Renungan Harian Prapaskah II

Senin, 01 Maret 2021
SENIN PRAPASKA 2

“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati ” (Luk 6:36)

Merenungkan kutipan sabda pada hari ini, mengantar kita pada dua kesadaran, yaitu bahwa Allahlah yang pertama-tama lebih dahulu bermurah hati kepada kita dan bagaimana semestinya sikap kita setelah mendapatkan kemurahan hati Allah. Sebagai orang beriman, kita tidak ragu akan kemurahan hati Allah dalam aneka rahmat yang kita terima dalam hidup. Namun demikian, tidak setiap orang memiliki kepekaan dan rasa syukur yang sama atas aneka rahmat yang Allah anugerahkan. Ketika kita sadar akan siapa diri kita, kita yang bukan siapa-siapa dan tidak bisa apa-apa namun dikasihi oleh Allah dan mendapatkan kemurahan hatiNya, tidaklah sulit bagi kita untuk senantiasa bersyukur dan berterima kasih atas kemurahan hati Allah dengan mengusahakan kebaikan dan kemurahan hati yang sama kepada orang lain.

Semangat untuk melakukan kebaikan dan bermurah hati seperti di atas tentu berbeda dengan apa yang mungkin masih sering kita lakukan, yaitu kebaikan dan kemurahan hati yang dilandasi oleh semangat do ut des, saya memberi agar saya menerima. Saya melakukan kebaikan, agar nanti Tuhan membalas saya dengan kebaikan yang lain.

Marilah kita belajar bermurah hati seperti Allah yang lebih dulu bermurah hati kepada kita, bukan dengan kemurahan hati yang ala kadarnya, yang tersisa, atau yang tidak terpakai, namun kemurahan hati yang mengalir dari kasih yang tanpa batas, kasih yang tak berpamrih, dimulai dari hal kecil dan sederhana pada orang-orang di sekitar kita.


02 Maret 2021
SELASA PRAPASKA 2

“… belajarlah berbuat baik, usahakanlahkeadilan” (Yes 1:17)

Kutipan sabda hari ini berasal dari Yesaya, seorang nabi yang dikenal sebagai sosok pejuang keadilan sosial dan pewarta kerahiman Tuhan yang menghargai pertobatan hidup. Pada zamannya, Yesaya mengingatkan kepada para pemimpin bangsa dan orang-orang Israel agar: “Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata Tuhan. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik.” Belajar berbuat baik, menurut Yesaya, dapat ditempuh dengan mengusahakan keadilan, mengendalikan orang-orang kejam, membela hak-hak anak yatim, memperjuangkan perkara para janda pada saat itu. Menjadi pribadi yang lebih baik adalah bagian dari usaha pertobatan dan sebagai silih atas dosa. Dan pewartaan yang utama adalah bahwa Tuhan sungguh maharahim. Dalam kerahimannya, dosa semerah kirmizi pun menjadi putih seperti salju.

Bagi kita, belajar menjadi pribadi yang lebih baik dan memperjuangkan keadilan adalah masih relevan bagi situasi jaman ini. Dalam kerahiman dan belas kasihNya, setiap perbuatan baik dan perjuangan keadilan akan kian menyempurnakan peradaban kasih di tengah masyarakat kita. Marilah dalam masa prapaskah ini, kita belajar bersyukur atas kerahiman dan belas kasih Allah kepada kita dan memohon rahmat agar senantiasa dimampukan menjadi pribadi yang lebih baik, syukur-syukur bila dapat turut memperjuangkan keadilan sosial di manapun kita berada.


03 Maret 2021
RABU PRAPASKA 2

“… dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka diantara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (Mat 20: 27)

Kutipan sabda hari ini menjadi pengingat bagi kita akan pentingnya sikap rendah hati dalam relasi dengan sesama. Siapakah di antara kita yang tidak ingin dirinya dihargai, diterima, diperhatikan, diprioritaskan, dan dipuji? Apakah ada di antara kita yang lebih memilih direndahkan dan disepelekan oleh orang lain? Tentu saja tidak. Bahkan sebagian besar dari kita masih berjuang untuk dapat menerima kekurangan dan kerapuhan, baik yang ada dalam diri sendiri maupun orang lain.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk melatih diri dalam keutamaan kerendahan hati. Kerendahan hati sesungguhnya adalah kebajikan dalam diri seseorang yang membuat dirinya dapat memposisikan diri sama dengan orang lain tidak merasa lebih pintar atau lebih baik, tidak merasa lebih mahir, lebih hebat, dan dapat menerima dan menghargai orang lain apa adanya dengan ketulusan.

Bagaimana seseorang dapat belajar untuk rendah hati? Pertama, berani mengakui dan menerima kekurangan dan kerapuhan. Persoalannya banyak orang masih jatuh dalam sikap gengsi untuk dapat mengakui dan menerima kekurangan di hadapan sesama, bahkan banyak yang cenderung ingin menyembunyikan kekurangan atau kerapuhan tersebut. Kedua, mau belajar dan diajar dalam proses kehidupan untuk senantiasa menjadi lebih baik. Ketiga, percaya dalam kerapuhan dan kelemahan. Seperti Kristus yang masuk dalam kerapuhan manusia, bahkan rela menjadi hina di puncak Salib, namun dari sanalah kerapuhan ditebus dan karya keselamatan merengkuh semua orang.


04 Maret 2021
KAMIS PRAPASKA 2

“Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu” (Luk 16: 20)

Dunia ini menghadirkan dua realitas, misalnya: kaya-miskin, sakit-sehat, lahir-mati. Itulah gambaran Injil hari ini yang menghadirkan antara si kaya-si miskin. Hal yang menarik bahwa si-miskin yang sakit borok justru disebutkan namanya yakni Lazarus, sedangkan si-kaya justru tidak disebutkan namanya. Injil tersebut dapat ditafsirkan sebagai belas kasih Allah yang sangat mempribadi. Artinya Allah sangat mengenal pribadi Lazarus.

Kita mungkin menjadi pribadi yang mudah untuk membantu, dan peduli kepada sesama. Namun, kerap kali kita hanya sekedar membantu tanpa ingin mengenal secara lebih dalam. Misalnya saja, kita mengeluarkan uang untuk membantu orang miskin. Itu memang tindakan yang baik, tetapi sebenarnya kita tidak mengetahui secara mendalam apa yang sebenarnya dia butuhkan.

Kita bisa belajar dari cara Allah dalam mengasihi manusia. Allah membantu Lazarus bukan pertama-tama dari materi, melainkan mengangkat harkat dan martabatnya. Oleh karena itu, mari kita melihat, mengenal dan membantu sesama untuk mengangkat harkat martabatnya sebagai citra Allah.


 

05 Maret 2021
JUMAT PRAPASKA 2
Hari Pantang

“… Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi pada pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita” (Mat 21: 42b)

Perikop di atas dapat kita maknai sebagai usaha transformasi hidup. Tuhan selalu memandang segala hal itu baik, bahkan sesuatu yang tidak berharga di mata manusia ternyata dapat diubah menjadi berkat. Hidup kita pun senantiasa berharga di mata Tuhan, tetapi kerap kali kita memandang diri kita dengan pesimistis dan rendah diri. Seperti halnya batu yang dibuang menjadi batu penjuru, maka kita pun harus memiliki daya transformasi hidup.

Transformasi hidup adalah perubahan dari dalam diri untuk menjadi pribadi yang semakin baik. Usaha transformasi dapat dianalogikan seperti metamorfosis kupu-kupu. Di awali dari telur, kepompong, ulat hingga menjadi kupu-kupu yang cantik. Begitu pula dengan kehidupan manusia berawal dari bayi sampai dengan dewasa. Proses kehidupan ini tidak selalu berjalan lancar, melainkan ada saat mengalami kejatuhan atau pun keterpurukan hidup. Nah sebagai murid-murid Kristus kita dapat belajar untuk senantiasa mentransformasi diri. Berani berubah, berani bangkit, berani berbenah dan berani menjawab tantangan zaman sebagai usaha transformasi hidup.

Momentum prapaskah menjadi kesempatan bagi kita untuk secara khusus mentransformasi hati kita. Marilah kita setahap demi setahap mengubah hati yang keras, degil, penuh dendam, dan penuh dosa untuk menjadi hati yang penuh belas kasih dan kerahiman.


06 Maret 2021
SABTU PRAPASKA 2

“Ayah itu lari mendapatkan anaknya, lalu merangkul dan menciumi dia” (Luk 15” 20c)

Apakah memberikan pengampunan bagi orang yang bersalah kepada kita adalah sesuatu yang sulit untuk kita lakukan? Mungkin ada sebagian dari kita yang mengatakan,”Aku belum bisa memaafkannya. Hatiku sudah terlanjur sakit karena perbuatannya. Mengampuni dia? Kok enak, dia telah berbuat jahat dan menyakitiku.” Harus diakui bahwa memberikan pengampunan adalah sesuatu yang tidak selalu mudah kita lakukan, terlebih jika orang yang telah menyakiti hati adalah orang-orang terdekat atau yang kita kasihi: sahabat, suami, istri, anak, orang tua, teman kerja, dll. Seringkali rasa sakit karena dikhianati oleh orang yang begitu dekat dengan diri kita membekas begitu dalam.

Kutipan sabda hari ini ini mengajar kita untuk belajar memiliki hati seperti sang ayah yang berlari untuk mendapatkan, merangkul, dan mencium anaknya yang telah banyak berbuat salah. Tentu memiliki hati pemaaf seperti sang ayah bukanlah hal yang mudah. Mungkin sebagian dari kita masih harus berjuang dan masih berkata, “Oke, saya maafkan kesalahannya, tapi jangan harap aku bersedia untuk bertemu lagi dengannya.” Sebagai pengikut Kristus, kita senantiasa diundang untuk menimba kemurahan dan belas kasih dari HatiNya. Tidak peduli betapa dalam luka yang telah tergores dalam hati kita, sebagai pengikut Kristus yang diutus untuk mewartakan kasih, mendorong hati kita untuk senantiasa membuka pintu maaf dan merangkul semua orang dalam kerahiman. Adakah kesalahan orang yang perlu aku maafkan? Ataukah justru aku perlu memohon pengampunan, termasuk dengan menyambut sakramen tobat? “Kapankah terakhir kali aku menyambut sakramen pengampunan dosa?


Sumber : Buku Renungan Harian APP 2021
Panitia KAS