Renungan Harian Prapaskah V

Jesus Christ Church Christianity Lent Cruz Jesus

Senin Prapaska 5
22 Maret 2021

“…Akupun dak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai sekarang” (Yoh 8:11)

Kutipan sabda hari ini sungguh menarik dan mengingatkan kita bahwa di antara kita mungkin ada yang sungguh merasa puas dan senang bila dapat menemukan kesalahan orang lain dan selanjutnya beramai-ramai menghakimi dan menghukumnya. Bahkan terhadap orang yang berseberangan dengan diri kita, walaupun tidak bersalah, barangkali kita pun sering berusaha untuk mencari-cari kesalahannya. Kadang kita lupa atau tidak peduli bahwa kita pun tidak luput dari ketidak sempurnaan dan kesalahan, bahkan mungkin jauh lebih besar dan berat dari orang lain yang ingin kita persalahkan. Itulah yang terjadi dalam diri orang-orang yang menghadapkan kepada Yesus seorang perempuan yang kedapatan berzinah.

Kita pun diingatkan hal yang sama, yakni bagaimana kita mesti mengambil sikap akan kelemahan dan dosa-dosa kita dan bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap orang-orang yang bersalah. Seperti Yesus, marilah kita belajar untuk memiliki hati yang penuh belas kasih dan pengampunan supaya kita pun tidak melulu hanya menghakimi dan menghukum kesalahan, namun mampu membantu siapa pun untuk memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga rahmat kerahiman Tuhan sungguh kita syukuri selama masa Prapaskah ini dan menggerakkan kita untuk dengan rendah hati memohon rahmat pengampunan melalui sakramen tobat serta layak mendengar Yesus yang bersabda kepada kita, “Aku pun tidak menghukum engkau, pergilah dan jangan berbuat dosa lagi”.


 

Selasa Prapaska 5
23 Maret 2021

“… Jikalau kamu dak percaya bahwa Akulah Dia, kamu akan ma dalam dosamu” (Yoh 8:24b)

Kutipan sabda hari ini mengingatkan kita bahwa perjalanan mengikut Yesus adalah perjalanan menjadi murid Kristus yang membutuhkan komitmen. Beriman kepada Yesus berarti menaruh kepercayaan sekaligus membangun komitmen menjalankan kehendak-Nya. Inilah tantangan bagi kita pada zaman ini: di tengah banyak hal yang menggerus iman dan kebanggaan sebagai pengikut Kristus, sanggupkan kita untuk bangga dan membangun semangat radikalisme kemuridan? Bukankah Yesus juga pernah bersabda, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”?

Radikalisme kemuridan yang pertama nampak dalam keberanian untuk menyangkal diri. Dengan keutamaan ini, kita diundang untuk senantiasa mawas diri terhadap hasrat ingin menonjolkan diri, dipuji dan dihormati. Sebaliknya, penyangkalan diri memampukan seseorang untuk rendah hati necep, neges, lan ngemban dhawuh Dalem Gusti. Radikalisme kemuridan kedua yaitu memikul salib. Setiap pengikut Kristus mesti bangga dipercaya untuk memikul salib setiap hari. Salib bukanlah beban atau kutuk, melainkan anugerah penyerahan diri. Di dalamnya terbentuk karakter hidup kita agar belajar menjadi serupa dengan Kristus di dalam ketaatan, kesetiaan dan pengorbanan. Radikalisme kemuridan yang ketiga adalah mengikut Kristus, yaitu membiarkan Dia yang menjadi pemimpin, pengarah dan penuntun hidup kita. Tak mudah tetapi murid harus belajar ikut seorang guru kepada apa yang guru inginkan, ke mana saja dan apa saja. Kalau kita masih mau mengikut kemauan dan keinginan serta kehendak kita maka sebenarnya kita bukanlah murid, tetapi kita hanya pengaku-ngaku kalau kita adalah murid.


 

Rabu Prapaska 5
24 Maret 2021

“… dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32)

Menarik untuk merenungkan Injil hari ini terkait dengan kebenaran dan kemerdekaan. Lalu apa yang dimaksud dengan kebenaran dan kemerdekaan? Kebenaran dalam konteks ini ditujukkan pada pribadi Yesus sebagai satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup. Jikalau kita mengikuti ajaran-Nya yang telah tertuang dalam Injil serta dengan hening mendengarkan dan menjalankan kehendak Roh Kudus maka kita hidup dalam kebenaran akan Kristus. Sedangkan kemerdekaan lebih dimaksudkan pada lepas dari perbudakan dosa, roh jahat, hawa nafsu, ketamakan dll.

Masa prapaskah menjadi kesempatan yang berharga untuk menyadari “rasa lekat tak teratur” yang sering kali membuat kita mudah jatuh dalam dosa (yang sama) dan jauh dari Tuhan. Mungkin saja kita lebih memilih hidup dalam hawa nafsu, keserakahan, kesombongan, ketamakan, penipuan dll. Itu gambaran belenggu dosa yang membuat kita tidak merdeka sebagai anak-anak Allah. Masa prapaskah bukan hanya untuk melihat segala kelemahan dan dosa kita. Akan tetapi sebagai jalan untuk kembali pada Tuhan. Kesadaran akan dosa dan membangun pertobatan menjadi langkah untuk menghidupi kebenaran dan kemerdekaan akan Kristus.


 

Kamis Prapaska 5
25 Maret 2021

“Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya barangsiapa menuru FirmanKu, ia dak akan mengalami maut sampai selama-lamanya” (Yoh 8:51)

Di tengah hiruk pikuknya media sosial sekarang ini, ditengarai bahwa banyak orang cenderung ingin menjadi terkenal melalui konten- konten yang mereka bawa di Facebook, Instagram, Twitter, maupun Youtube. Sebagian konten yang disajikan dalam media sosial merupakan konten-konten bermutu dan bermanfaat bagi kehidupan. Namun tidak jarang pula, kita jumpai konten-konten yang sekedar berisi pamer kekayaan, prank, gosip dll. Dengan kata lain, sebagian konten yang hiruk pikuk di jagad maya alih-alih menyajikan manfaat bagi banyak orang, justru membawa pengaruh buruk bagi banyak orang.

Kutipan sabda hari ini, menegaskan kepada kita sebagai orang beriman bagaimana semestinya hidup kita selaras dengan kehendak Tuhan sebagaimana dapat kita cecap melalui FirmanNya. Sebagai orang kristiani, sudahkah kita berusaha mendarah dagingkan sabda Tuhan dalam diri dan pergulatan hidup kita? Bagaimana selama ini sabda Tuhan sungguh telah menjadi pegangan hidup, inspirasi, dan yang menuntun kita pada kedalaman hidup? Sebagai orang beriman, apakah Tuhan sungguh telah menjadi idola dan panutan hidup kita? Atau justru sebaliknya, kita masih menjadi pribadi yang kurang akrab dengan sabda Tuhan?

 


 

Jumat Prapaska 5
26 Maret 2021
Hari pantang

“Jikalau Aku tidak mengerjakan pekerjaan- pekerjaan Bapaku, janganlah percaya kepadaKu” (Yoh 10:37)

Konteks Injil hari ini berbicara tentang bangsa Yahudi yang tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah. Dapat dikatakan pula bahwa bangsa Yahudi menolak kehadiran Yesus. Yesus pun memberikan pembelaan diri dengan menyatakan bahwa seluruh yang Ia kerjakan sungguh berasal dari Allah. Kehadiran Yesus di tengah bangsa Yahudi tidak luput dari segala bentuk kritik dan ketidakpercayaan. Namun, pilihan Yesus untuk mewartakan Kerajaan Allah jauh lebih agung daripada mencari pujian atau pun keagungan diri.

Pesan Injil hari ini yang dapat kita hayati ialah berani menerima kritik dari orang lain. Pengalaman hidup banyak orang menunjukkan bahwa menerima kritik bukanlah hal yang mudah. Kerap kali kita menolak atau menjadi pribadi yang anti kritik. Argumen yang biasa kita pergunakan untuk melawan kritik yakni “Saya itu yang benar, justru orang lain yang keliru menilai atau mengkritik saya”. Memang menerima kritik itu tidak mengenakan bagi diri, tetapi marilah kita belajar dari Yesus untuk berani menerima segala kritik bahkan penolakan. Ketika kritik menghampiri kita diperlukan kedewasaan diri untuk menerima sekaligus memperbaiki diri menjadi lebih baik.

Kritik terhadap Yesus ternyata semakin menggerakkan-Nya untuk menghadirkan pekerjaan-pekerjaan Bapa. Oleh karena itu, jika kita menerima kritik dibutuhkan keberanian untuk melakukan perbuatan yang baik bukan malah menjadi pribadi yang pendendam dan dengki terhadap sesama.


 

Sabtu Prapaska 5
27 Maret 2021

“… lebih berguna bagimu jika satu orang ma untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa” (Yoh 11:50)

Injil Yohanes menunjukkan pengurbanan Yesus demi keselamatan umat manusia. Pengurbanan Yesus sekali dan untuk selamanya. Salib simbol kehinaan ternyata menjadi tanda kemuliaan bagi Yesus. Dalam hidup kita sehari-hari pengurbanan dapat dengan mudah dijumpai. Misalnya saja seorang ibu yang rela tidak makan supaya jatah makannya dapat dikonsumsi oleh anaknya. Atau ketika salah seorang yang rela mendonorkan darah demi kesembuhan seorang pasien. Pengurbanan menjadi hal yang sangat berharga terkhusus bagi mereka yang kita cintai.

Pengurbanan Yesus ditujukan kepada seluruh umat manusia, baik yang jahat maupun yang baik. Berbeda dengan kita yang hanya berkenan berkurban kepada mereka yang baik atau kita cintai. Lain halnya jika kita harus berkurban untuk mereka yang membenci atau pun tidak kita kenali. Tentu saja, terdapat rasa enggan untuk berkurban.

Pesan Injil hari ini dapat kita hayati sebagai wujud kerelaan kita untuk berkurban bagi sesama kita. Pengurbanan tidak perlu hal-hal yang heroik atau pun besar melainkan pula melalui pengurbanan sederhana. Misalnya, memberi waktu untuk keluarga, memberi perhatian untuk tetangga yang berkesusahan, dll. Bunda Teresa pernah mengatakan, “Tidak semua orang dapat melakukan hal yang besar namun setiap orang dapat melakukan hal kecil dengan cinta yang besar.”


Sumber : Buku Renungan Harian APP 2021
Panitia KAS