Renungan Harian Prapaskah III

8 Maret 2021
Senin Prapaskah 3

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya dak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya” (Luk 4:24)

Adakah di antara Anda yang pernah mengalami penolakan? Bagaimana rasanya saat ditolak? Banyak orang mungkin akan merasa sakit dan tidak enak hati ketika ditolak. Sebagian juga mungkin akan menangis, merasa terpuruk, minder, sedih, kecewa, dsb. Barangkali juga ada sebagian dari kita yang protes karena merasa permohonan atau keinginan kita seakan-akan ditolak oleh Tuhan: sakit yang tidak kunjung sembuh, usaha yang tidak berkembang pesat, pasangan hidup yang tidak berubah, dan permasalahan-permasalahan lainnya yang tak kunjung terjawab.

Kutipan sabda hari ini menyadarkan kita bahwa salah satu potensi terjadinya penolakan bukan berasal dari tempat jauh, namun dari orang- orang terdekat kita, entah karena persoalan ekonomi, relasi, kesehatan, pekerjaan, hobi dll. Kita bisa belajar juga dari sikap Paulus yang sadar akan “duri dalam dagingnya” namun percaya bahwa “cukuplah kasih karunia-Ku dalam dirimu”. “Cukup” berarti tidak usah diubah, tidak perlu ditambah, cukup untuk bertahan. Penolakan tidak membuat kita jadi lebih lemah dan kendor, tapi justru menjadi kesempat untuk menjadi lebih kuat. Mari kita belajar untuk senantiasa bersyukur dan bukan bersungut, melihat rahmat Tuhan yang senantiasa ‘cukup” bagi kita untuk tidak menyerah dan berjuang.


 

9 Maret 2021
Selasa Prapaska 3

“Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” (Mat 18: 21b)

Kutipan sabda yang kita renungkan hari ini memiliki pesan yang amat tegas dan jelas bagi kita sebagai pengikut Kristus: belajarlah memiliki hati yang penuh kerahiman agar dapat mewartakan kedamaian di mana pun kita berada. Pada peringatan Hari Komunikasi Sedunia tahun 2018, paus Fransiskus mengajak umat katolik di seluruh dunia agar senantiasa dapat membawa kabar baik. Disadari bahwa kemajuan teknologi saat ini, terutama dalam bidang komunikasi dan informasi membawa serta manfaat sekaligus dampak negative yang perlu untuk diwaspadai.

Salah satu yang menjadi focus perhatian paus adalh tentang maraknya penyalahgunaan media sosial sebagai wadah penyebaran konten negative, baik berupa kabar bohong (hoax) maupun ujaran kebencian (hate speech). Dalam pesannya, paus Fransiskus mengajak semua orang utnuk terlibat dalam membangun komunikasi yang konstruktif. “Bahasa dan gerak/ekspresi harus mengirimkan rahmat belas kasih, sehingga dapat menyentuh hati setiap orang dan menginspirasi mereka untuk menemukan jalan yang mengarah kepada yang mahakuasa”.

Bagaimana dengan diri kita? Sebagai pengikut Kristus, sanggupkah kita senantiasa mewartakan kebenaran dan damai dalam hidup sosial kita setiap hari, terutama dalam memanfaatkan aneka media sosial saat ini? Di tengah arus berita bohong dan ujaran kebencian yang marak di media sosial, sanggupkah kita untuk menjadi pribadi yang tetap tenang, tidak reaktif, dan tidak mudah panik menghadapi segala rupa informasi di dunia maya, syukur-syukur bila mampu terlibat dalam gerakan literasi media di tengah masyarakat kita sendiri?


 

10 Maret 2021
Rabu Prapaska 3

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Mat 5:16)

Atribut dan simbol-simbol kekatolikan sangat mudah kita jumpai bahkan kita kenakan, misalnya rosario, gelang, kalung salib, kaos bergambar Yesus, dll. Hal-hal sederhana itu dengan sangat mudah dikenali oleh masyarakat. Tampilan luaran dengan simbol-simbol kekatolikan menunjukkan kepercayaan diri dan kebanggaan sebagai seorang katolik. Sikap tersebut perlu didukung dengan semangat memberikan kesaksian sebagai murid Kristus bagi dunia ini. Kesaksian yang dapat kita wujudkan adalah menjadi terang Kristus. Arti terang dapat kita lihat dari Injil hari ini yakni perbuatan yang baik dan memuliakan Bapa. Itulah makna terang sejati yakni mampu memuliakan Allah sekaligus pula mengamalkan perbuatan yang baik kepada sesama.

Kita telah dibaptis sehingga diangkat menjadi anak-anak Terang Kristus. Persoalan yang kerap kali dihadapi oleh Gereja yakni umat lebih memilih menjadi katolik pasif daripada aktif. Katolik pasif dapat yakni jika kita hanya sekadar datang ke Gereja dan menerima berkat Tuhan tetapi tidak mau membagikan berkat itu. Katolik aktif berarti kita tekun ke Gereja, berpartisipasi dalam kegiatan menggereja dan mampu menyalurkan berkat bagi pelayanan Gereja dan masyarakat. Nah pertanyaan bagi diri kita adalah sejauh mana kita menjadi terang dunia bagi Kristus? Apakah kita sudah berbuat baik kepada sesama dan memuliakan Allah? Ataukah baru salah satu kita lakukan, atau kah malah belum keduanya kita lakukan? Mari kita mohon rahmat Tuhan supaya menguatkan kita untuk menjadi terang-Nya bagi dunia ini.


11 Maret 2021
Kamis Prapaska 3

“… Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah BapaKu?” (Luk 2: 49)

Setiap dari kita tentu pernah berkunjung ke berbagai Gereja. Kita tentu sangat terkesima dengan indahnya arsitektur Gereja. Gereja Katolik sangat terbuka dengan inkulturasi arsitektur Gereja. Dengan demikian banyak gedung Gereja disesuaikan dengan adat dan budaya setempat. Baik Gereja di Indonesia maupun di luar negeri memiliki coraknya sendiri supaya mampu mewartakan Kristus dengan cita rasa lokal.

Anda mungkin memiliki hobi untuk misa berpindah-pindah di berbagai Gereja dengan alasan mencari suasana yang berbeda. Di situlah Anda mulai melihat kekayaan arsitektur berbagai Gereja. Namun, renungan hari ini membawa pada kesadaran untuk tidak hanya tinggal pada rasa kekaguman pada gedung Gereja saja melainkan mampu nyaman tinggal di dalamnya. Jika Yesus sungguh nyaman berada di rumah Bapa-Ku, lalu bagaimana dengan kita? Apakah aku dapat menemukan Tuhan yang menyapa saat di Gereja? Apakah aku memiliki kerinduan untuk mengikuti ekaristi ataukah justru sebaliknya? Apakah aku juga rindu untuk mendengarkan, merenungkan, dan menghayati sabda dalam hidup harian?

Kecintaan kita pada Gereja salah satunya dapat terungkap melalui cara-cara sederhana, dimulai dari bagaimana cara kita untuk menghayati hidup menggereja setiap hari di tengah keluarga, menghayati ekaristi, dan mewartakan Kristus dalam setiap hal yang kita kerjakan. Apakah kita sudah bertemu Tuhan dengan kedalaman hati saat berada di Gereja?


 

12 Maret 2021
Jumat Prapaska 3
Hari Pantang

“Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hamu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akalbudimu, dan dengan segenap kekuatanmu” (Mrk 12:30)

Kita tentu pernah mengalami sakit, misalnya sakit gigi, sakit perut dll. Ketika kita sakit di salah satu bagian tubuh tentu penderitaannya dirasakan seluruh tubuh. Hal ini menunjukkan bahwa setiap anggota tubuh terikat pada satu kesatuan. Begitu pula dengan cara kita untuk mengasihi Allah. Injil hari ini mengajak kita supaya mampu menggunakan hati, jiwa, akal budi dan kekuatan untuk mengasihi Allah. Keempat hal tersebut harus kita sinkronkan supaya mampu mengasihiAllah.

Situasi konkret yang sering kita alami ialah kita kurang mampu
mensinkronkan hati, jiwa, akal budi dan kekuatan. Kerap kali hati kita galau terhadap situasi tertentu, kerap kali jiwa kita mengalami stress atau bahkan depresi, kerap kali akal budi kita disibukkan dengan kepentingan duniawi dan kekuatan kita kerap kali hanya dicurahkan pada pekerjaan serta kesibukan kita.

Nah, permenungan yang dapat kita perdalam ialah sisi mana dari keempat hal tersebut yang perlu kita tingkatkan supaya sungguh mampu mengasihi dengan totalitas.


 

13 Maret 2021
Sabtu Prapaskah 3

“… Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan dinggikan “ (Luk 18:14)

Kutipan sabda yang kita renungkan hari ini merupakan sindiran Yesus kepada kaum Farisi yang seringkali merasa hidupnya lebih baik dari orang lain dan merasa diri lebih pantas di hadapan Tuhan dan sesama. Sabda Tuhan ini juga ingin menegaskan pentingnya pilihan hidup manusia untuk senantiasa mau bersikap rendah hati dan tidak jatuh pada keinginan untuk menyombongkan diri dan mencari kehormatan.

Yesus ingin mengajak setiap orang untuk berani menyangkal diri demi kedewasaan hidup pribadi. Sebab seseorang yang mengikuti kecenderungan akan kehormatan dirinya, akan memperlemah semangat dan kemauan diri dalam berjuang dan sekaligus memungkinkan keterpisahan diri seseorang dalam hidup bersama.Tiada jemunya Yesus mengingatkan kita, bahwa betapa mulianya apabila kita bisa hidup dengan semangat kerendahan hati & lemah lembut. Sebab hanya dengan keutamaan semacam itulah, kita akan menghindarkan diri dari kecenderungan untuk mudah marah, mencela, menyalahkan, apalagi mengadili orang lain. Yesus hendak mengajak kita untuk berpikir bagaimana orang dapat sungguh mendapat kehormatan di mata-Nya dan menjadi tinggi di dalam pandangan-Nya, bukan besar di mata sendiri atau di muka manusia, namun bagaimana hidupnya dapat menjadi sarana berkat bagi banyak orang.


Sumber : Buku Renungan Harian APP 2021
Panitia KAS