Yusup, Suami Bunda Maria, Penolong di masa pandemi

Bulan Mei, para pemerhati LENTERA, dikhususkan oleh Gereja Katolik untuk bina devosi kepada Bunda Maria. Melaui LENTERA kali ini sengaja perhatian digeser sedikit, bukan pada Bunda Maria tetapi pada Santo Yusup. Ada dua hal yang bisa kita pelajari dari pribadi Santo Yusup ini.

Yusup, impian hidup beriman
Pertama-tama harus dikatakan bahwa mencoba menyimak hidup dan sumbangsih Santo Yusup, bahwa pribadi ini adalah sosok warga “biasa” dari masyarakat setempat. Sama seperti kita di zaman ini sebagai warga masyarakat biasa. Santo Yusup ini agaknya jauh dari pusat perhatian; kalaupun tetangga memberi perlakuan kuarang baik kepadanya, St. Yusup tetap sabar. Ia tetap memiliki alasan untuk ber-peng-harapan setiap hari. Kita pun dapat membayangkan bahwa pribadi ini adalah warga “yang kehadirannya sehari-hari tidak diperhatikan, bijaksana dan tersembunyi”, yang meskipun demikian memainkan “peran yang tak tertandingi dalam sejarah keselamatan”. Mengapa? Karena St. Yusup secara yuridis adalah suami Bunda Maria.

Kisah dalam Kitab Suci yang memberi sedikit penurutan mengenai hal ini ada dalam Matius 1, : Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. . . . Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya.”

Kutipan ini dengan amat jelas memberi landasan terhadap mutu pribadi ini; sekaligus perannya bagi Bunda Maria di hadapan hukum masyarakat Yahudi.

Kalau kemudian soal mimpi Yusup menjadi jalan beriman baginya, marilah kita pun bermimpi. Mimpi macam apa? Bermimpi kita boleh menjadi pribadi beriman yang mempu mnampilkan sikap iman itu dalam perilaku hidup baik, khususnya . . .” di dalam dia (baca Santo Yuup) , Tuhan Yesus melihat kasih Allah yang lembut”, yang membantu kita menerima kelemahan kita, karena “melalui” dan terlepas dari “ketakutan kita, kerapuhan kita, dan kelemahan kita,” sebagian besar rencanan ilahi terwujud. “Hanya kasih yang lembut yang akan menyelamatkan kita”, (Patris corde no.4).

Memilih hidup hening
Santo Yosef, pada kenyataannya, tampil sebagai pribadi yang hatinya condong taat pada kehendak Allah. Di antaranya lewat kutipan Kitab Suci di atas, Santo Yosef, seolah-olah Allah berbagi pengalaman kepada kita : “Jangan takut!” karena “iman memberi makna pada setiap peristiwa, entah gembira maupun sedih”, dan membuat kita sadar bahwa “Allah dapat membuat bunga bermunculan dari tanah berbatu”. Santo Yosef “tidak mencari jalan pintas tetapi menghadapi kenyataan dengan mata terbuka dan secara pribadi bertanggung jawab terhadap kenyataan tersebut”. Karena permasalahan hidup yang harus dihadapinya itu, ia bersedia membawa problem hidupnya itu dalam hidup-hening. Pastilah persoalan itu dibawa kedalam hening hidup batin yang mengungkapkan kecondongan hatinya pada kehendak Allah.

Kenyataan bahwa masalah hidup terbawa dalam mimpi dan Allah menyatakan kehendakNYA, itu pertanda jelas bahwa ia memiliki irama hidup-hening. Hidup yang tidak disibukkan dengan soal pekerjaan, masalah pribadi, berita-berita yang bersliweran di tengah masyarakat, memampukan St. Yusup dengan jernih melihat permasalahannya itu dan menentukan sikap atau langkah yang tepat. Itulah buah dari hidup-hening St. Yusup. Bagaimanakah dengan ANDA sekalian?

Mari kita tutup renungan singkat ini dengan mengutip doa Paus Fransiskus berikut ini :
Salam, Penjaga Sang Penebus,
Mempelai Santa Perawan Maria.
Kepadamu Allah mempercayakan Putra-Nya yang tunggal;
di dalam dirimu Maria menaruh kepercayaannya;
bersamamu Kristus menjadi manusia.
Santo Yosef, kepada kami juga,
perlihatkan dirimu seorang bapa
dan bimbing kami di jalan kehidupan.
Perolehkan bagi kami rahmat, belas kasih, dan keberanian,
serta lindungi kami dari setiap kejahatan. Amin

Sragen, 25 April 21
M Sapta Margana