Pertemuan 1 BKSN : Allah adalah Kasih ( 1 Yohanes 4:7-21)

PENGANTAR
Bapak/ibu/saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus. Berkah Dalem. Dalam Bulan Kitab Suci Nasional 2020 ini, kita akan mendalami tema: “Mewartakan Kabar Baik di Tengah Krisis Iman dan Identitas.” Kita akan mendalami teks-teks Kitab Suci yang berisi kabar baik bagi orang-orang yang menghadapi krisis iman dan identitas. Dalam kabar baik ini kita akan melihat kebenaran mengenai Allah yang kita Imani dan memahami identitas kita di hadapan Allah. Dengan pemahaman ini kita dapat menolong saudara-saudara kita yang sedang mengalami krisis iman dan identitas sebagai orang Katolik. Dalam Pertemuan I kita akan mendalami 1 Yoh 4:7-21 yang menegaskan bahwa Allah adalah Kasih. Marilah kita siapkan hati untuk mendengarkan Sabda Allah.

 

GAGASAN DASAR
– Allah adalah kasih. Iman Kristiani didasarkan pada kenyataan bahwa Allah mengasihi manusia, yang diciptakan-Nya. Untuk memahami kebenaran mengenai Allah ini, kita perlu memahami bagaimana mengasihi. Orang yang mengasihi orang lain memiliki dua ciri: 1). menghendaki orang yang dikasihinya berbahagia dan 2). rela berkurban demi kebahagiaan orang yang dikasihinya.

– Terdorong oleh kasih-Nya kepada manusia, Allah menghendaki manusia berbahagia bersama Dia di surga selamanya. Dalam 1Yoh 4:7-21 menegaskan bahwa kasih Allah dinyatakan kepada manusia dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dunia “supaya kita hidup oleh-Nya.” Hidup yang dimaksudkan di sini bukanlah hidup dunia, melainkan kehidupan kekal di surga. Di sana manusia akan hidup dalam persekutuan kasih yang sempurna dengan Allah. Kebahagiaan itu adalah kebahagiaan yang tertinggi karena di dalamnya kita akan melihat Allah yang menciptakan dan mengasihi kita. Kehidupan surgawi berarti “hidup bersama dengan Kristus dan mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya.

– Supaya manusia berbahagia dalam kehidupan kekal, Allah “rela berkurban.” Allah menghendaki agar kita selamat dan tinggal bersama Dia di surga. Tetapi, dosa menghalangi manusia untuk bersatu dengan Allah. Dosa membuat kita tidak layak untuk bersatu dengan Allah yang kudus di dalam kehidupan surgawi. Terdorong oleh kasih-Nya kepada manusia, Allah mengutus Putra-Nya untuk menyelamatkan manusia dari kekuasaan dosa. Di kayu salib Yesus Kristus, Anak Allah, mempersembahkan diri-Nya untuk menghapus dosa kita manusia. Kematian Yesus di kayu salib menghapuskan dosa kita dan darah-Nya menyucikan kita (Mat. 26:28). Setelah dosa dihapus oleh kurban Kristus, manusia dipandang layak untuk tinggal dalam kebahagiaan abadi di surga. Karena itu, bagi orang beriman surga bukanlah hasil kerja keras, melainkan karunia yang diberikan oleh Allah yang Mahakasih.

– Hanya mereka yang telah mengalami kasih Allah secara nyata dapat membagikan kasih itu kepada sesamanya. Allah telah mengasihi kita, jadi sewajarnya kita membalas-Nya dengan mengasihi Dia. Tetapi, bagaimana kita harus mengasihi Allah karena Ia tidak kelihatan dan tidak seorang pun pernah melihat Allah? Allah memang tidak tampak, tetapi kehadiran-Nya dapat dialami. Allah tersembunyi, namun dalam diri orang yang percaya Ia hadir dan berkarya. Ia hadir bila kita saling mengasihi. Kita mengalami kehadiran-Nya ketika kita saling mengasihi sesama. Kalau orang ingin mengasihi Allah, ia harus mengasihi sesama. Jika orang mengatakan bahwa ia mengasihi Allah tetapi membenci saudaranya, ia berdusta karena tidak mungkin mencintai Allah yang tidak kelihatan tanpa mencintai sesama yang kelihatan (1Yoh. 4:20). Siapa yang mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya (1Yoh. 4:21).

 

BACAAN KITAB SUCI

“Allah Adalah Kasih” (1 Yohanes 4:7-21)

Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.

Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya. Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.

Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.

 

PENDALAMAN
Membaca teks Alkitab sambil memperhatikan pertanyaan di bawah ini, mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu di dalam teks Alkitab.
1. Siapakah Allah yang diperkenalkan dalam perikop ini? (ay. 8)
2. Bagaimana Allah mengasihi manusia? (ay. 9-10)
3. Mengapa kita harus mengasihi sesama? (ay. 11, 19)
4. Mengapa di dalam kasih tidak ada ketakutan? (ay. 18)
5. Apa yang harus kita lakukan setelah dikasihi oleh Allah? (ay. 21)

 

PENJELASAN
Penjelasan yang terdapat dalam Gagasan Pendukung.

1. Perikop ini menyatakan bahwa Allah adalah Kasih. Pernyataan ini bukanlah definisi tentang Allah melainkan deskripsi tentang Allah. Allah tidak hanya mengasihi atau memiliki kasih, tetapi Ia sendiri adalah kasih. Yohanes tidak sekedar menyatakan bahwa Allah mengasihi, karena mengasihi bukanlah salah satu perbuatan dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan Allah. Segala aktivitas Allah adalah laku kasih dan Ia menyatakan diri dalam kasih kepada manusia.

2. Allah menghendaki manusia berbahagia bersama Dia di surga selamanya. Di sana manusia akan hidup dalam persekutuan kasih yang sempurna dengan Allah. Tetapi, dosa menghalangi manusia untuk bersatu dengan Allah. Dosa membuat kita tidak layak untuk bersatu dengan Allah yang kudus di dalam kehidupan surgawi. Terdorong oleh kasih-Nya kepada manusia, Allah mengutus Putra-Nya untuk menyelamatkan manusia dari kekuasaan dosa. Di kayu salib Yesus Kristus, Anak Allah, mempersembahkan diri-Nya untuk menghapus dosa kita manusia. Setelah dosa dihapus oleh kurban Kristus, manusia dipandang layak untuk tinggal dalam kebahagiaan abadi di surga.

3. Dasar dari ajakan untuk saling mengasihi ini adalah identitas Allah yang diimaninya: Allah adalah kasih. Kasih sejati lahir dari iman akan Kristus, yang diutus oleh Allah Bapa untuk menyelamatkan manusia. Iman itulah yang mendorong orang untuk mengasihi orang lain. “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” Hanya mereka yang telah mengalami kasih Allah secara nyata dapat membagikan kasih itu kepada sesamanya.

4. Kasih Allah akan menjadi sempurna di dalam diri kita kalau kita mempunyai keberanian untuk percaya pada hari penghakiman. Kalau memang kita sudah merasa dikasihi oleh Allah dan telah mengasihi sesama dalam kehidupan kita, kita tidak takut untuk menghadap pengadilan Allah. Kita siap untuk “dinilai” oleh Allah karena semua yang dilakukannya di dunia dilakukan karena ia mengasihi Allah. Pertemuan dengan Allah dalam penghakiman itu tidak membuatnya takut karena pada saat itulah Allah akan menyatakan bahwa dia adalah orang yang benar di hadapan-Nya. Orang takut menghadapi pengadilan Allah bila ia tidak mengasihi Allah, yang berkuasa untuk menjatuhkan hukuman kepadanya.
5. Allah tidak menunggu kita mengasihi diri-Nya dan baru kemudian Ia mau mengasihi kita. Kasih Allah kepada kita sama sekali bukan balasan atau imbalan atas kasih kita kepada-Nya, tetapi kasih kita merupakan tanggapan atas kasih Allah yang tak terbatas dan abadi. Tanggapan ini hanya mungkin diberikan bila kita mengerti bahwa Allah telah mengasihi kita dengan kasih yang sedemikian besar. Kita mengasihi sesama karena Allah sudah lebih dahulu mengasihi kita. Jika orang mengatakan bahwa ia mengasihi Allah tetapi membenci saudaranya, ia berdusta karena tidak mungkin mencintai Allah yang tidak kelihatan tanpa mencintai sesama yang kelihatan. Siapa yang mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.

 

PESAN DAN PENERAPAN

• Kabar baik untuk manusia: Allah adalah Kasih. Allah mengasihi kita dan menghendaki kita berbahagia di surga bersama Dia selamanya. Karena itu, Ia mengutus Anak-Nya untuk menghapus dosa kita sehingga kita layak menerima kebahagiaan abadi itu.

• Identitas kita: Inilah identitas kita sebagai orang Katolik kita peroleh dari Allah yang kita percaya. Dalam arti umum percaya berarti menerima suatu kebenaran tertentu dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kebenaran ini. Karena itu, kita perlu memiliki pemahaman yang benar mengenai Allah yang kita percaya.

• Cara hidup kita: Sebagai orang yang dikasihi Allah, kita pun mengasihi sesama. Dalam kasih tidak ada hitungan bisnis mengenai untung dan ruginya mengasihi seseorang. Kasih itu bukan soal kata atau lidah, tetapi soal perbuatan. Orang yang mengasihi sesama menghendaki orang yang dikasihinya berbahagia dan ia berani berkurban demi kebahagiaan orang yang dikasihinya itu.

Pertanyaan untuk permenungan:
1. Hal-hal yang dapat membantu mengingat kasih Allah kepada kita melalui kematian Yesus di kayu salib?
2. Tindakan yang dapat menunjukkan bahwa kita adalah orang yang dikasihi oleh Allah?
3. Contoh-contoh orang yang mengalami krisis iman dan identitas sebagai orang Katolik?
4. Apa makna kasih Allah kepada manusia, khususnya bagi orang-orang yang sedang menghadapi krisis iman dan identitas?
5. Bagaimana menyampaikan pesan kasih Allah kepada orang yang mengalami krisis ?

 

DOA
Allah Bapa Yang MahaPengasih, kami bersyukur atas Sabda-Mu yang telah kami dengarkan dalam pertemuan ini. Kami mohon, bantulah kami dengan Roh Kudus-Mu agar kami dapat mengasihi sesama sebagai wujud kasih kami terhadap-Mu. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.