Renungan Harian Prapaskah IV

15 Maret 2021
Senin Prapaska 4

“…Jika kamu tidak melihat tanda dan mukjizat, kamu tidak percaya” (Yoh 4:48b)

Kutipan sabda yang kita dengarkan hari ini adalah bagian dari kisah seorang pegawai istana Herodes Antipas yang tinggal di Kapernaum yang datang kepada Yesus karena telah melihat banyak mukjijat penyembuhan yang dilakukanNya. Kedatangannya kepada Yesus tidak lain adalah untuk memohon rahmat kesembuhan bagi anaknya yang sedang sakit dan hampir mati. Kisah ini tidak hanya berhenti pada kisah penyembuhan dan iman seseorang kepada Yesus, namun juga menegaskan peran penting seseorang yang membawa semakin banyak orang sampai pada pengalaman disapa, diteguhkan, dan mendapat rahmat kesembuhan dari Tuhan.

Marilah sekarang kita melihat sekitar kita. Adakah orang-orang sakit, orang-orang yang kesepian, kesulitan, dan butuh perhatian serta sapaan kita? Sebagai pengikut Kristus, sudahkah kita berbuat sesuatu, minimal mendoakan, menyapa, meneguhkan, dan memberi perhatian kepada mereka? Syukur-syukur bila sapaan dan perhatian kita, apapun bentuknya, sesederhana apapun yang bisa kita lakukan, mampu merengkuh hati mereka dan membawa mereka sampai pada sapaan dan karya keselamatan Tuhan. Seperti pegawai istana tersebut, semoga kita juga tidak berhenti hanya pada kekaguman akan rahmat yang Tuhan berikan kepada kita, namun juga membawa semakin banyak orang tersapa oleh kemurahan kasihNya.


 

16 Maret 2021
Selasa Prapaska 4

“Yesus berkata kepadanya : ”Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah” (Yoh 5:8)

Hari ini, kita kembali diajak merenungkan kisah mukjizat penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus, yaitu terhadap seorang yang lumpuh dan selama 38 tahun memohon rahmat kesembuhan di tepi kolam Bethesda. Perjumpaan dengan Yesus pada akhirnya menggerakkan hatiNya untuk menyembuhkannya. Dalam hal ini, peristiwa sakit menjadi sarana untuk mengalami perjumpaan dan rahmat dari Tuhan. Persoalannya adalah banyak dari kita merasa bahwa rahmat Tuhan hanya terjadi dalam kotak saat kita sehat, berhasil, dan dalam peristiwa-peristiwa lain yang menyenangkan bagi kita. Namun demikian, seringkali justru pada saat kita sehat, gembira dan berhasil, kita lupa pada Tuhan. Dan sebaliknya, saat kita sungguh terpuruk, sakit, gagal, kita baru ingat dan berseru memohon kepada Tuhan.

Dari kutipan sabda hari ini, kita dapat merenungkan apakah selama ini kita juga tidak sadar telah sekian lama mengalami kelumpuhan rohani sedemikian hingga sulit menemukan dan bersyukur bahwa Tuhan sungguh hadir menyertai, dan berkarya dalam perjalanan hidup kita. Sejauh manakah perjumpaan dengan Tuhan telah kita alami? Mungkin bukan kita yang mencari dan menemukan Tuhan, tetapi membuka diri agar Tuhan sendirilah yang mencari dan menemukan kita


17 Maret 2021
Rabu Prapaska 4

“Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah” (Luk 1: 30b)

Warta kabar Gembira Malaikat Gabriel kepada Maria menjadi permenungan kita hari ini. Jika kita mencecap sabda lebih dalam maka akan tampak bahwa warta gembira bukan melulu sesuatu yang mudah melainkan sebuah perjuangan yang disertai pergulatan. Malaikat Gabriel menyampaikan “jangan takut”. Jangan takut menjadi sapaan kepada Maria supaya tidak risau, cemas dan takut menanggapi kehendakAllah.

Sebagai manusia biasa kita tidak pernah lepas dari rasa takut. Kita bisa mengalami ketakutan akan masa depan, karir, kesehatan, jodoh, ekonomi, dll. Kita perlu belajar dari Maria yang menghilangkan rasa takutnya demi mewujudkan kehendak Allah. Maria dapat menghilangkan rasa takut dengan berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Kita sebagai umat Katolik perlu meneladan keberanian Maria sekaligus melibatkanAllah dalam hidupnya.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk belajar tidak takut akan segala hal dan dengan terbuka melibatkan Allah dalam setiap langkah dan pergulatan hidup kita. Ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran hanya muncul ketika kita kurang percaya akan karya Allah yang senantiasa menyertai. Jangan takut.


18 Maret 2021
Kamis Prapaska 4

“Kalau Aku bersaksi tentang diriKu sendiri, maka kesaksianKu itu dak benar” (Yoh 5:31)

Majunya peradaban sebuah bangsa ditentukan dengan budaya yang dihidupinya. Misalnya saja negara Singapura memiliki budaya tertib, sehingga berbagai pelayanan umum dapat berjalan dengan lancar. Lain pula dengan bangsa Yahudi yang memiliki budaya untuk menghidupi warisan nilai-nilai hukum dan rohani dari nenek moyang, sehingga menciptakan masyarakat yang taat hukum dan agama. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Jawabannya dapat kita lihat dari pola hidup kita masing-masing.

Salah satu persoalan serius zaman sekarang adalah hoaks. Hoaks atau berita bohong dapat dengan mudah dialami oleh bangsa Indonesia. Mungkin saja dikarenakan bangsa Indonesia kurang memiliki budaya membaca. Inilah yang menyebabkan masyarakat dengan mudah menerima segala informasi sebagai kebenaran tanpa meninjau atau mengecek kebenarannya.

Istilah hoaks mungkin menjadi pola pemikiran dari bangsa Yahudi dan Farisi yang tidak percaya terhadap warta yang diberitakan oleh Kristus. Segala perkataan, pikiran, perasaan dan tindakan yang dilakukan Kristus berasal dari Allah. Oleh karena itu, jika kita percaya pada Kristus maka kita pun sedang beriman pada Allah Tritunggal. Nah, marilah kita meneladan Kristus sebagai pewarta kebenaran. Sudahkah ucapan, perbuatan, dan tingkah laku kita adalah sebuah kebenaran?


 

19 Maret 2021
Jumat Prapaska 4
Hari Pantang

“Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku” (Yoh 7:29)

Kristus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Prapaskah menjadi kesempatan untuk melihat realitas Allah dan manusia yang hadir dalam diri Yesus. Kemanusiaan Yesus ditampakkan dengan semangat solidaritasnya bahkan rela mengalami sengsara, dan wafat. Itulah realitas kemanusiaan. Namun, karena Yesus adalah Allah, Ia pun tidak kalah dengan kuasa maut, melainkan bangkit demi menyelamatkan seluruh umat manusia. Yesus kita kenali sebagai Putra Allah yang datang dari Bapa. Ia diutus datang ke dunia untuk menebus seluruh kemanusiaan kita, sehingga nantinya kita layak diangkat dalam keAllahannya. Nah, kita sebagai manusia dapat belajar dari Allah yang mempribadi menjadi manusia: Ia yang adalah Allah, berkenan untuk menjadi manusia, mengapa kita sebagai manusia kerap kali bertindak sebagaiAllah?

Allah hadir di dunia menggunakan bahasa manusia, supaya mampu berkomunikasi dan membawa kembali manusia kepada Allah. Nah, mengapa kita sebagai manusia kerap kali memandang diri lebih suci dari sesama. Kita mungkin lebih senang menggunakan bahasa roh, doa yang panjang-panjang atau pun memiliki kesombongan rohani karena memiliki agenda padat untuk ziarah ke berbagai macam tempat daerah. Namun, jangan sampai dilupakan semangat solidaritas kepada sesama yang menderita. Yesus yang adalah Allah saja mau hadir untuk solider terhadap yang menderita, lalu bagaimana dengan kita?

Marilah kita mengenal keallahan Kristus melalui Ekaristi, sakramen dan doa-doa sekaligus mengenal kemanusiaan Yesus dengan hadir dan solider terhadap sesama yang menderita.


20 Maret 2021
Sabtu Prapaska 4

“Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia” (Yoh 7:43)

Menjadi Katolik itu tidak mudah. Kita harus ikut pelajaran untuk persiapan menerima sakramen, begitu banyak kegiatan menggereja seperti koor, parkir, dewan paroki, OMK, prodiakon, misdinar, lektor dll. Itulah gambaran sebagai orang Katolik. Berbagai kepengurusan dan kegiatan Gereja menjadi sarana bagi kita untuk mengembangkan iman dan pelayanan kekatolikan. Hal yang menjadi keprihatinan yakni ketika orang tidak mau terlibat dalam berbagai macam kegiatan Gereja. Misalnya saja orang hanya cukup mengikuti Ekaristi tanpa mau mengikuti dinamika pelayanan Gereja. Bukankah itu keegoisan rohani?

Mengapa menjadi katolik tidak mudah? Hal ini dikarenakan begitu banyak pertentangan dalam diri kita untuk menghidupi kekatolikan. Selalu saja ada alasan untuk menolak dalam pelayanan Gereja, misalnya saja beban keluarga, studi, jarak yang jauh dari rumah dengan Gereja dll. Begitu banyak alasan keegoisan diri yang kerap kali ditutupi dengan tipuan-tipuan halus yang membuat orang lain lalu memakluminya.

Prapaskah sudah memasuki pekan keempat marilah kita merenungkan perjalanan iman kita; sudahkah kita menjalankan aksi puasa dan pantang? sudahkan kita menjalankan devosi jalan salib? Semoga masa prapaskah ini menjadi kesempatan untuk mendamaikan segala pertentangan yang kerap kali hadir dalam hati kita.


Sumber : Buku Renungan Harian APP 2021
Panitia KAS