Bulan Kitab Suci Nasional 2020: Mewartakan Kabar Baik di tengah Krisis Iman dan Identitas

Identitas merupakan kesadaran akan siapa diri kita dan kesadaran ini akan mempengaruhi bagaimana kita menjalani kehidupan, bagaimana kita bertindak, bersikap, dan berbicara. Sejak dibaptis kita mendapatkan identitas sebagai pengikut Yesus dan anggota Gereja Katolik. Kita mengikuti Yesus dalam Gereja Katolik. Sejak menerima baptisan, menerima komuni, menerima Sakramen Penguatan, kita dilatih menjadi pengikut Yesus dan anggota Gereja Katolik. Kita juga dilatih menjalani kehidupan (bersikap dan berperilaku) sesuai dengan jatidiri kita.

Tidak semua orang Katolik dapat melewati proses itu dengan mudah sehingga banyak yang menghadapi krisis iman dan identitas. Ada yang sudah dibaptis tetapi tidak memahami iman Katolik sehingga tidak hidup secara Katolik. Ada yang sudah dibaptis tetapi tidak berani mengaku sebagai orang Katolik di hadapan orang banyak. Ada yang tidak lagi percaya kepada Tuhan walaupun sudah menerima baptisan. Ada juga yang tidak peduli akan identitasnya sebagai orang Katolik lalu menjalani kehidupan semata-mata mengikuti kesenangan ragawi, dan sama sekali tidak berpikir tentang makna dan tujuan hidup. Ada juga yang meninggalkan Gereja Katolik karena tidak memahami keyakinan Katolik dan melihat tampaknya ajaran dari agama/Gereja lain lebih baik dan lebih masuk di akalnya.

Berhadapan dengan krisis iman dan identitas, kita dapat belajar dari orang Yahudi di pembuangan dan dari para rasul yang ditinggalkan oleh Yesus:

1. Orang Yahudi menghadapi krisis iman dan identitas ketika kerajaan mereka dihancurkan, Bait Allah diruntuhkan, dan mereka diangkut ke pembuangan. Menghadapi krisis ini, pemuka Israel menunjukkan kepada mereka kebenaran mengenai Allah mereka. Dialah yang menciptakan segala sesuatu, yang dapat melakukan hal yang mustahil, yaitu membawa mereka kembali ke tanah air. Dengan cara demikian, orang Yahudi di pembuangan menyadari identitas mereka, yaitu umat yang percaya kepada Allah Pencipta dan Mahakuasa. Kesadaran akan identitas ini membuat mereka menjalani kehidupan sebagai orang percaya di tanah pembuangan.

2. Para Rasul Yesus menghadapi krisis iman dan identitas ketika Yesus ditangkap dan disalibkan. Dalam situasi krisis ini, Yesus yang bangkit dari kematian menjumpai mereka dan menunjukkan siapa sebenarnya Dia. Dengan kebangkitan-Nya Yesus membukti-kan bahwa Dia adalah Anak Manusia berkuasa atas Kerajaan Surga. Ia berkuasa memasukkan orang ke dalam kerajaan-Nya atau menolaknya. Dengan mengenal identitas Yesus, para murid dapat mengenal identitas mereka, yaitu sebagai pengikut Anak Manusia yang akan mewarisi Kerajaan Surga, dan dapat hidup sesuai dengan identitas mereka itu.

Dalam kedua pengalaman tersebut, kita melihat tiga hal yang harus disadari ketika orang menghadapi krisis iman dan identitas:

1. Kebenaran mengenai Allah. Kebenaran ini menjelaskan siapa Allah yang kita percaya dan apa yang dikehendaki-Nya. Kebenaran mengenai Allah inilah kabar baik yang perlu disadari oleh orang yang menghadapi krisis iman dan identitas.

2. Identitas orang beriman. Di hadapan Allah yang kita percaya, kita dapat mengenal diri kita dan menemukan identitas kita. Dengan melihat kebenaran tentang Allah, kita dapat melihat relasi kita dengan Allah.

3. Cara hidup menurut identitas. Identitas kita sebagai orang yang percaya kepada Allah akan menentukan cara hidup kita. Kesadaran akan identitas ini menuntun kita untuk menjalani hidup dengan benar.

Dalam Pendalaman Kitab Suci ini kita akan mendalami kebenaran mengenai Allah yang kita imani diri dan yang menjadi sumber identitas kita. Kebenaran ini kita temukan dalam Kitab Suci dan kita akan mendalami empat perikop yang menyatakan kebenaran mengenai Allah yang menyatakan diri dalam Yesus dan mengenai orang-orang yang percaya kepada-Nya. Keempat perikop tersebut adalah:

I. 1 Yohanes 4:7-21 yang mengungkapkan bahwa Allah adalah Kasih. Ia mengasihi manusia dan menyatakan kasih-Nya melalui Yesus Kristus.

II. Matius 25:31-46 yang menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Manusia yang berkuasa atas Kerajaan Surga.

III. Lukas 5:1-11 yang mengingatkan bahwa di hadapan Tuhan, kita adalah orang berdosa tetapi dipercaya oleh-Nya.

IV. Kisah Para Rasul 2:37-47 yang mengingatkan kita sebagai anggota persekutuan orang yang percaya kepada Kristus, yaitu Gereja.

 

Pengantar Panduan BKSN 2020