surat permohonan izin kepada Gugus Covid-19 di Kabupaten/Kota/Kecamatan; dan paroki harus memastikan bahwa mendapatkan surat persetujuan atau surat izin dari pihak berwenang tersebut berupa Surat Keterangan Rumah Ibadah Aman Covid dari Ketua Gugus Tugas Provinsi/ Kabupaten/ Kota/ Kecamata untuk melaksanakan peribadatan bersama umat. Paroki yang belum mendapatkan surat keterangan dimaksud dari otoritas sipil yang berwenang (Gugus Covid-19 Kabupaten/Kota/Kecamatan) tidak/belum diperkenankan melaksanakan peribadatan untuk umat.

  • 15 Tahun 2020 dari Menteri Agama RI:
  • 4 huruf j: Kewajiban pengurus atau penanggungjawab rumah ibadah adalah “Membuat surat pernyataan kesiapan menerapkan protokol kesehatan yang telah ditentukan”.
  • 2: “Pengurus rumah ibadah mengajukan permohonan surat keterangan bahwa kawasan/lingkungan rumah ibadahnya aman dari covid-19 secara berjenjang kepada Ketua gugus kecamatan/Kabupaten/Kota/Provinsi sesuai tingkatan rumah ibadahnya”.
  • 1 “Rumah ibadah yang dibenarkan untuk menyelenggarakan kegiatan berjamaah/kolektif adalah yang berdasar fakta lapangan serta angka R-Naught/RO dan akan Effective Reproduction Number/Rt, berada di kawasan/lingkungan yang aman dari Covid-19. Hal itu ditunjukkan dengan Surat Keterangan Rumah Ibadah Aman Covid dari Ketua Gugus Tugas Provinsi/Kabupaten/Kota/Kecamatan sesuai tingkatan rumah ibadah dimaksud, setelah berkoordinasi dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah setempat bersama majelis-majelis Agama dan instansi terkait di daerah masing-masing. Surat keterangan akan dicabut bila dalam perkembangannya timbul kasus penularan di lingkungan rumah ibadah tersebut atau ditemukan ketidaktaatan terhadap protokol yang telah ditetapkan”.

Keputusan ini dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan situasi dan kondisi terbaru perkembangan pandemi Covid-19.

 Ketetapan-ketetapan lain selengkapnya sudah disampaikan dalam edaran terdahulu yaitu Surat Edaran Nomor: 0490/A/X/2020-27, tanggal 10 Juni 2020. Paroki-paroki dan seluruh umat harus benar-benar menaati semua ketentuan tersebut dan disiplin menjalankan segala ketetapan, baik dari Pemerintah maupun dari Gereja.

 Beberapa catatan khusus:

  • Hal mendasar yang harus dipahami bersama oleh seluruh umat adalah bahwa masa kenormalan baru ini tidak akan terjadi atau berlangsung selamanya. Maka kita perlu bersabar dan tetap taat serta disiplin menjalankan ketentuan-ketentuan dari Pemerintah dan Gereja. Jangan putus asa. Jangan merasa dibuang. Dan jangan merasa dihalang-halangi oleh Pimpinan Gereja. Semua ini kita lakukan demi kesehatan kita dan kebaikan bersama seluruh warga Gereja serta masyarakat.
  • Untuk pelayanan ekaristi live-streaming di masa “new normal” akan dikoordinasi oleh Komsos Keuskupan Agung Semarang dalam kerjasama dengan paroki-paroki. Tujuannya agar mereka yang tidak diperkenankan mengikuti ibadat di gereja/kapel tetap dapat merayakan Ekaristi secara live-streaming.
  • Untuk daerah-daerah tertentu yang masa darurat covid-nya diperpanjang sampai akhir Juli 2020 atau bahkan lebih lama lagi, maka untuk pelaksanaan Ekaristi yang melibatkan umat perlu dikonsultasikan dengan pemerintah setempat dan gugus covid di kecamatan setempat. Pelaksanaan Ekaristi untuk umat harus mendapatkan surat dari Gugus Covid Kecamatan atau tingkat di atasnya.
  • Perayaan Ekaristi kelompok-kelompok khusus (terlebih untuk kaum lansia) tidak boleh dilakukan di masa “new normal” ini karena sangat berisiko bagi kesehatan mereka. Rasa kasihan, “ora mentala”, “ora tega”, dll harus untuk sementara ditanggalkan dengan cara lebih intensif dan pendekatan persuasif memberikan edukasi bagi umat dengan menegaskan alasan-alasan kesehatan, alasan teologis dan pastoral, serta alasan praktis.
  • Mari kita jalani masa kenormalan baru ini dalam semangat:

BERIMAN DI MASA KENORMALAN BARU ARTINYA MENGHAYATI IMAN SECARA BARU. MERAYAKAN EKARISTI DI MASA KENORMALAN BARU JUGA HARUS DENGAN CARA BARU

KITA HARUS MEMBANGUN HABITUS BARU

URIP ANYAR KUDU NGANGGO NALAR, OJO MANDHEG NENG RASA LAN KEPINGINAN

Kuncinya:

KITA SEMUA HARUS JUJUR, TAAT, DISIPLIN, BERSEDIA DIATUR, MENGIKUTI PROSEDUR.

ORA SAK KAREPE DHEWE, ORA SAK ENAKE LAN SAK KEPENAKE DHEWE

 

Semarang, 28 Juni 2020

Gugus Tugas Penanganan Dampak COVID-19 KAS

Edy Purwanto Pr

(Koordinator)