Berbagi Roti di musim Pandemi

(Renungan :Yoh 6:24-35)

Para saudara dan saudari yang terkasih, situasi pandemic telah memporakporandakan berbagai sisi kehidupan. Ekonomi, Sosial, politik, keagamaan dan kemasyarakatan, serta pola dan gaya hidup. Banyak orang yang kesulitan karena PPKM darurat yang membatasi gerak para pedagang kecil, bahkan ada pedagang yang harus adu mulut dan adu fisik dengan para petugas. Para petugas hendak melaksanakan tugasnya untuk membatasi gerak agar virus covid 19 tidak menyebar, semantara para pedagang harus tetap membuka warungnya demi kelangsungan hidup dan makan seluruh anggota keluarganya. Bahkan terlontar dari mulut mereka kepada para petugas “siapa yang akan membayar token listrik kami? Siapa yang akan memberi makan anak anak kami? Dst. Situasi dan pilihan yang tidak mudah pada zaman ini. Karena kesulitan ekonomi yang menjerat banyak orang mudah tersulut api amarah, benci dan dendam, bersungut-sungut kepada sesame dan Tuhan.

Mungkin gambaran ini mirip seperti dalam Bacaan Kel. 16:2-4.12-15: “Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaat Israel kepada Musa dan Harun, dan berkata kepada mereka. “Ah kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan Tuhan Ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang”. Mereka lebih memilih menderita dijajah tetapi masih bisa makan dan minum daging dan roti sampai kenyang dari pada harus menderita kelaparan di padang Gurun. Situasi zaman inipun terjadi kurang lebih sama, mereka lebih memilih untuk tidak takut resiko covid 19 dan tetap beraktivitas demi sesuap nasi, mengisi perut yang kosong, membayar listrik, uang sekolah dll. Situasi yang kurang lebih sama dengan situasi sekarang yakni di antara dua pilihan yang tidak mudah.

Ada tiga hal yang dapat kita renungkan dalam pilihan sulit ini:

Pertama, Hidup setia dan taat di hadirat Tuhan maka Tuhan akan memberikan rahmatNya tepat pada waktunya. Situasi yang sulit sering membuat orang jatuh dalam ketidaksetiaan dan ketidaktaatan. Pasangan suami isteri nampaknya Bahagia, setia gembira dalam situasi yang nyaman dan indah, tetapi Ketika badai menghadang, cobaan berat atau salah satu pasangan sudah mulai aneh aneh dan tidak setia, maka dapat menghancurkan kesetiaan hidup berkeluarga. Para frater, bruder, suster romo Ketika semuanya lancar dan baik dengan mudah akan setia, akan tetapi Ketika badai dan cobaan datang, kering melanda dan ujian berat, bisa juga jatuh dalam ketidaktaatan dan ketidaksetiaan. Dalam situasi padang Gurun Covid 19 kita diundang untuk taat dan setia. Taat dan setia kepada Tuhan. Apakah kita juga setia kepada dia yang maha setia? Setia dalam doa? Setia dalam ekaristi online? Setia untuk membangun relasi pribadi dengan Tuhan dalam kemendalaman hidup? Sebab Tuhan bersabda “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu, maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka kucoba , apakah mereka hidup menurut hukumKu atau tidak”.

Kedua, Hidup dengan pola baru. Pandemic co 19 telah menuntut kita semua hidup dalam pola baru. Gaya hidup baru dengan menerapkan pola hidup sehat, memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak tetap beraktivitas dengan life style yang baru. Ketika semua kegiatan Work From Home, kegiatan daring, perjumpaan on line, belanja online, kegiatan keagamaan online, kita perlu menyesuaikan diri dengan semua itu dan ikut di dalamnya untuk mewartakan Kristus dengan cara baru pula. Apakah aku juga mewartakan Kristus Ketika aku sedang online? Apakah aku juga berjumpa Kristus dalam Internet? Ketika dunia menawarkan berbagai macam pilihan dan tawaran menggiurkan, apakah masih ada Kristus di sana? Lebih dari semua itu apakah aku hidup dalam kebenaran dan kekudusan dalam jejaring sosial zaman ini? Kita diundang untuk tetap mewartakan Kristus dalam cara cara baru melalui jejaring sosial yang ada namun terlebih hidup dalam kebenaran dan kekudusan. “hendaklah kamu mengenakan manusia-baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah, hendaklah kamu hidup di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya”.

Ketiga, Dalam situasi yang sulit, kita diundang untuk Kembali kepada sang Roti Hidup. Di tengah situasi pandamik ini ternyata masih ada yang dapat kita perbuat, yakni berbagi roti. Ada sebuah Gerakan di sebuah paroki, dengan cara membeli nasi bungkus diwarung warung kecil. Lalu di situ ditulis “makan siang gratis” mereka siapkan 1000 (seribu) porsi makanan dan beberapa warung kecil. Tujuannya ada dua, yakni pertama membantu para pedagang agar dagangannya laris sehingga roda kehidupan mereka dapat berjalan, kedua untuk membantu warga yang benar benar tidak bisa makan karena situasi yang sulit sehingga mereka tetapi bisa makan gratis. Gerakan yang sungguh luar biasa mereka buat karena mereka sadar bahwa pentingnya semangat berbagi. Berbagi roti berbagi hidup. Kesadaran bahwa hidup ini hanya sementara menggerakkan mereka untuk berbagi roti. Dengan berbagi makanan mereka juga berbagi kehidupan. Itulah Kembali kepada sang roti hidup yakni berbagi, kasih, cinta dan kehidupan. Dengan berbagi roti kita berbagi kehidupan kepada saudara-saudari kita yang membutuhkan sebab Yesus bersabda “Akulah roti hidup, barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi”. Untuk kita renungkan, apakah aku juga rela berbagi kepada saudara-saudari kita yang membutuhkan? Berbagi roti, berbagi ilmu, berbagi ketrampilan, berbagi waktu, berbagi tempat, berbagi kehidupan? Karena kasih mengundang kita untuk berbagi.

LOVE is Giving!
Marilah berdoa: Ya Tuhan kami bersyukur atas kasihMu. Kehidupan dan Kesehatan yang kami terima sampai hari ini. Berkatilah mereka yang sedang sakit di musim pandemic ini dan berkatilah kami yang sehat agar terbuka hati kami untuk berbagi roti, berbagi hidup kepada mereka yang membutuhkan. Demi Kristus Tuhan kami.