Renungan Harian Prapaskah I

17 Februari 2021
RABU ABU
Hari Pantang dan Puasa

“Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hamu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh…. Koyakkanlah hamu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan Allahmu,” firman Tuhan. (Yl 2:12-13).

Mulai hari ini, kita memasuki masa Prapaska. Perayaan iman hari ini mengingatkan kita akan asal dan tujuan hidup kita, manusia berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu sesudah kematiannya. Namun demikian, karunia hidup haruslah bermakna dan diperjuangkan, termasuk pula dalam dinamika pertobatan, perubahan, peralihan dan penataan hidup orang beriman secara total. Semoga abu yang kita terima dan teroleh dalam dahi kita, senantiasa mengingatkan kita untuk “bertobat dan semakin percaya pada Injil dan keterlibatan kita dalam gerakan aksi puasa pembangunan menjadi sarana berkat bagi sesama.

Mari kita hidup lebih bermakna dan berbuat lebih berbobot. Perbuatan yang lebih berbobot akan membuat hidup lebih berarti. Pada hari ini, marilah kita belajar untuk sedikit bicara, namun lebih banyak mendengar, melihat, dan berbuat. Semoga Injil yang kita dengarkan membuat kita semakin dapat memahami rencana Allah, semakin berbobot dalam memaknai masa Prapaskah.


 

18 Februari 2021
KAMIS Sesudah Rabu Abu

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. (Luk 9: 23)

Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita bagaimana seharusnya menjadi seorang murid Kristus: berani menyangkal diri, memikul salib setiap hari, dan mengikuti Kristus. Menyangkal diri adalah sikap seorang murid untuk berani berkata “tidak” terhadap kehendak diri sendiri yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Berkaitan dengan hal ini, St. Ignatius dalam Latihan Rohani menulis tentang agree contra: Karena itu, agar Sang Pencipta dan Tuhan benar-benar lebih dapat bekerja dalam makhluk-Nya, jikalau ternyata jiwa itu dengan tak teratur lekat atau cenderung akan sesuatu, sangat bergunalah baginya berusaha sekuat tenaga untuk menginginkan kebalikan dari hal yang dilekatinya dengan tak teratur tadi [LR 16].

Selanjutnya, memikul salib digunakan Lukas untuk mengingatkan bahwa seorang Kristen semestinya menjalani hidup seolah-olah telah dijatuhi “hukuman mati,” yaitu mati terhadap nilai-nilai dunia yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dan tunduk pada nilai-nilai dalam Kerajaan Allah. Memikul salib mengundang setiap murid Kristus untuk berani bertanggung jawab, mengambil risiko walaupun melalui penderitaan atau pengorbanan diri.
Yang terakhir, mengikuti Kristus adalah proses kemuridan yang berlangsung terus-menerus dan menuntut komitmen, terutama agar dapat selalu sehati-sepikir dan bertindak seperti Kristus sendiri.


 

19 Februari 2021
JUMAT Sesudah Rabu Abu
Hari pantang

“Berpuasa yang Kukehendaki ialah engkau harus membuka belenggu-belenggu kelaliman.” (Yes 58: 6)

Bagi kita orang Katolik, puasa dan pantang menjadi sarana pertobatan, penyangkalan diri, dan usaha mempersatukan pengorbanan diri dengan pengorbanan Yesus di Salib sebagai silih atas dosa kita serta demi mendoakan keselamatan dunia. Puasa dan pantang murid Kristus tidak terlepas dari doa serta perbuatan amal kasih.

Puasa dan pantang menjadi sarana latihan rohani yang semakin mendekatkan diri kita pada sesama dan Tuhan. Puasa dan pantang bukan semata-mata “menyiksa diri”, namun menjadi usaha perendahan diri agar dapat semakin menghayati betapa besar kasih Allah kepada kita dan meneruskan meneruskan berkatNya kepada sesama. Melatih diri dalam puasa dan pantang tidak cukup berhenti untuk tidak makan dan minum atau meninggalkan kebiasaan buruk tertentu, namun pada akhirnya juga menjadi perutusan bagi setiap murid Kristus untuk meneruskan berkat bagi semakin banyak orang.

Marilah kita senantiasa belajar rendah hati dan tidak memegahkan diri. Berpuasalah untuk tidak angkuh dan loba melainkan sisihkanlah sedikit rezekimu untuk sesama. Jadikanlah hidupmu sebagai berkat bagi sesama, terutama mereka yang sangat membutuhkannya.


 

20 Februari 2021
SABTU Sesudah Rabu Abu

“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Luk 5: 31b)

Masih terngiang di dalam benak kita tentang situasi pandemi Covid-19 yang terjadi pada tahun 2019-2020. Dampak yang ditimbulkannya pun masih dirasakan hingga saat ini. Pada saat situasi pandemi tersebut, usaha untuk menjaga pola hidup sehat menjadi sebuah keharusan. Bahkan banyak negara berlomba-lomba dalam usaha menemukan vaksin Covid-19 agar dapat menyelamatkan jutaan jiwa manusia. Ketika dunia dilanda ketakutan akan sebuah pandemi, setiap orang mulai berpikir tentang arti hidup sehat.

Pesan Yesus melalui penginjil Lukas menjadi sangat jelas bahwa Ia datang sebagai tabib bagi mereka yang sakit. Ukuran badan yang sehat dapat dilihat dari tingkat kebugaran, tidak menderita penyakit dll. Namun bagaimana melihat tingkat kesehatan jiwa kita? Setiap dari kita tentu mengalami kondisi batin yang berbeda-beda. Mungkin saja kita sedang dilanda dengan persoalan, pergulatan, luka batin, depresi dan dosa. Itulah tanda kita memerlukan bantuan Tuhan untuk menyembuhkan jiwa kita.

Seperti halnya jika kita ingin sembuh secara fisik harus datang kepada dokter, maka jika kita hendak dipulihkan dari penyakit yang mengerogoti kebahagiaan batin haruslah datang kepada Yesus dengan semangat pertobatan dan keterbukaan hati.

Marilah kita merenung sejenak, penyakit apa yang perlu disembuhkan oleh Yesus dalam diri kita?


 

22 Februari 2021
SENIN Prapaska 1

“Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami dak melayani Engkau”. (Mat 25:44b)

Sabda Tuhan yang kita dengarkan hari ini, mengajak kita untuk merenungkan dan mengupayakan tentang “penerimaan”. Setiap orang pasti menginginkan hal yang baik bagi dirinya dan sebaliknya juga butuh perjuangan untuk dapat menerima kekurangan, kelemahan diri, dan hal-hal yang dinilai buruk. Karya penebusan Tuhan dimulai dengan hadirnya Tuhan di tengah kemanusiaan kita yang tidak sempurna dan penuh dengan kelemahan. Karya keselamatan dimulai dengan penerimaan diri seutuhnya.

Selanjutnya, Tuhan juga menerima dan merengkuh orang-orang yang penuh dengan kelemahan: orang-orang sakit, orang-orang tersingkir, bahkan orang-orang yang dianggap berdosa oleh kebanyakan orang. Tuhan menerima mereka dalam setiap kelemahan dan mengundang mereka untuk menikmati kelimpahan belas kasih dan kerahimanNya. Begitu pula terhadap kita masing-masing: Tuhan telah menerima kita seutuhnya, bahkan semenjak ketika kita masih berdosa dan punya banyak kelemahan diri. Oleh karena itu, marilah kita belajar bersyukur dan mau belajar untuk menerima kekurangan dan kelemahan diri serta orang lain. Menjadi berkat bagi banyak orang dimulai dengan menerima dan merengkuh setiap pribadi dalam hatiNya yang penuh belas kasih.


 

23 Februari 2021
SELASA Prapaska 1

“… karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu memintanya”.(Mat 6:8)

Merenungkan relasiku dan Tuhan serta penyerahan diriku pada penyelenggaraan ilahiNya itu ibarat dua orang yang sedang mengayuh sepeda tandem. Kita mungkin pernah merasa bahwa segala sesuatu di hidup kita hanya diri kita sendirilah yang menentukan. Hendak menjadi apa aku, hidup macam apa yang kupilih, ke mana aku akan pergi, siapa yang akan menjadi pasangan hidupku, semuanya akulah yang menentukan. Tentu kita pernah merasa dalam posisi memegang kendali sepenuhnya dalam hidup, dan segala sesuatunya terpenuhi sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Tapi tunggu dulu, apakah aku hanya sendirian mengayuh “sepeda hidup”-ku? Tentu tidak. Selagi kita mengarahkan kemudi, Tuhan tidak berhenti mengayuh pedal dan mendorong laju sepeda kita. Kita mungkin bangga karena memilih jalan sendiri, tetapi tidak jarang berujung pada jalan yang salah karena lupa bahwa Tuhan ada bersepeda bersama kita. Ternyata Tuhan selama ini mendukung kita, mencintai kita.

Menyadari hal itu, kini kubiarkan Allah berada di depan, mengarahkanku pada jalan-jalan yang ia pilih dan aku belajar untuk percaya. Dalam posisi itu, kita seringkali tidak bisa memahami ke mana Tuhan membawa kita dalam hidup ini. Mungkin berlelah-lelah menyusuri pengalaman menyedihkan yang tampak tak berujung, mungkin bertemu dengan orang-orang yang amat kita cintai, atau bahkan berpisah dengan orang-orang dekat dan aku pedal itu harus tetap kukayuh. Dalam ketakutan melewati jalan-jalan sulit, Ia berbisik pada kita, “Jangan takut, aku ada bersamamu.”

 


 

24 Februari
RABU Prapaska 1

“… demikianlah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini” (Luk 11: 30)

Barangkali ada sebagian dari kita yang pernah berpikir bahwa banyaknya masalah dalam hidup menandakan kealpaan Tuhan dalam hidup kita. Banyaknya masalah kadang membuat kita menganggap bahwa Tuhan tidak ikut campur tangan dan membiarkan kita bergumul, bahkan ada pula yang sampai membuat kita merasa Tuhan tidak menyayangi kita karena membiarkan kita terus bergumul dengan masalah yang tidak kunjung terselesaikan. Seperti para ahli taurat dan orang Farisi, kita pun sering menuntut tanda bahkan mukjijat dari Tuhan.

Belajar dari kutipan sabda hari ini, kita diajak untuk lebih peka melihat pekerjaan Tuhan yang tidak selalu nampak melalui perkara-perkara besar. Ia selalu hadir, menyertai, dan bekerja dalam bahkan perkara-perkara kecil kehidupan kita. Yang kita butuhkan hanyalah kepekaan untuk melihat dan mengalami cara kerja Tuhan dalam hidup serta belajar untuk puas dan bersyukur atas cara kerja Tuhan meski tidak sesuai dengan harapan dan keinginan kita. Berhentilah untuk menuntut Tuhan berkarya sesuai dengan harapan kita, berhentilah untuk menjadi “ahli taurat dan farisi yang selalu menuntut tanda”. Sebaliknya, pada hari ini, marilah kita belajar mensyukuri kebaikan-kebaikan Tuhan dalam setiap peristiwa yang kita alami, supaya dari sana kita dapat mengalami pertobatan sejati sebagai murid-muridNya.


 

25 Februari 2021
KAMIS Prapaska 1

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu Akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan kepadamu” (Mat 7:7)

Merenungkan kutipan sabda hari ini dan apa yang sering kita lakukan dalam kehidupan doa, mendorong diri saya untuk bertanya apakah selama ini, saya justru terlalu cerewet kepada Tuhan, terutama agar Ia mengabulkan doa-doa permohonan saya dan tidak membiarkan diri saya mengenal dan mengikuti kehendakNya? Sebagai orang beriman, saya percaya akan kemurahan hatiNya. Yang saya perlukan hanyalah mengerti kehendak dan cara Tuhan untuk mendidik saya sebagai orang beriman yang berpengharapan.

Suatu saat, barangkali Tuhan langsung mengabulkan apa yang kita mohon karena apa yang kita mohon sesuai dengan kehendak-Nya. Namun di saat yang lain, barangkali Tuhan sengaja menunda untuk memberikan apa yang kita mohon karena kita sebenarnya belum siap dan pantas menerimanya. Ia akan memberikan pada saat kita benar-benar siap dan pantas. Dalam penyelenggaraan ilahiNya, segala sesuatu indah pada waktunya. Yang seringkali berat adalah ketika Tuhan seolah-olah tidak memberikan yang kita mohon sebab Ia justru memberikan yang lebih baik dari sekedar yang kita mohon.

Seperti dalam dua perumpamaan yang disebut Yesus. Memang Ia tidak menyebut bahwa Bapa yang baik selalu memberi ikan atau telur pada anaknya yang meminta, tetapi pasti sang Bapa tidak akan memberinya yang lebih buruk bahkan yang dapat mencelakai anaknya, seperti ular dan kalajengking. Kalau orangtua tahu bahwa anaknya itu alergi ikan dan telur, tentu mereka tidak akan memberikan kendati anaknya meminta. Sebagai gantinya, mereka akan memberikan yang lebih baik, yang sehat dan aman untuk anaknya.


 

26 Februari 2021
JUMAT Prapaska 1
Hari pantang

“Jika hidup keagamaanmu dak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu dak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga”(Mat 5:20)

Perikop di atas menunjukkan bahwa cara beribadat ahli-ahli taurat dan orang-orang Farisi memang benar. Hanya saja terdapat satu kekurangan yaitu mereka menolak percaya kepada Kristus sebagai Anak Tunggal Allah. Kita yang telah beriman kepada Yesus tentu harus didukung dengan pola hidup rohani kita yang harus lebih baik daripada ahli-ahli taurat dan orang-orang Farisi. Lalu caranya bagaimana? Dalam bidang liturgi terdapat istilah lex orandi, lex credendi dan lex vivendi. Istilah tersebut memiliki makna bahwa apa yang kita doakan, kita imani seharusnya juga kita hidupi dalam rutinitas sehari-hari. Dengan demikian perilaku, ungkapan dan sikap kita merupakan pancaran dari kedalaman hidup rohani kita.

Sebagai orang Kristiani kita jangan sampai jatuh pada ekstrim tertentu, misalnya mengagungkan kehidupan berdoa saja tetapi kurang menjalin kehidupan sosial di tengah masyarakat. Begitu pula sebaliknya terlalu mengutamakan kehidupan sosial tetapi kurang mendalami kehidupan rohani. Oleh karena itu, masa prapaskah ini menjadi kesempatan bagi kita untuk menyeimbangkan antara kehidupan doa dan kehidupan sosial. Dengan demikian kita mampu beriman mendalam sekaligus menjadi duta Kristus di tengah dunia.


 

27 Februari 2021
SABTU Prapaska 1

“Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat Tuhan” (Mzm 119:1)

Sebagai orang beriman, kita yakin bahwa Tuhan menghendaki setiap orang hidup dalam kesalehan dan tanpa cela. Namun demikian kita juga sadar untuk mengusahakan keutamaan tersebut tidaklah serta merta mudah manakala orang mesti berjuang di tengah kerapuhan manusiawinya. Adakah orang yang merasa bahwa selama hidupnya tidak pernah membuat sebuah kesalahan? Kesalehan dan hidup tak bercela tidak berarti bahwa orang tidak pernah jatuh dalam kesalahan, namun selalu mau kembali dan dikoreksi oleh Tuhan.

Keterbukaan diri untuk kembali hidup selaras dengan kehendak Tuhan dapat kita teladani dari kesalehan hidup banyak orang. Salah satunya adalah Daud. Setelah diingatkan kembali oleh nabi Natan oleh karena dosanya, Daud menyesal dan berujar di hadapan Tuhan, “Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu…Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!” (Mazmur 51:5, 6, 12, 13).

Seperti Daud, marilah kita juga belajar untuk setia melatih diri dan memohon rahmat agar menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga masa Prapaskah ini menjadi kesempatan berharga bagi kita untuk bertumbuh dalam keutamaan hidup, syukur bila memampukan kita hidup saleh dan tak bercela di hadapanNya.


Sumber : Buku Renungan Harian APP 2021 
Panitia KAS